Kapan Terakhir Kamu Berbicara Dengan Orang Tuamu?
Suatu hari seorang teman saya pergi ke rumah orang
jompo atau lebih terkenal dengan sebutan panti werdha
bersama dengan eman-temannya.
Kebiasaan ini mereka lakukan untuk lebih banyak
mengenal bahwa akan lebih membahagiakan kalau
kita bisa berbagi pada orang-orang yang kesepian
dalam hidupnya. Ketika teman saya sedang berbicara
dengan beberapa ibu-ibu tua tiba-tiba mata teman saya
tertumpu pada seorang opa tua yang duduk menyendiri
sambil menatap kedepan dengan tatapan kosong.
Lalu sang teman mencoba mendekati opa itu dan
mencoba mengajaknya berbicara. Perlahan tapi
pasti sang opa akhirnya mau mengobrol dengannya
sampai akhirnya si opa menceritakan kisah hidupnya.
Si opa memulai cerita tentang hidupnya sambil
menghela napas panjang.
Sejak masa muda saya menghabiskan waktu
saya untuk terus mencari usaha yang baik untuk
keluarga saya, khususnya untuk anak-anak yang
sangat saya cintai.
Sampai akhirnya saya mencapai puncaknya
imana kami bias tinggal dirumah yang sangat
besar dengan segala fasilitas yang sangat bagus.
Demikian pula dengan anak-anak saya, mereka
semua berhasil sekolah sampai keluar negeri
dengan biaya yang tidak pernah saya batasi.
Akhirnya mereka semua berhasil dalam sekolah
juga dalam usahanya dan juga dalam berkeluarga.
Tibalah dimana kami sebagai orangtua merasa
sudah saatnya pensiun dan menuai hasil panen kami.
Tiba-tiba istri tercinta saya yang selalu setia menemani
saya dari sejak saya memulai kehidupan ini meninggal
dunia karena sakit yang sangat mendadak.
Lalu sejak kematian istri saya tinggallah saya hanya
dengan para pembantu kami karena anak-anak kami
semua tidak ada yg mau menemani saya karena
mereka sudah mempunyai rumah yang juga besar.
Hidup saya rasanya hilang, tiada lagi orang yang mau
menemani saya setiap saat saya memerlukannya.
Tidak sebulan sekali anak-anak mau menjenguk
saya ataupun memberi kabar melalui telepon. Lalu
tiba-tiba anak sulung saya datang dan mengatakan
kalau dia akan menjual rumah karena selain tidak
effisien juga toh saya dapat ikut tinggal dengannya.
Dengan hati yang berbunga saya menyetujuinya
karena toh saya juga tidak memerlukan rumah besar
lagi tapi tanpa ada orang-orang yang saya kasihi
di dalamnya. Setelah itu saya ikut dengan anak saya
yang sulung. Tapi apa yang saya dapatkan?
Setiap hari mereka sibuk sendiri-sendiri dan
kalaupun mereka ada dirumah tak pernah sekalipun
mereka mau menyapa saya. Semua keperluan saya
pembantu yang memberi. Untunglah saya selalu
hidup teratur dari muda maka meskipun sudah tua
saya tidak pernah sakit-sakitan.
Lalu saya tinggal dirumah anak saya yang lain.
Saya berharap kalau saya akan mendapatkan
sukacita idalamnya, tapi rupanya tidak. Yang lebih
menyakitkan semua alat-alat untuk saya pakai
mereka ganti, mereka menyediakan semua peralatan
dari kayu dengan alasan untuk keselamatan saya
tapi sebetulnya mereka sayang dan takut kalau saya
memecahkan alat-alat mereka yang mahal-mahal itu.
Setiap hari saya makan dan minum dari alat-alat
kayu atau plastik yang sama dengan yang mereka
sediakan untuk para pembantu dan anjing mereka.
Setiap hari saya makan dan minum sambil
mengucurkan airmata dan bertanya dimanakah hati
nurani mereka? Akhirnya saya tinggal dengan anak
saya yang terkecil, anak yang dulu sangat saya
kasihi melebihi yang lain karena dia dulu adalah
seorang anak yang sangat memberikan kesukacitaan
pada kami semua. Tapi apa yang saya dapatkan?
Setelah beberapa lama saya tinggal disana
akhirnya anak saya dan istrinya mendatangi
saya lalu mengatakan bahwa mereka akan
mengirim saya untuk tinggal di panti jompo
dengan alasan supaya saya punya teman untuk
berkumpul dan juga mereka berjanji akan selalu
mengunjungi saya.
Sekarang sudah 2 tahun saya disini tapi tidak
sekalipun dari mereka yang datang untuk
mengunjungi saya apalagi membawakan makanan
kesukaan saya. Hilanglah semua harapan saya
tentang anak-anak yang saya besarkan dengan
segala kasih sayang dan kucuran keringat. Saya
bertanya-tanya mengapa kehidupan hari tua saya
demikian menyedihkan padahal saya bukanlah
orangtua yang menyusahkan, semua harta saya
mereka ambil.
Saya hanya minta sedikit perhatian dari mereka
tapi mereka sibuk dengan diri sendiri. Kadang
saya menyesali diri mengapa saya bisa mendapatkan
anak-anak yang demikian buruk. Masih untung disini
saya punya teman-teman dan juga kunjungan dari
sahabat-sahabat yang mengasihi saya tapi tetap
saya merindukan anak-anak saya.
Sejak itu teman saya selalu menyempatkan diri
untuk datang kesana dan berbicara dengan sang opa.
Lambat laun tapi pasti kesepian di mata sang opa
berganti dengan keceriaan apalagi kalau sekali-sekali
teman saya membawa serta anak-anaknya untuk
berkunjung. Sampai hatikah kita membiarkan para
orangtua kesepian dan menyesali hidupnya hanya
karena semua kesibukan hidup kita. Bukankah suatu
haripun kita akan sama dengan mereka, tua dan kesepian ?
Readmore »»
Friday, May 30, 2008
Si Tukang Kayu Tua
Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari
pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi real
estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut
pada pemilik perusahaan. Ia ingin beristirahat dan
menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian
bersama istri dan keluarganya.
Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan
salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon
pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah
rumah untuk dirinya. Tukang kayu mengangguk
menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan
itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin
segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan.
Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu.
Ia cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya.
Akhirnya selesailah rumah yang diminta oleh tuannya.
Hasilnya bukanlah sebuah rumah yang baik. Sungguh
sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi
yang tidak begitu mengagumkan. Ketika pemilik
perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya,
ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu.
'Ini adalah rumahmu, ' katanya, 'hadiah dari kami.'
Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan
menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa
ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya
sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara
yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah
rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.
Teman, itulah yang terjadi pada kehidupan kita.
Kadangkala, banyak dari kita yang membangun
kehidupan dengan cara yang membingungkan
dan kurang bertanggung jawab.Lebih memilih
berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan
yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting
dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik.
Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa
yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita
hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan
sendiri. Seandainya kita menyadarinya sejak semula
kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh
berbeda.
Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu.
Renungkan 'rumah' yang sedang kita bangun.
Setiap hari kita memukul paku, memasang papan,
mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan
'rumah' kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah
hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup. Readmore »»
pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi real
estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut
pada pemilik perusahaan. Ia ingin beristirahat dan
menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian
bersama istri dan keluarganya.
Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan
salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon
pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah
rumah untuk dirinya. Tukang kayu mengangguk
menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan
itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin
segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan.
Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu.
Ia cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya.
Akhirnya selesailah rumah yang diminta oleh tuannya.
Hasilnya bukanlah sebuah rumah yang baik. Sungguh
sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi
yang tidak begitu mengagumkan. Ketika pemilik
perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya,
ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu.
'Ini adalah rumahmu, ' katanya, 'hadiah dari kami.'
Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan
menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa
ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya
sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara
yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah
rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.
Teman, itulah yang terjadi pada kehidupan kita.
Kadangkala, banyak dari kita yang membangun
kehidupan dengan cara yang membingungkan
dan kurang bertanggung jawab.Lebih memilih
berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan
yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting
dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik.
Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa
yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita
hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan
sendiri. Seandainya kita menyadarinya sejak semula
kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh
berbeda.
Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu.
Renungkan 'rumah' yang sedang kita bangun.
Setiap hari kita memukul paku, memasang papan,
mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan
'rumah' kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah
hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup. Readmore »»
Berita Terbaik
Suatu ketika Roberto De Vincenzo, seorang
pemain golf Argentina yang terkenal itu
memenangkan sebuah turnamen golf profesional
yang berhadiah uang dalam jumlah besar.
Setelah menerima hadiahnya dan penuh senyum
di depan kamera para wartawan ia bergegas
berjalan menuju club house dan bersiap-siap
untuk pulang.
Saat berjalan menuju mobilnya, ia dihampiri
oleh seorang wanita dan wanita itu memberikan
salam ucapan selamat kepadanya atas
kemenangan yang ia raih seraya mengatakan
kepadanya bahwa bayinya tengah mengalami
sakit keras dan kondisinya sekarat, "Saya tak
tahu harus bagaimana, karena sama sekali tak
punya biaya untuk berobat ke dokter" kata wanita
itu dengan wajah memelas.
Vincenzo sangat tersentuh melihat wanita malang
itu dan segera mengeluarkan check dan pena untuk
menuliskan selembar check dengan nilai yang tidak
sedikit untuk diberikan kepada wanita itu. "Segera
bawa anakmu berobat ke rumah sakit, kalau perlu
opname dan pastikan dia benar-benar sembuh"
kata Vincenzo dengan penuh simpatik. Wanita itu
memegang erat tangan Vincenzo dan beberapa kali
membungkuk penuh rasa terima kasih sebelum pergi
meninggalkan pegolf yang murah hati itu.
Minggu berikutnya dalam suatu acara makan siang
di sebuah country club, rekan Vincenso yang juga
seorang pejabat asosiasi golf professional mendatangi
mejanya dan duduk bersamanya, kemudian bertanya
"Vincenzo, minggu lalu anda memberikan check
kepada seorang wanita?" Vincenzo mengangguk
sambil meneguk juice apelnya.
"Seorang tukang parkir yang melihat anda
memberikan check kepada wanita itu mengatakan
pada saya bahwa wanita itu telah menipumu kawan,
anaknya tidak sedang sakit apalagi sekarat" kata
orang itu menjelaskan. Kali ini Vincenzo tediam
sejenak dan bertanya serius "Sungguh? Tidak ada
anak yang sekarat?"
"Benar" tegasnya.
"Syukurlah kalau begitu, saya rasa itu adalah berita
terbaik yang saya dengar dalam minggu ini"
jawab Vincenzo Readmore »»
pemain golf Argentina yang terkenal itu
memenangkan sebuah turnamen golf profesional
yang berhadiah uang dalam jumlah besar.
Setelah menerima hadiahnya dan penuh senyum
di depan kamera para wartawan ia bergegas
berjalan menuju club house dan bersiap-siap
untuk pulang.
Saat berjalan menuju mobilnya, ia dihampiri
oleh seorang wanita dan wanita itu memberikan
salam ucapan selamat kepadanya atas
kemenangan yang ia raih seraya mengatakan
kepadanya bahwa bayinya tengah mengalami
sakit keras dan kondisinya sekarat, "Saya tak
tahu harus bagaimana, karena sama sekali tak
punya biaya untuk berobat ke dokter" kata wanita
itu dengan wajah memelas.
Vincenzo sangat tersentuh melihat wanita malang
itu dan segera mengeluarkan check dan pena untuk
menuliskan selembar check dengan nilai yang tidak
sedikit untuk diberikan kepada wanita itu. "Segera
bawa anakmu berobat ke rumah sakit, kalau perlu
opname dan pastikan dia benar-benar sembuh"
kata Vincenzo dengan penuh simpatik. Wanita itu
memegang erat tangan Vincenzo dan beberapa kali
membungkuk penuh rasa terima kasih sebelum pergi
meninggalkan pegolf yang murah hati itu.
Minggu berikutnya dalam suatu acara makan siang
di sebuah country club, rekan Vincenso yang juga
seorang pejabat asosiasi golf professional mendatangi
mejanya dan duduk bersamanya, kemudian bertanya
"Vincenzo, minggu lalu anda memberikan check
kepada seorang wanita?" Vincenzo mengangguk
sambil meneguk juice apelnya.
"Seorang tukang parkir yang melihat anda
memberikan check kepada wanita itu mengatakan
pada saya bahwa wanita itu telah menipumu kawan,
anaknya tidak sedang sakit apalagi sekarat" kata
orang itu menjelaskan. Kali ini Vincenzo tediam
sejenak dan bertanya serius "Sungguh? Tidak ada
anak yang sekarat?"
"Benar" tegasnya.
"Syukurlah kalau begitu, saya rasa itu adalah berita
terbaik yang saya dengar dalam minggu ini"
jawab Vincenzo Readmore »»
JANGAN BERHENTI
Ketika sesuatu menjadi buruk, memang tidak
mustahil, Ketika jalan yang engkau lalui dengan
susah payah semakin menanjak, Ketika dana
berkurang dan hutang bertambah, Dan engkau
ingin tersenyum, tetapi engkau harus menarik nafas,
Ketika kesusahan sedikit menekanmu,
Istirahatlah, jika harus - tetapi jangan berhenti.
Hidup itu aneh dengan pergulatannya,
Seperti setiap orang kadang-kadang belajar,
Dan banyak terjadi kegagalan.
Ketika engkau menang setelah sanggup
menanggung beban;
Jangan menyerah, walaupun langkah menjadi pelan
Engkau bisa berhasil dengan pukulan lain
Sering tujuan itu lebih dekat daripada kelihatannya
Bagi orang-orang yang bimbang dan ragu
Sering orang menyerah
Pada saat seseorang meraih piala kemenangan
Dan dia belajar terlalu lambat, keburu malam tiba
Betapa dekat orang dengan mahkota emas.
Keberhasilan adalah kegagalan yang diubah
Sebaliknya - Sapuan perak kabut keraguan -
Dan engkau tidak pernah dapat mengatakan
betapa dekatnya engkau,
Ia mungkin dekat ketika kelihatannya jauh;
Berjuaglah mati-matian manakala engkau
meghadapi pukulan tersulit;
Pada saat segala sesuatu kelihatan paling buruk,
Engkau tidak boleh berhenti
Daniel Zacharias
"Education from womb to tomb!" - Komensky Readmore »»
mustahil, Ketika jalan yang engkau lalui dengan
susah payah semakin menanjak, Ketika dana
berkurang dan hutang bertambah, Dan engkau
ingin tersenyum, tetapi engkau harus menarik nafas,
Ketika kesusahan sedikit menekanmu,
Istirahatlah, jika harus - tetapi jangan berhenti.
Hidup itu aneh dengan pergulatannya,
Seperti setiap orang kadang-kadang belajar,
Dan banyak terjadi kegagalan.
Ketika engkau menang setelah sanggup
menanggung beban;
Jangan menyerah, walaupun langkah menjadi pelan
Engkau bisa berhasil dengan pukulan lain
Sering tujuan itu lebih dekat daripada kelihatannya
Bagi orang-orang yang bimbang dan ragu
Sering orang menyerah
Pada saat seseorang meraih piala kemenangan
Dan dia belajar terlalu lambat, keburu malam tiba
Betapa dekat orang dengan mahkota emas.
Keberhasilan adalah kegagalan yang diubah
Sebaliknya - Sapuan perak kabut keraguan -
Dan engkau tidak pernah dapat mengatakan
betapa dekatnya engkau,
Ia mungkin dekat ketika kelihatannya jauh;
Berjuaglah mati-matian manakala engkau
meghadapi pukulan tersulit;
Pada saat segala sesuatu kelihatan paling buruk,
Engkau tidak boleh berhenti
Daniel Zacharias
"Education from womb to tomb!" - Komensky Readmore »»
Thursday, May 29, 2008
Sesuatu yang Kecil
Hari ini merupakan hari yang sangat cerah,
matahari bersinar terang, orang orang berjalan
jalan di terik matahari dengan tergesa gesa.
Ah, alangkah indahnya bila mereka mampu
untuk menikmati keindahan di sekelilingnya
tanpa mengkomentari dan mengeluh. Hidup
ini setidaknya mempunyai arti apabila kita
melakukan hal kecil yang berarti...
Bintang Laut
Ketika fajar menyingsing, seorang lelaki tua
berjalan-jalan di pinggir pantai sambil menikmati
angin laut yang segar menerpa bibir pantai.
Di kejauhan dilihatnya seorang anak sedang
memungut bintang laut dan melemparkannya
kembali ke dalam air. Setelah mendekati anak
itu, lelaki tua itu bertanya heran;
'Mengapa engkau mengumpulkan dan melem-
parkan kembali bintang laut itu ke dalam air?',
Tanyanya.
'Karena bila dibiarkan hingga matahari pagi
datang menyengat, bintang laut yang terdampar
itu akan segera mati kekeringan.' Jawab si kecil itu.
'Tapi pantai ini luas dan bermil-mil panjangnya.'
Kata lelaki tua itu sambil menunjukkan jarinya yang
mulai keriput ke arah pantai pasir yang luas itu.
'Lagi pula ada jutaan bintang laut yang terdampar.
Aku ragu apakah usahamu itu sungguh mempunyai
arti yang besar.' Lanjutnya penuh ragu. Anak itu lama
memandang bintang laut yang ada di tangannya
tanpa berkata sepatahpun. Lalu dengan perlahan ia
melemparkannya ke dalam laut agar selamat dan hidup.
'Saya yakin usahaku sungguh memiliki arti yang besar,
sekurang-kurangnya... bagi yang satu ini.'
Kata si kecil itu.
Teman, kita sering kali mendambakan untuk
melakukan sesuatu yang besar, namun sering kali
kita lupa bahwa yang besar itu sering dimulai dengan
sesuatu yang kecil Readmore »»
matahari bersinar terang, orang orang berjalan
jalan di terik matahari dengan tergesa gesa.
Ah, alangkah indahnya bila mereka mampu
untuk menikmati keindahan di sekelilingnya
tanpa mengkomentari dan mengeluh. Hidup
ini setidaknya mempunyai arti apabila kita
melakukan hal kecil yang berarti...
Bintang Laut
Ketika fajar menyingsing, seorang lelaki tua
berjalan-jalan di pinggir pantai sambil menikmati
angin laut yang segar menerpa bibir pantai.
Di kejauhan dilihatnya seorang anak sedang
memungut bintang laut dan melemparkannya
kembali ke dalam air. Setelah mendekati anak
itu, lelaki tua itu bertanya heran;
'Mengapa engkau mengumpulkan dan melem-
parkan kembali bintang laut itu ke dalam air?',
Tanyanya.
'Karena bila dibiarkan hingga matahari pagi
datang menyengat, bintang laut yang terdampar
itu akan segera mati kekeringan.' Jawab si kecil itu.
'Tapi pantai ini luas dan bermil-mil panjangnya.'
Kata lelaki tua itu sambil menunjukkan jarinya yang
mulai keriput ke arah pantai pasir yang luas itu.
'Lagi pula ada jutaan bintang laut yang terdampar.
Aku ragu apakah usahamu itu sungguh mempunyai
arti yang besar.' Lanjutnya penuh ragu. Anak itu lama
memandang bintang laut yang ada di tangannya
tanpa berkata sepatahpun. Lalu dengan perlahan ia
melemparkannya ke dalam laut agar selamat dan hidup.
'Saya yakin usahaku sungguh memiliki arti yang besar,
sekurang-kurangnya... bagi yang satu ini.'
Kata si kecil itu.
Teman, kita sering kali mendambakan untuk
melakukan sesuatu yang besar, namun sering kali
kita lupa bahwa yang besar itu sering dimulai dengan
sesuatu yang kecil Readmore »»
Tuesday, May 27, 2008
Bagian Penting Tubuhmu
Ibuku selalu bertanya padaku, apa bagianReadmore »»
tubuh yang paling penting. Bertahun-tahun,
aku selalu menebak dengan jawaban yang
aku anggap benar.
Ketika aku muda, aku pikir suara adalah
yang paling penting bagi kita sebagai manusia,
jadi aku jawab “Telinga, Bu.” Tapi, ternyata itu
bukan jawabannya.
“Bukan itu, Nak. Banyak orang yang tuli.
Tapi, teruslah memikirkannya dan aku
menanyakan lagi nanti.”
Beberapa tahun kemudian, aku mencoba
menjawab, sebelum dia bertanyapadaku lagi.
Sejak jawaban pertama, kini aku yakin jawaban
kali ini pasti benar. Jadi, kali ini aku memberi-
tahukannya. “Bu, penglihatan sangat penting bagi
semua orang, jadi pastilah mata kita yang paling
penting.”
Dia memandangku dan berkata,
“Kamu belajar dengan cepat, tapi jawabanmu
masih salah karena banyak orang yang buta.”
Gagal lagi, aku meneruskan usahaku mencari
jawaban baru dan dari tahun ke tahun, ibu terus
menjawab padaku beberapa kali dan jawaban
dia selalu, “Bukan. Tapi, kamu makin pandai dari
tahun ke tahun, Anakku.”
Akhirnya tahun lalu, kakekku meninggal.
Semua keluarga sedih. Semua menangis. Bahkan
ayahku menangis. Aku sangat ingat itu karena itulah
saat kedua kalinya aku melihatnya menangis.
Ibuku memandangku ketika tiba giliranku untuk
mengucapkan selamat tinggal pada kakek.
Dia bertanya padaku, “Apakah kamu sudah
tahu apa bagian tubuh yang paling
penting, sayang?”
Aku terkejut ketika ibu bertanya pada saat
seperti ini. Aku sering berpikir, ini hanyalah
permainan antara ibu dan aku.
Ibu melihat kebingungan di mataku dan
memberitahuku, “Pertanyaan inipenting.
Ini akan menunjukkan padamu apakah
kamu sudah benar – benar “hidup”. Untuk
semua bagian tubuh yang kamu beritahu
padaku selama ini, aku selalu berkata kamu
salah dan aku telah memberitahukan kamu
kenapa. Tapi, hari ini adalah hari di mana
kamu harus mendapat pelajaran yang
sangat penting.”
Dia memandangku dengan wajah keibuan.
Aku melihat matanya penuh dengan air.
Dia berkata, “Sayangku, bagian tubuh yang
paling penting adalah bahumu.”
Aku bertanya,”Apakah karena fungsinya
untuk menahan kepala?”
Ibu membalas, “Bukan, tapi karena bahu
dapat menahan kepala seorang teman
atau orang yang kamu sayangi ketika
mereka menangis. Kadang – kadang
dalam hidup ini, semua orang perlu bahu
untuk menangis. Aku cuma berharap,
kamu punya cukup kasih sayang dan
teman – teman agar kamu selalu punya
bahu untuk menangis kapan pun kamu
membutuhkannya.”
Akhirnya, aku tahu, bagian tubuh yang
paling penting adalah tidak menjadi
orang yang mementingkan diri sendiri.
Tapi, simpati terhadap penderitaan
yang dialami oleh orang lain. Orang akan
melupakan apa yang kamu katakan.
Orang akan melupakan apa yang kamu
lakukan. Tapi, orang TIDAK akan pernah
lupa bagaimana kamu membuat mereka berarti.”
Salam,
Thanks to Ciwi.
Kisah dari Steve Jobs
Pidato Steve Jobs, CEO Apple Computer
dan Studio Animasi Pixar, di acara pelepasan
mahasiswa Stanford, 12 Juni 2005.
Hari ini akan saya ceritakan tiga kisah dalam
hidup saya.
Cerita pertama saya.
Kisahnya dimulai sebelum saya lahir.
Ibu kandung saya adalah mahasiswi belia yang
hamil karena "kecelakaan" dan memberikan
saya kepada seseorang untuk diadopsi. Dia
bertekad bahwa saya harus diadopsi oleh
keluarga sarjana, maka saya pun diperjanjikan
untuk dipungut anak semenjak lahir oleh seorang
pengacara dan istrinya. Sialnya, begitu saya lahir,
tiba-tiba mereka berubah pikiran karena ingin
bayi perempuan. Maka orang tua saya sekarang,
yang ada di daftar urut berikutnya, mendapatkan
telepon larut m! alam dari seseorang:
"kami punya bayi laki-laki yang batal dipungut;
apakah Anda berminat?
Mereka
menjawab: "Tentu saja." Ibu kandung saya lalu
mengetahui bahwa ibu angkat saya tidak pernah
lulus kuliah dan ayah angkat saya bahkan tidak
tamat SMA. Dia menolak menandatangani
perjanjian adopsi.
Sikapnya baru melunak beberapa bulan kemudian,
setelah orang tua saya berjanji akan menyekolahkan
saya sampai perguruan tinggi.
Dan, 17 tahun kemudian saya betul-betul kuliah.
Namun, dengan naifnya saya memilih universitas
yang hampir sama mahalnya dengan Stanford,
sehingga seluruh tabungan orang tua saya
– yang hanya pegawai rendahan– habis untuk
biaya kuliah. Setelah enam bulan, saya tidak
melihat manfaatnya. Saya tidak tahu apa yang
harus saya lakukan dalam hidup saya dan bagai-
mana kuliah akan membantu saya menemukannya.
Saya sudah menghabiskan seluruh tabungan yang
dikumpulkan orang tua saya seumur hidup mereka.
Maka, saya pun memutuskan berhenti kuliah, yakin
bahwa itu yang terbaik. Saat itu rasanya menakutkan,
namun sekarang saya menganggapnya sebagai
keputusan terbaik yang pernah saya ambil.
Begitu DO, saya langsung berhenti mengambil
kelas wajib yang tidak saya minati dan mulai
mengikuti perkuliahan yang saya sukai.
Masa-masa itu tidak selalu menyenangkan.
Saya tidak punya kamar kos sehingga
menumpang tidur di lantai kamar teman-teman
saya. Saya mengembalikan botol Coca-Cola
agar dapat pengembalian 5 sen untuk membeli
makanan. Saya berjalan 7 mil melintasi kota
setiap Minggu malam untuk mendapat makanan
enak di biara Hare Krishna. Saya menikmatinya.
Dan banyak yang saya temui saat itu karena
mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi, ternyata
kemudian sangat berharga.
Saya beri Anda satu contoh:
Reed College mungkin waktu itu adalah yang
terbaik di AS dalam hal kaligrafi. Di seluruh penjuru
kampus, setiap poster, label, dan petunjuk ditulis
tangan dengan sangat indahnya. Karena sudah DO,
saya tidak harus mengikuti perkuliahan normal.
Saya memutuskan mengikuti kelas kaligrafi guna
mempelajarinya. Saya belajar jenis-jenis huruf serif
dan san serif, membuat variasi spasi antar kombinasi
kata dan kiat membuat tipografi yang hebat. Semua
itu merupakan kombinasi cita rasa keindahan, sejarah
dan seni yang tidak dapat ditangkap melalui sains.
Sangat menakjubkan.
Saat itu sama sekali tidak terlihat manfaat kaligrafi
bagi kehidupan saya. Namun sepuluh tahun
kemudian, ketika kami mendisain komputer
Macintosh yang pertama, ilmu itu sangat bermanfaat.
Mac adalah komputer pertama yang bertipografi cantik.
Seandainya saya tidak DO dan mengambil kelas
kaligrafi, Mac tidak akan memiliki sedemikian banyak
huruf yang beragam bentuk dan proporsinya. Dan
karena Windows menjiplak Mac, maka tidak ada PC
yang seperti itu. Andaikata saya tidak DO, saya tidak
berkesempatan mengambil kelas kaligrafi, dan PC
tidak memiliki tipografi yang indah. Tentu saja, tidak
mungkin merangkai cerita seperti itu sewaktu saya
masih kuliah. Namun, sepuluh tahun kemudian segala
sesuatunya menjadi gamblang.
Sekali lagi, Anda tidak akan dapat merangkai titik
dengan melihat ke depan; Anda hanya bisa
melakukannya dengan merenung ke belakang.
Jadi,
Anda harus percaya bahwa titik-titik Anda
bagaimana pun akan terangkai di masa mendatang.
Anda harus percaya dengan intuisi, takdir, jalan hidup,
karma Anda, atau apapun istilah lainnya. Pendekatan
ini efektif dan membuat banyak perbedaan dalam
kehidupan saya.
Cerita Kedua Saya: Cinta dan Kehilangan.
Saya beruntung karena tahu apa yang saya
sukai sejak masih muda. Woz dan saya mengawali
Apple di garasi orang tua saya ketika saya berumur
20 tahun. Kami bekerja keras dan dalam 10 tahun
Apple berkembang dari hanya kami berdua menjadi
perusahaan 2 milyar dolar dengan 4000 karyawan.
Kami baru meluncurkan produk terbaik kami
–Macintosh– satu tahun sebelumnya, dan saya baru
menginjak usia 30. Dan saya dipecat.
Bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan
yang Anda dirikan?
Yah,
itulah yang terjadi. Seiring pertumbuhan Apple,
kami merekrut orang yang saya pikir sangat
berkompeten untuk menjalankan perusahaan
bersama saya. Dalam satu tahun pertama,
semua berjalan lancar. Namun, kemudian muncul
perbedaan dalam visi kami mengenai masa
depan dan kami sulit disatukan. Komisaris ternyata
berpihak padanya. Demikianlah, di usia 30 saya
tertendang. Beritanya ada di mana-mana. Apa
yang menjadi fokus sepanjang masa dewasa saya,
tiba-tiba sirna. Sungguh menyakitkan.
Dalam beberapa bulan kemudian, saya tidak tahu
apa yang harus saya lakukan. Saya merasa telah
mengecewakan banyak wirausahawan generasi
sebelumnya.
–saya gagal mengambil kesempatan. Saya bertemu
dengan David Packard dan Bob Noyce dan meminta
maaf atas keterpurukan saya. Saya menjadi tokoh
publik yang gagal, dan bahkan berpikir untuk lari dari
Silicon Valley. Namun, sedikit demi sedikit semangat
timbul kembali– saya masih menyukai pekerjaan saya.
Apa yang terjadi di Apple sedikit pun tidak mengubah
saya. Saya telah ditolak, namun saya tetap cinta.
Maka, saya putuskan untuk mulai lagi dari awal.
Waktu itu saya tidak melihatnya, namun belakangan
baru saya sadari bahwa dipecat dari Apple adalah
kejadian terbaik yang menimpa saya.
Beban berat sebagai orang sukses tergantikan oleh
keleluasaan sebagai pemula, segala sesuatunya
lebih tidak jelas. Hal itu mengantarkan saya pada
periode paling kreatif dalam hidup saya.
Dalam lima tahun berikutnya, saya mendirikan
perusahaan bernama NeXT, lalu Pixar, dan jatuh
cinta dengan wanita istimewa yang kemudian
menjadi istri saya. Pixar bertumbuh menjadi
perusahaan yang menciptakan film animasi
komputer pertama, Toy Story, dan sekarang
merupakan studio animasi paling sukses di dunia.
Melalui rangkaian peristiwa yang menakjubkan,
Apple membeli NeXT, dan saya kembali lagi ke
Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di
NeXT menjadi jantung bagi kebangkitan kembali
Apple. Dan, Laurene dan saya memiliki keluarga
yang luar biasa.
Saya yakin takdir di atas tidak terjadi bila saya
tidak dipecat dari Apple. Obatnya memang pahit,
namun sebagai pasien saya memerlukannya.
Kadangkala kehidupan menimpakan batu ke
kepala Anda. Jangan kehilangan kepercayaan.
Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat
saya terus berusaha adalah karena saya menyukai
apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan
apa yang Anda sukai. Itu berlaku baik untuk pekerjaan
maupun pasangan hidup Anda. Pekerjaan Anda akan
menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan
kepuasan sejati hanya dapat diraih dengan
mengerjakan sesuatu yang hebat. Dan Anda hanya
bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai.
Bila Anda belum menemukannya, teruslah mencari.
Jangan menyerah. Hati Anda akan mengatakan
bila Anda telah menemukannya. Sebagaimana
halnya dengan hubungan hebat lainnya, semakin
lama- semakin mesra Anda dengannya. Jadi,
teruslah mencari sampai ketemu. Jangan berhenti.
Cerita Ketiga Saya: Kematian
Ketika saya berumur 17, saya membaca
ungkapan yang kurang lebih
berbunyi: "Bila kamu menjalani hidup seolah-olah
hari itu adalah hari terakhirmu, maka suatu hari
kamu akan benar." Ungkapan itu membekas dalam
diri saya, dan semenjak saat itu, selama 33 tahun
terakhir, saya selalu melihat ke cermin setiap pagi
dan bertanya kepada diri sendiri:
"Bila ini adalah hari terakhir saya, apakah saya
tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?
" Bila jawabannya selalu "tidak"
dalam beberapa hari berturut-turut,
saya tahu saya harus berubah.
Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah
kiat penting yang saya temukan untuk membantu
membuat keputusan besar. Karena hampir segala
sesuatu
–semua harapan eksternal, kebanggaan, takut,
malu atau gagal–tidak lagi bermanfaat saat
menghadapi kematian. Hanya yang hakiki yang
tetap ada. Mengingat kematian adalah cara
terbaik yang saya tahu untuk menghindari jebakan
berpikir bahwa Anda akan kehilangan sesuatu.
Anda tidak memiliki apa-apa. Sama sekali tidak
ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda.
Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosis
mengidap kanker. Saya menjalani scan pukul
7:30 pagi dan hasilnya jelas menunjukkan saya
memiliki tumor pankreas. Saya bahkan tidak tahu
apa itu pankreas.
Para dokter mengatakan kepada saya bahwa
hampir pasti jenisnya adalah yang tidak dapat
diobati. Harapan hidup saya tidak lebih dari
3-6 bulan.
Dokter menyarankan saya pulang ke rumah dan
membereskan segala sesuatunya, yang merupakan
sinyal dokter agar saya bersiap mati.
Artinya, Anda harus menyampaikan kepada anak
Anda dalam beberapa menit segala hal yang Anda
rencanakan dalam sepuluh tahun mendatang.
Artinya, memastikan bahwa segalanya diatur agar
mudah bagi keluarga Anda. Artinya, Anda harus
mengucapkan selamat tinggal.
Sepanjang hari itu saya menjalani hidup berdasarkan
diagnosis tersebut. Malam harinya, mereka
memasukkan endoskopi ke tenggorokan, lalu ke
perut dan lambung, memasukkan jarum ke pankreas
saya dan mengambil beberapa sel tumor. Saya
dibius, namun istri saya, yang ada di sana ,
mengatakan bahwa ketika melihat selnya di bawah
mikroskop, para dokter menangis mengetahui
bahwa jenisnya adalah kanker pankreas yang
sangat jarang, namun bisa diatasi dengan operasi.
Saya dioperasi dan sehat sampai sekarang.
Itu adalah rekor terdekat saya dengan kematian
dan berharap terus begitu hingga beberapa dekade
lagi. Setelah melalui pengalaman tersebut, sekarang
saya bisa katakan dengan yakin kepada Anda
bahwa menurut konsep pikiran, kematian adalah
hal yang berguna:
Tidak ada orang yang ingin mati. Bahkan orang
yang ingin masuk surga pun tidak ingin mati dulu
untuk mencapainya. Namun, kematian pasti
menghampiri kita. Tidak ada yang bisa mengelak.
Dan, memang harus demikian, karena kematian
adalah buah terbaik dari kehidupan.
Kematian membuat hidup berputar. Dengannya
maka yang tua menyingkir untuk digantikan yang
muda. Maaf bila terlalu dramatis menyampaikannya,
namun memang begitu.
Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan
dengan menjalani hidup orang lain. Jangan
terperangkap dengan dogma
–yaitu hidup bersandar pada hasil pemikiran
orang lain. Jangan biarkan omongan orang
menulikan Anda sehingga tidak mendengar
kata hati Anda. Dan yang terpenting, miliki
keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi
Anda, maka Anda pun akan sampai pada apa
yang Anda inginkan. Semua hal lainnya hanya
nomor dua.
Ketika saya masih muda, ada satu penerbitan
hebat yang bernama "The Whole Earth Catalog",
yang menjadi salah satu buku pintar generasi saya.
Buku itu diciptakan oleh seorang bernama
Stewart Brand yang tinggal tidak jauh dari sini di
Menlo Park, dan dia membuatnya sedemikian
menarik dengan sentuhan puitisnya. Waktu itu
akhir 1960- an, sebelum era komputer dan desktop
publishing, jadi semuanya dibuat dengan mesin tik,
gunting, dan kamera polaroid. Mungkin seperti
Google dalam bentuk kertas, 35 tahun sebelum
kelahiran Google: isinya padat dengan tips-tips
ideal dan ungkapan-ungkapan hebat.
Stewart dan timnya sempat menerbitkan beberapa
edisi "The Whole Earth Catalog", dan ketika
mencapai titik ajalnya, mereka membuat edisi
terakhir. Saat itu pertengahan 1970-an dan saya
masih seusia Anda. Di sampul belakang edisi
terakhir itu ada satu foto jalan pedesaan di pagi
hari, jenis yang mungkin Anda lalui jika suka
bertualang. Di bawahnya ada kata-kata:
"Stay Hungry. Stay Foolish."
(Tetaplah Lapar. Selalu Merasa Bodoh).
Itulah pesan perpisahan yang dibubuhi tanda
tangan mereka. Stay Hungry. Stay Foolish.
Saya selalu mengharapkan diri saya begitu.
Thanks to 'jpmrblood'
Readmore »»
dan Studio Animasi Pixar, di acara pelepasan
mahasiswa Stanford, 12 Juni 2005.
Hari ini akan saya ceritakan tiga kisah dalam
hidup saya.
Cerita pertama saya.
Kisahnya dimulai sebelum saya lahir.
Ibu kandung saya adalah mahasiswi belia yang
hamil karena "kecelakaan" dan memberikan
saya kepada seseorang untuk diadopsi. Dia
bertekad bahwa saya harus diadopsi oleh
keluarga sarjana, maka saya pun diperjanjikan
untuk dipungut anak semenjak lahir oleh seorang
pengacara dan istrinya. Sialnya, begitu saya lahir,
tiba-tiba mereka berubah pikiran karena ingin
bayi perempuan. Maka orang tua saya sekarang,
yang ada di daftar urut berikutnya, mendapatkan
telepon larut m! alam dari seseorang:
"kami punya bayi laki-laki yang batal dipungut;
apakah Anda berminat?
Mereka
menjawab: "Tentu saja." Ibu kandung saya lalu
mengetahui bahwa ibu angkat saya tidak pernah
lulus kuliah dan ayah angkat saya bahkan tidak
tamat SMA. Dia menolak menandatangani
perjanjian adopsi.
Sikapnya baru melunak beberapa bulan kemudian,
setelah orang tua saya berjanji akan menyekolahkan
saya sampai perguruan tinggi.
Dan, 17 tahun kemudian saya betul-betul kuliah.
Namun, dengan naifnya saya memilih universitas
yang hampir sama mahalnya dengan Stanford,
sehingga seluruh tabungan orang tua saya
– yang hanya pegawai rendahan– habis untuk
biaya kuliah. Setelah enam bulan, saya tidak
melihat manfaatnya. Saya tidak tahu apa yang
harus saya lakukan dalam hidup saya dan bagai-
mana kuliah akan membantu saya menemukannya.
Saya sudah menghabiskan seluruh tabungan yang
dikumpulkan orang tua saya seumur hidup mereka.
Maka, saya pun memutuskan berhenti kuliah, yakin
bahwa itu yang terbaik. Saat itu rasanya menakutkan,
namun sekarang saya menganggapnya sebagai
keputusan terbaik yang pernah saya ambil.
Begitu DO, saya langsung berhenti mengambil
kelas wajib yang tidak saya minati dan mulai
mengikuti perkuliahan yang saya sukai.
Masa-masa itu tidak selalu menyenangkan.
Saya tidak punya kamar kos sehingga
menumpang tidur di lantai kamar teman-teman
saya. Saya mengembalikan botol Coca-Cola
agar dapat pengembalian 5 sen untuk membeli
makanan. Saya berjalan 7 mil melintasi kota
setiap Minggu malam untuk mendapat makanan
enak di biara Hare Krishna. Saya menikmatinya.
Dan banyak yang saya temui saat itu karena
mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi, ternyata
kemudian sangat berharga.
Saya beri Anda satu contoh:
Reed College mungkin waktu itu adalah yang
terbaik di AS dalam hal kaligrafi. Di seluruh penjuru
kampus, setiap poster, label, dan petunjuk ditulis
tangan dengan sangat indahnya. Karena sudah DO,
saya tidak harus mengikuti perkuliahan normal.
Saya memutuskan mengikuti kelas kaligrafi guna
mempelajarinya. Saya belajar jenis-jenis huruf serif
dan san serif, membuat variasi spasi antar kombinasi
kata dan kiat membuat tipografi yang hebat. Semua
itu merupakan kombinasi cita rasa keindahan, sejarah
dan seni yang tidak dapat ditangkap melalui sains.
Sangat menakjubkan.
Saat itu sama sekali tidak terlihat manfaat kaligrafi
bagi kehidupan saya. Namun sepuluh tahun
kemudian, ketika kami mendisain komputer
Macintosh yang pertama, ilmu itu sangat bermanfaat.
Mac adalah komputer pertama yang bertipografi cantik.
Seandainya saya tidak DO dan mengambil kelas
kaligrafi, Mac tidak akan memiliki sedemikian banyak
huruf yang beragam bentuk dan proporsinya. Dan
karena Windows menjiplak Mac, maka tidak ada PC
yang seperti itu. Andaikata saya tidak DO, saya tidak
berkesempatan mengambil kelas kaligrafi, dan PC
tidak memiliki tipografi yang indah. Tentu saja, tidak
mungkin merangkai cerita seperti itu sewaktu saya
masih kuliah. Namun, sepuluh tahun kemudian segala
sesuatunya menjadi gamblang.
Sekali lagi, Anda tidak akan dapat merangkai titik
dengan melihat ke depan; Anda hanya bisa
melakukannya dengan merenung ke belakang.
Jadi,
Anda harus percaya bahwa titik-titik Anda
bagaimana pun akan terangkai di masa mendatang.
Anda harus percaya dengan intuisi, takdir, jalan hidup,
karma Anda, atau apapun istilah lainnya. Pendekatan
ini efektif dan membuat banyak perbedaan dalam
kehidupan saya.
Cerita Kedua Saya: Cinta dan Kehilangan.
Saya beruntung karena tahu apa yang saya
sukai sejak masih muda. Woz dan saya mengawali
Apple di garasi orang tua saya ketika saya berumur
20 tahun. Kami bekerja keras dan dalam 10 tahun
Apple berkembang dari hanya kami berdua menjadi
perusahaan 2 milyar dolar dengan 4000 karyawan.
Kami baru meluncurkan produk terbaik kami
–Macintosh– satu tahun sebelumnya, dan saya baru
menginjak usia 30. Dan saya dipecat.
Bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan
yang Anda dirikan?
Yah,
itulah yang terjadi. Seiring pertumbuhan Apple,
kami merekrut orang yang saya pikir sangat
berkompeten untuk menjalankan perusahaan
bersama saya. Dalam satu tahun pertama,
semua berjalan lancar. Namun, kemudian muncul
perbedaan dalam visi kami mengenai masa
depan dan kami sulit disatukan. Komisaris ternyata
berpihak padanya. Demikianlah, di usia 30 saya
tertendang. Beritanya ada di mana-mana. Apa
yang menjadi fokus sepanjang masa dewasa saya,
tiba-tiba sirna. Sungguh menyakitkan.
Dalam beberapa bulan kemudian, saya tidak tahu
apa yang harus saya lakukan. Saya merasa telah
mengecewakan banyak wirausahawan generasi
sebelumnya.
–saya gagal mengambil kesempatan. Saya bertemu
dengan David Packard dan Bob Noyce dan meminta
maaf atas keterpurukan saya. Saya menjadi tokoh
publik yang gagal, dan bahkan berpikir untuk lari dari
Silicon Valley. Namun, sedikit demi sedikit semangat
timbul kembali– saya masih menyukai pekerjaan saya.
Apa yang terjadi di Apple sedikit pun tidak mengubah
saya. Saya telah ditolak, namun saya tetap cinta.
Maka, saya putuskan untuk mulai lagi dari awal.
Waktu itu saya tidak melihatnya, namun belakangan
baru saya sadari bahwa dipecat dari Apple adalah
kejadian terbaik yang menimpa saya.
Beban berat sebagai orang sukses tergantikan oleh
keleluasaan sebagai pemula, segala sesuatunya
lebih tidak jelas. Hal itu mengantarkan saya pada
periode paling kreatif dalam hidup saya.
Dalam lima tahun berikutnya, saya mendirikan
perusahaan bernama NeXT, lalu Pixar, dan jatuh
cinta dengan wanita istimewa yang kemudian
menjadi istri saya. Pixar bertumbuh menjadi
perusahaan yang menciptakan film animasi
komputer pertama, Toy Story, dan sekarang
merupakan studio animasi paling sukses di dunia.
Melalui rangkaian peristiwa yang menakjubkan,
Apple membeli NeXT, dan saya kembali lagi ke
Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di
NeXT menjadi jantung bagi kebangkitan kembali
Apple. Dan, Laurene dan saya memiliki keluarga
yang luar biasa.
Saya yakin takdir di atas tidak terjadi bila saya
tidak dipecat dari Apple. Obatnya memang pahit,
namun sebagai pasien saya memerlukannya.
Kadangkala kehidupan menimpakan batu ke
kepala Anda. Jangan kehilangan kepercayaan.
Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat
saya terus berusaha adalah karena saya menyukai
apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan
apa yang Anda sukai. Itu berlaku baik untuk pekerjaan
maupun pasangan hidup Anda. Pekerjaan Anda akan
menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan
kepuasan sejati hanya dapat diraih dengan
mengerjakan sesuatu yang hebat. Dan Anda hanya
bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai.
Bila Anda belum menemukannya, teruslah mencari.
Jangan menyerah. Hati Anda akan mengatakan
bila Anda telah menemukannya. Sebagaimana
halnya dengan hubungan hebat lainnya, semakin
lama- semakin mesra Anda dengannya. Jadi,
teruslah mencari sampai ketemu. Jangan berhenti.
Cerita Ketiga Saya: Kematian
Ketika saya berumur 17, saya membaca
ungkapan yang kurang lebih
berbunyi: "Bila kamu menjalani hidup seolah-olah
hari itu adalah hari terakhirmu, maka suatu hari
kamu akan benar." Ungkapan itu membekas dalam
diri saya, dan semenjak saat itu, selama 33 tahun
terakhir, saya selalu melihat ke cermin setiap pagi
dan bertanya kepada diri sendiri:
"Bila ini adalah hari terakhir saya, apakah saya
tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?
" Bila jawabannya selalu "tidak"
dalam beberapa hari berturut-turut,
saya tahu saya harus berubah.
Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah
kiat penting yang saya temukan untuk membantu
membuat keputusan besar. Karena hampir segala
sesuatu
–semua harapan eksternal, kebanggaan, takut,
malu atau gagal–tidak lagi bermanfaat saat
menghadapi kematian. Hanya yang hakiki yang
tetap ada. Mengingat kematian adalah cara
terbaik yang saya tahu untuk menghindari jebakan
berpikir bahwa Anda akan kehilangan sesuatu.
Anda tidak memiliki apa-apa. Sama sekali tidak
ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda.
Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosis
mengidap kanker. Saya menjalani scan pukul
7:30 pagi dan hasilnya jelas menunjukkan saya
memiliki tumor pankreas. Saya bahkan tidak tahu
apa itu pankreas.
Para dokter mengatakan kepada saya bahwa
hampir pasti jenisnya adalah yang tidak dapat
diobati. Harapan hidup saya tidak lebih dari
3-6 bulan.
Dokter menyarankan saya pulang ke rumah dan
membereskan segala sesuatunya, yang merupakan
sinyal dokter agar saya bersiap mati.
Artinya, Anda harus menyampaikan kepada anak
Anda dalam beberapa menit segala hal yang Anda
rencanakan dalam sepuluh tahun mendatang.
Artinya, memastikan bahwa segalanya diatur agar
mudah bagi keluarga Anda. Artinya, Anda harus
mengucapkan selamat tinggal.
Sepanjang hari itu saya menjalani hidup berdasarkan
diagnosis tersebut. Malam harinya, mereka
memasukkan endoskopi ke tenggorokan, lalu ke
perut dan lambung, memasukkan jarum ke pankreas
saya dan mengambil beberapa sel tumor. Saya
dibius, namun istri saya, yang ada di sana ,
mengatakan bahwa ketika melihat selnya di bawah
mikroskop, para dokter menangis mengetahui
bahwa jenisnya adalah kanker pankreas yang
sangat jarang, namun bisa diatasi dengan operasi.
Saya dioperasi dan sehat sampai sekarang.
Itu adalah rekor terdekat saya dengan kematian
dan berharap terus begitu hingga beberapa dekade
lagi. Setelah melalui pengalaman tersebut, sekarang
saya bisa katakan dengan yakin kepada Anda
bahwa menurut konsep pikiran, kematian adalah
hal yang berguna:
Tidak ada orang yang ingin mati. Bahkan orang
yang ingin masuk surga pun tidak ingin mati dulu
untuk mencapainya. Namun, kematian pasti
menghampiri kita. Tidak ada yang bisa mengelak.
Dan, memang harus demikian, karena kematian
adalah buah terbaik dari kehidupan.
Kematian membuat hidup berputar. Dengannya
maka yang tua menyingkir untuk digantikan yang
muda. Maaf bila terlalu dramatis menyampaikannya,
namun memang begitu.
Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan
dengan menjalani hidup orang lain. Jangan
terperangkap dengan dogma
–yaitu hidup bersandar pada hasil pemikiran
orang lain. Jangan biarkan omongan orang
menulikan Anda sehingga tidak mendengar
kata hati Anda. Dan yang terpenting, miliki
keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi
Anda, maka Anda pun akan sampai pada apa
yang Anda inginkan. Semua hal lainnya hanya
nomor dua.
Ketika saya masih muda, ada satu penerbitan
hebat yang bernama "The Whole Earth Catalog",
yang menjadi salah satu buku pintar generasi saya.
Buku itu diciptakan oleh seorang bernama
Stewart Brand yang tinggal tidak jauh dari sini di
Menlo Park, dan dia membuatnya sedemikian
menarik dengan sentuhan puitisnya. Waktu itu
akhir 1960- an, sebelum era komputer dan desktop
publishing, jadi semuanya dibuat dengan mesin tik,
gunting, dan kamera polaroid. Mungkin seperti
Google dalam bentuk kertas, 35 tahun sebelum
kelahiran Google: isinya padat dengan tips-tips
ideal dan ungkapan-ungkapan hebat.
Stewart dan timnya sempat menerbitkan beberapa
edisi "The Whole Earth Catalog", dan ketika
mencapai titik ajalnya, mereka membuat edisi
terakhir. Saat itu pertengahan 1970-an dan saya
masih seusia Anda. Di sampul belakang edisi
terakhir itu ada satu foto jalan pedesaan di pagi
hari, jenis yang mungkin Anda lalui jika suka
bertualang. Di bawahnya ada kata-kata:
"Stay Hungry. Stay Foolish."
(Tetaplah Lapar. Selalu Merasa Bodoh).
Itulah pesan perpisahan yang dibubuhi tanda
tangan mereka. Stay Hungry. Stay Foolish.
Saya selalu mengharapkan diri saya begitu.
Thanks to 'jpmrblood'
Readmore »»
Monday, May 26, 2008
Si Penunggang Kuda
Sore itu adalah sore yang sangat dingin diReadmore »»
Virginia bagian utara, berpuluh-puluh tahun
yang lalu. Janggut si orang tua dilapisi es
musim dingin selagi ia menunggu tumpangan
menyeberangi sungai.
Penantiannya seakan tak berakhir. Tubuhnya
menjadi mati rasa dan kaku akibat angin utara
yang dingin. Samar-samar ia mendengar irama
teratur hentakan kaki kuda yang berlari mendekat
di atas jalan yang beku itu.
Dengan gelisah ia mengawasi beberapa
penunggang kuda memutari tikungan. Ia membiarkan
beberapa kuda lewat, tanpa berusaha untuk menarik
perhatian. Lalu, satu lagi lewat, dan satu lagi.
Akhirnya, penunggang kuda yang terakhir mendekati
tempat si orang tua yang duduk seperti patung salju.
Saat yang satu ini mendekat, si orang tua menangkap
mata si penunggang.. dan ia pun berkata,
"Tuan, maukah anda memberikan tumpangan pada
orang tua ini ke seberang ? Kelihatannya tak ada
jalan untuk berjalan kaki."
Sambil menghentikan kudanya, si penunggang
menjawab, "Tentu. Naiklah." Melihat si orang tua tak
mampu mengangkat tubuhnya yang setengah
membeku dari atas tanah, si penunggang kuda turun
dan menolongnya naik ke atas kuda.
Si penunggang membawa si orang tua itu bukan
hanya ke seberang sungai, tapi terus ke tempat
tujuannya, yang hanya berjarak beberapa kilometer.
Selagi mereka mendekati pondok kecil yang
nyaman, rasa ingin tahu si penunggang kuda atas
sesuatu, mendorongnya untuk bertanya, "Pak, saya
lihat tadi bapak membiarkan penunggang2 kuda
lain lewat, tanpa berusaha meminta tumpangan.
Saya ingin tahu kenapa pada malam musim dingin
seperti ini Bapak mau menunggu dan minta tolong
pada penunggang terakhir.
Bagaimana kalau saya tadi menolak dan
meninggalkan bapak di sana?"
Si orang tua menurunkan tubuhnya perlahan dari
kuda, memandang langsung mata si penunggang
kuda dan menjawab, "Saya sudah lama tinggal di
daerah ini. Saya rasa saya cukup kenal dengan
orang." Si orang tua melanjutkan,
"Saya memandang mata penunggang yang lain,
dan langsung tahu bahwa di situ tidak ada perhatian
pada keadaan saya. Pasti percuma saja saya minta
tumpangan. Tapi waktu saya melihat matamu,
kebaikan hati dan rasa kasihmu terasa jelas ada
pada dirimu. Saya tahu saat itu juga bahwa jiwamu
yang lembut akan menyambut kesempatan untuk
memberi saya pertolongan pada saat saya
membutuhkannya."
Komentar yang menghangatkan hati itu menyentuh
si penunggang kuda dengan dalam. "Saya berterima
kasih sekali atas perkataan bapak", ia berkata pada
si orang tua. "Mudah-mudahan saya tidak akan
terlalu sibuk mengurus masalah saya sendiri hingga
saya gagal menanggapi kebutuhan orang lain.."
Seraya berkata demikian, Thomas Jefferson, si
penunggang kuda itu, memutar kudanya dan
melanjutkan perjalanannya menuju ke Gedung Putih.
ADA SAAT TUHAN MENCIPTAKAN PARA IBU
Ketika itu, Tuhan telah bekerja enam hari lamanya.Readmore »»
Kini giliran diciptakan para ibu. Seorang malaikat
menghampiri Tuhan dan berkata lembut:
"Tuhan, banyak nian waktu yg Tuhan habiskan untuk
menciptakan ibu ini?"
Dan Tuhan menjawab pelan:
"Tidakkah kau lihat perincian yang harus dikerjakan?
1) Ibu ini harus waterproof (tahan air / cuci) tapi bukan
dari plastik.
2) Harus terdiri dari 180 bagian yang lentur, lemas
dan tidak cepat capai.
3) Ia harus bisa hidup dari sedikit teh kental dan
makanan seadanya.
4) Memiliki kuping yang lebar untuk menampung
keluhan anak- anak dan suaminya
5) Memiliki ciuman yang dapat menyembuhkan
hati yang sedih
6) Lidah yang manis untuk merekatkan hati yang
patah, dan
7) Enam pasang tangan!!
Malaikat itu menggeleng gelengkan kepalanya:
Enam pasang tangan....? tsk tsk tsk" ---
"Tentu saja! Bukan tangan yang merepotkan
Saya, melainkan tangan yang melayani sana
sini, mengatur segalanya menjadi lebih baik.."
balas Tuhan
8) Juga tiga pasang mata yang harus dimiliki
seorang ibu"
"Bagaimana modelnya?" Malaikat semakin heran.
Tuhan mengangguk angguk.
"Sepasang mata yang dapat menembus pintu
yang tertutup rapat" dan bertanya:
"Apa yang sedang kau lakukan di dalam situ?",
padahal sepasang mata itu sudah mengetahui
jawabannya.
"Sepasang mata kedua sebaiknya diletakkan
di belakang kepalanya, sehingga ia bisa melihat
ke belakang tanpa menoleh. Artinya, ia dapat
melihat apa yang sebenarnya tak boleh ia lihat
dan pasang mata ketiga untuk menatap lembut
seorang anak yang mengakui kekeliruannya.
Mata itu harus bisa bicara!
Mata itu harus berkata:
"Saya mengerti dan saya sayang padamu".
Meskipun tidak diucapkan sepatah kata pun.
"Tuhan", kata malaikat itu lagi, "Istirahatlah"
"Saya tidak dapat, Saya sudah hampir selesai."
9) Ia harus bisa menyembuhkan diri sendiri
kalau ia sakit.
10) Ia harus tetap bisa memberi makan 5 orang
dengan uang yang menipis diakhir bulan
11) Ia juga harus menyuruh anak umur 9 tahun
mandi pada saat anak itu tidak ingin mandi......
Akhirnya Malaikat membalik balikkan contoh Ibu
dengan perlahan.
"Terlalu lunak", katanya memberi komentar.
"Tapi kuat!" Kata Tuhan bersemangat.
"Tak akan bisa engkau bayangkan betapa
banyak yang bisa ia tanggung, pikul dan derita."
"Apakah ia dapat berpikir?" tanya malaikat lagi.
"Ia bukan saja dapat berpikir, tapi ia juga dapat
memberi gagasan, idea dan berkompromi",
kata Sang Pencipta.
Akhirnya Malaikat menyentuh sesuatu di pipi,
"Eh, ada kebocoran di sini"
"Itu bukan kebocoran", kata Tuhan.
"Itu adalah air mata.... air mata kebahagiaan,
air mata kesedihan,
air mata kekecewaan, air mata kesakitan,
air mata kesepian, air mata
kebanggaan, air mata....,dan air mata...."
"Tuhan memang ahlinya....",
Malaikat berkata pelan.
Mulialah engkau wahai ibu.....
ps. if you love your mom send this to other person....
Peran
Suatu ketika di sebuah sekolah, diadakanReadmore »»
pementasan drama. Pentas drama yang meriah,
dengan pemain yang semuanya siswa-siswi di
sana. Setiap anak mendapat peran, dan
memakai kostum sesuai dengan tokoh yang
mereka perankan. Semuanya tampak serius,
sebab Pak Guru akan memberikan hadiah
kepada anak yang tampil terbaik dalam pentas.
Di depan panggung, semua orangtua murid
ikut hadir dan menyemarakkan acara itu.
Lakon drama berjalan dengan sempurna.
Semua anak tampil dengan maksimal. Ada
yang berperan sebagai petani, lengkap dengan
cangkul dan topinya, ada juga yang menjadi
nelayan, dengan jala yang disampirkan di bahu.
Di sudut sana, tampak pula seorang anak dengan
raut muka ketus, sebab dia kebagian peran
pak tua yang pemarah, sementara di sudut lain,
terlihat anak dengan wajah sedih, layaknya
pemurung yang selalu menangis. Tepuk tangan
dari para orangtua dan guru kerap terdengar,
di sisi kiri dan kanan panggung.
Tibalah kini akhir dari pementasan drama.
Dan itu berarti, sudah saatnya Pak Guru
mengumumkan siapa yang berhak mendapat
hadiah. Setiap anak tampak berdebar dalam hati,
berharap mereka terpilih menjadi pemain drama
yang terbaik. Dalam komat-kamit mereka berdoa,
supaya Pak Guru akan menyebutkan nama mereka,
dan mengundang ke atas panggung untuk menerima
hadiah. Para orangtua pun ikut berdoa,
membayangkan anak mereka menjadi yang terbaik.
Pak Guru telah menaiki panggung, dan tak lama
kemudian ia menyebutkan sebuah nama.
Ahha.. ternyata, anak yang menjadi pak tua pemarahlah
yang menjadi juara. Dengan wajah berbinar, sang
anak bersorak gembira. "Aku menang...", begitu
ucapnya. Ia pun bergegas menuju panggung, diiringi
kedua orangtuanya yang tampak bangga. Tepuk tangan
terdengar lagi. Sang orangtua menatap sekeliling,
menatap ke seluruh hadirin. Mereka bangga.
Pak Guru menyambut mereka. Sebelum
menyerahkan hadiah, ia sedikit bertanya kepada
sang "jagoan, "Nak, kamu memang hebat. Kamu
pantas mendapatkannya. Peranmu sebagai
seorang yang pemarah terlihat bagus sekali.
Apa rahasianya ya, sehingga kamu bisa tampil
sebaik ini? Kamu pasti rajin mengikuti latihan,
tak heran jika kamu terpilih menjadi yang terbaik.."
tanya Pak Guru. "Coba kamu ceritakan kepada
kami semua, apa yang bisa membuat kamu seperti ini..."
Sang anak menjawab, "Terima kasih atas hadiahnya Pak.
Dan sebenarnya saya harus berterima kasih kepada
Ayah saya di rumah. Karena, dari Ayah lah saya belajar
berteriak dan menjadi pemarah. Kepada Ayahlah saya
meniru perilaku ini. Ayah sering berteriak kepada saya,
maka, bukan hal yang sulit untuk menjadi pemarah seperti
Ayah."
Tampak sang Ayah yang mulai tercenung.
Sang anak mulai melanjutkan, "...Ayah membesarkan
saya dengan cara seperti ini, jadi peran ini, adalah
peran yang mudah buat saya..."
Senyap. Usai bibir anak itu terkatup, keadaan
tambah senyap. Begitupun kedua orangtua sang
anak di atas panggung, mereka tampak tertunduk.
Jika sebelumnnya mereka merasa bangga, kini
keadaannya berubah. Seakan, mereka berdiri
sebagai terdakwa, di muka pengadilan.
Mereka belajar sesuatu hari itu. Ada yang perlu
diluruskan dalam perilaku mereka.
Izinkan Aku Menciummu Bu
Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikanReadmore »»
pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan
tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya
setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku 'dipaksa'
membantunya memasak di pagi buta sebelum
ayah dan adik-adikku bangun.
Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku
bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan.
Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri
juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tidak
jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang
diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku
selalu bersungut-sungut.
Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia
melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi
seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang
tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa
kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku
menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang
dibanggakan oleh anak-anakku.
Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-
Kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam
kelas. Dengan sabar pula ia menunggu.
Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk
di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk
pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang
menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh
dan bosannya menunggu.
Yang penting aku senang ia menungguiku sampai
bel berbunyi.
Kini, setelah aku besar, aku malah sering
meninggalkannya, bermain bersama teman-teman,
bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia
sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat
tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang dewasa,
aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga.
Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa
malu berjalan bersamanya.
Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas
tak serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan
seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua
meter didepannya agar orang tak menyangka aku
sedang bersamanya.
Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu
memang tak pernah memikirkan penampilannya,
ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi
perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku
pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik,
ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang
belanja bulanannya. Padahal juga aku tahu, ia yang
dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih
sayang mengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku
ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan
mendekapku erat-erat saat aku menangis.
Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia
baruku di perguruan tinggi. Aku semakin merasa jauh
berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas dan
berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai
orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti
apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang
berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas
permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan
kampus lainnya.
Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang
kuanggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti
apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu
meraih gelar sarjananya. Meski Ibu bukan orang
berpendidikan, tapi do'a di setiap sujudnya, pengorbanan
dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih.
Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang
sekarang.
Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju
pelaminan. Ia tunjukkan bagaimana meneguhkan hati,
memantapkan langkah menuju dunia baru itu.
Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan,
jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku.
Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku
bersimpuh di kakinya. Saat itulah aku menyadari,
ia juga yang pertama kali memberikan kecupan
hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini.
Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku,
aku tak pernah lagi menjenguk nya atau menanyai
kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang baik dan
taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh
kerinduanku pada Ibu. Sungguh, kini setelah aku
mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman
uangku setiap bulannya tak lebih berarti dibanding
kehadiranku untukmu. Aku akan datang dan menciummu
Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.
2 Serigala
Ada 2 ekor serigala di hutan Rica-rica,Readmore »»
serigala B menantang serigala A untuk
menangkap seekor kelinci yang sedang makan
wortel, tidak jauh dari tempat mereka berdiri,
"Ayo Serigala A, kamu bisa ngga tangkap
kelinci itu?" tanya serigala B,
"Ah, itu gampang, lihat saja nih!" Jawab
serigala A, dan dengan sigap serigala A
itupun melompat ke arah kelinci tersebut,
dan berlari mengejarnya.
Sedangkan kelinci yang melihat serigala itu,
langsung lari terbirit-birit ketakutan, tanpa
pikir panjang wortel yang masih dikunyahnya di
lemparkan ke arah serigala tersebut,
"DUAAAKK!!" begitu suaranya..
Karena serigala adalah binatang yang kuat,
maka wortel kecil yang mengenai kepalanya
tidak terasa sama sekali, serigala tersebut
tetap mengejar kelinciitu, 1 menit.. 2 menit..
3 menit... sampai 5 menit..
Serigala itu belum dapat menangkap kelinci itu,
karena kelinci itu larinyalebih kencang.
serigala itupun kelelahan, dan menghentikan
pengejarannya.
Dengan perasaan yang sangat malu, dia menunduk
berjalan dan kembali ke temannya serigala B.
Setelah sampai di tempat serigala B, maka
serigala B itupun bertanya, "Bagaimana? Apakah
kamu bisa menangkapnya ?" tanya serigala B, lalu
serigala A hanya menggeleng-gelengkan kepalanya
yang masih tertunduk.
Serigala B lalu melanjutkan perkataanya :
"Kamu tahu, kenapa kamu tidak bisa menangkap
kelinci itu? Kamu kalah, karena kamu tidak serius.
Kamu berlari mengejar kelinci hanya untuk pamer
saja, sedangkan kelinci itu berlari untuk nyawanya."
Mungkin kita tertawa mendengar cerita ini, betapa
bodohnya seekor serigala yang seharusnya dapat
berlari sangat kencang, tetapi tidak dapat
menangkap seekor kelinci.
Tapi, kita dapat mengambil pelajaran dari
serigala tersebut, untuk orang yang sudah bekerja,
mungkin Anda merasa, Anda sangat lelah, Anda capai
dengan pekerjaan Anda, Anda merasa bosan, Anda
merasa tidak ada kemajuan sama sekali dalam
pekerjaan Anda, Itu dikarenakan karena Anda tidak
serius dengan pekerjaan Anda. Cobalah pikirkan
kembali, apakah tujuan sebenarnya Anda bekerja?
Apakah pekerjaan Anda yang sekarang sudah cocok
dengan bidang Anda? Terkadang ada orang yang
bekerja, karena tuntutan orang tua agar mencari
uang sendiri, atau kadang juga ada orang yang
bekerja, karena mereka merasa 'harus' bekerja
untuk membantu orang tua mereka menghidupi
keluarganya, atau ada juga orang yang bekerja
karena untuk dapat pamer pada teman-temannya,
pada sanak saudara, bahwa dia sudah bekerja.
Memang bekerja tidaklah salah, tapi jika
pekerjaan itu dilakukan dengan tidak serius
atau 'separuh hati' maka Anda akan merasa bosan,
merasa malas untuk bekerja, tidak ada gairah.
Lain halnya jika Anda bekerja, karena Anda
benar-benar menyukai pekerjaan tersebut dan
sesuai dengan bidang Anda, Anda akan enggan
berhenti bekerja untuk beristirahat, setiap
pagi Anda akanselalu terbangun dengan wajah
yang berseri-seri.
Jadi, apakah tujuan Anda bekerja ?
Jawaban ada di tangan Anda : )
Mawar Untuk Ibu
Seorang pria berhenti di toko bunga untukReadmore »»
memesan seikat karangan bunga yang akan
dipaketkan pada sang ibu yang tinggal jauh
250 km darinya. Begitu keluar dari mobilnya,
ia melihat seorang gadis kecil berdiri trotoar
jalan sambil menangis tersedu-sedu.
Pria itu menanyainya kenapa dan dijawab oleh
gadis kecil, "Saya ingin membeli setangkai
bunga mawar merah untuk ibu saya. Tapi saya
cuma punya uang lima ratus saja, sedangkan
harga mawar itu seribu."
Pria itu tersenyum dan berkata, "Ayo ikut,
aku akan membelikanmu bunga yang kau mau."
Kemudian ia membelikan gadis kecil itu
setangkai mawar merah, sekaligus memesankan
karangan bunga untuk dikirimkan ke ibunya.
Ketika selesai dan hendak pulang, ia menawarkan
diri untuk mengantar gadis kecil itu pulang ke rumah.
Gadis kecil itu melonjak gembira, katanya,
"Ya tentu saja. Maukah anda mengantarkan ke
tempat ibu saya?"
Kemudian mereka berdua menuju ke tempat yang
ditunjukkan gadis kecil itu, yaitu pemakaman umum,
dimana lalu gadis kecil itu meletakkan bunganya pada
sebuah kuburan yang masih basah.
Melihat hal ini, hati pria itu menjadi trenyuh dan teringat
sesuatu. Bergegas, ia kembali menuju ke toko bunga
tadi dan membatalkan kirimannya. Ia mengambil
karangan bunga yang dipesannya dan mengendarai
sendiri kendaraannya sejauh 250 km menuju rumah ibunya.
Saturday, May 24, 2008
Karet Gelang dan Kerikil
Suatu kali saya membutuhkan karet gelang. Satu saja.Readmore »»
Shampoo yang akan saya bawa tutupnya sudah dol.
Harus dibungkus lagi dengan plastik lalu diikat dengan
karet gelang. Kalau tidak bisa berabe. Isinya bisa tumpah
ruah mengotori seisi tas. Tapi saya tidak menemukan sebiji
pun karet gelang.
Di lemari tidak ada. Di gantungan-gantungan baju tidak ada.
Di kolong-kolong meja juga tidak ada. Saya jadi kelabakan.
Apa tidak usah bawa shampoo, nanti saja beli di jalan.
Tapi mana sempat, waktunya sudah mepet. Sudah ditunggu
yang jemput lagi. Akhirnya saya coba dengan tali kasur,
tidak bisa. Dipuntal-puntal pakai kantong plastik, juga tidak
bisa. Waduh, karet gelang yang biasanya saya buang-buang,
sekarang malah bikin saya bingung. Benda kecil yang sekilas
tidak ada artinya.
Saya jadi teringat pada seorang teman waktu di Yogyakarta dulu.
Dia tidak menonjol, apalagi berpengaruh. Sungguh.
Sangat biasa-bisa saja.
Dia hanya bisa mendengarkan saat orang-orang lain ramai
berdiskusi. Dia hanya bisa melakukan apa yang diperintahkan
kepadanya. Itu pun kadang-kadang salah. Kemampuan dia
memang sangat terbatas. Tetapi dia sangat senang membantu
orang lain; entah menemani pergi, membelikan sesuatu, atau
mengeposkan surat. Pokoknya apa saja asal membantu orang
lain, ia akan kerjakan dengan senang hati. Itulah sebabnya kalau
dia tidak ada, kami semua, teman-temannya, suka kelabakan juga.
tiba-tiba menjadi begitu penting.
Pernah suatu kali acara yang sudah kami persiapkan gagal,
karena dia tiba-tiba harus pulang kampung untuk suatu urusan.
Di dunia ini memang tidak ada sesuatu yang begitu kecilnya,
sehingga sama sekali tidak berarti. Benda yang sesehari
dibuang-buang pun, seperti karet gelang, pada saatnya bisa
menjadi begitu penting dan merepotkan.
Mau bukti lain? Tanyakanlah pada setiap pendaki gunung,
apa yang paling merepotkan mereka saat mendaki tebing curam?
Bukan teriknya matahari. Bukan beratnya perbekalan.
Tetapi kerikil-kerikil kecil yang masuk ke sepatu.
Karena itu, jangan pernah meremehkan apa pun.
Lebih-lebih meremehkan diri sendiri.
Bangga dengan diri sendiri itu tidak salah.
Yang salah kalau kita menjadi sombong,
lalu meremehkan orang lain.
Original text by Wardi.
Sendok Kuah
John mengundang ibunya makan malam di apartemennya.Readmore »»
Sewaktu makan, ibunya selalu memperhatikan betapa
cantiknya teman se-apartemen anaknya John.
Sang ibu malah sudah lama memendam kecurigaan adanya
hubungan istimewa antara John dan teman se apartemennya
dan oleh sebab itu menambah keinginantahuan sang ibu
tentang hubungan anaknya itu. Hingga malam hari, sang ibu
memperhatikan bagaimana kedua insan itu berinteraksi sang ibu
mulai ber-tanya2 dalam hatinya ada apa di balik hubungan John
dan temannya itu yang tidak kasat mata.
Membaca pikiran sang ibu, John berkata,"Saya tahu apa yang
ada dalam pikiran ibu, tetapi saya jamin, Julie dan saya hanyalah
TEMAN BIASA saja."
Satu minggu kemudian , Julie mengatakan pada John,
"Sejak ibumu datang makan malam, saya tidak dapat lagi
menemukan sendok perak kuah itu.
Kau tidak akan mengira ibumu membawanya bukan."
John berkata,"Aku meragukan hal itu, tetapi untuk memastikannya
aku akan menulis surat padanya.
Lalu John menulis suratnya sebagai berikut :
Ibu yang tercinta,
Saya tidak mengatakan ibu "mengambil" sendok kuah dari
apartemenku, dan saya juga tidak mengatakan ibu "tidak mengambil"
sendok kuah itu.
Tetapi faktanya adalah bahwa sendok kuah itu raib sejak ibu datang
makan malam disini.
Beberapa hari kemudian John menerima surat dari ibunya
yang berbunyi :
Puteraku sayang.
Ibu tidak mengatakan kau "tidur" dengan Julie, dan ibu juga tidak
mengatakan kau "tidak tidur" dengannya.
Tetapi faktanya adalah bila ia tidur di tempat tidurnya sendiri, ia akan
menemukan sendok kuah itu.
Ibumu tercinta.
Pelajaran untuk hari ini ------ "Jangan membohongi ibumu"
Lima Aturan
Seorang lelaki berumur 92 tahun yang mempunyaiReadmore »»
selera tinggi,percaya diri, dan bangga akan dirinya
sendiri,yang selalu berpakaian rapi setiap hari
sejak jam 8 pagi,dengan rambutnya yang teratur
rapi meskipun dia buta,masuk ke panti jompo hari
ini.Istrinya yang berumur 70 tahun baru-baru ini
meninggal,sehingga dia harus masuk ke panti
jompo. Setelah menunggu dengan sabar selama
beberapa jam di lobi, Dia tersenyum manis ketika
diberi tahu bahwa kamarnya telah siap.
Ketika dia berjalan mengikuti penunjuk jalan ke
elevator,aku menggambarkan keadaan kamarnya
yang kecil,termasuk gorden yang ada di jendela
kamarnya.
Saya menyukainya, katanya dengan antusias
seperti seorang anak kecil berumur 8 tahun yang
baru saja mendapatkan seekor anjing.
Pak, Anda belum melihat kamarnya, tahan dulu
perkataan tersebut.
Hal itu tidak ada hubungannya, dia menjawab.
Kebahagiaan adalah sesuatu yang kamu putuskan
di awal.
Apakah aku akan menyukai kamarku atau
tidak,tidak tergantung dari bagaimana
perabotannya diatur tapi bagaimana aku mengatur
pikiranku.
Aku sudah memutuskan menyukainya. Itu adalah
keputusan yang kubuat setiap pagi ketika aku
bangun tidur.
Aku punya sebuah pilihan; aku bisa menghabiskan
waktu di tempat tidur menceritakan kesulitan-
kesulitan yang terjadi padaku karena ada bagian
tubuhnya yang tidak bisa berfungsi lagi, atau turun
dari tempat tidur dan berterima kasih atas bagian-
bagian yang masih berfungsi.
Setiap hari adalah hadiah, dan selama mataku
terbuka,aku akan memusatkan perhatian pada hari
yang baru dan semua kenangan indah dan bahagia
yang pernah kualami dan kusimpan.
Hanya untuk kali ini dalam hidupku. Umur yang
sudah tua adalah seperti simpanan dibank.
Kita akan mengambil dari yang telah kita simpan.
Jadi, nasehatku padamu adalah untuk menyimpan
sebanyak-banyaknya kebahagiaan di bank
kenangan kita. Terima kasih padamu yang telah
mengisi bank kenanganku. Aku sedang
menyimpannya.
Ingat-ingatlah lima aturan sederhana untuk
menjadi bahagia:
1. Bebaskan hatimu dari rasa benci.
2. Bebaskan pikiranmu dari segala kekuatiran.
3. Hiduplah dengan sederhana.
4. Berikan lebih banyak (give more)
5. Jangan terlalu banyak mengharapkan balasan
setelah memberi (expect
less)
Seorang 'IBU' yang tak Pernah Pensiun
Televisi pertama kali masuk ke kampung kami kira-kiraReadmore »»
25 tahun lalu. Waktu itu saya masih di kelas lima SD.
Pemiliknya adalah tetangga dekat kami. Hampir semua
orang di kampung itu memanggil pemilik rumah itu 'IBU.'
Televisi itu 14 inci, hitam-putih. Sebelum ia bisa mengeluarkan
gambar sebagaimana layaknya televisi, kerepotan demi
kerepotan terjadi di sekitar rumah. Misalnya, di depan rumah
IBU harus ditanamkan antena lebih kurang lima meter. Pohon
cengkeh di depan rumah kalah sama itu antena. Kerepotan
lain adalah menyambung-nyambungkan kabel. Melekatkannya
di dinding rumah IBU yang besar itu.
Itu adalah tontonan yang menarik bagi anak-anak seusia saya.
Kami mengerumuni para pekerja yang mengerjakannya.
Melihat-lihat penuh rasa ingin tahu. Saya, didalam hati bahkan
punya target sendiri: saya harus jadi saksi sejarah pertama
melihat siaran televisi di kampung kami.
Ketika televisi itu kemudian menyala, hati saya bertempik sorak.
Kawan-kawan dan saya segera menerobos masuk ke rumah
IBU, dengan sedikit malu-malu, untuk menontonnya. Seingat saya,
acara sore itu adalah paduan suara anak2 asuhan Pranajaya,
dengan lagu: "Siapa yang paling manis, pasti mama tersayang..".
Lima menit setelah menyaksikannya, saya bergegas ke rumah.
Memanggil adik perempuan saya (sekarang sudah almarhum)
yang sedang memasak.
Saya bilang, kamu harus lihat itu televisi. Bagus. Dan adik saya
ikut berlari. Dan adik saya ikut menikmati keceriaan itu.
Malamnya sebagai imbalan, kami kena marah ibu-bapak.
Soalnya, adik saya meninggalkan tungku terlalu lama yang
menyebabkan kami harus memakan nasi gosong berkerak
malam itu...
Sejak hari itu kami punya acara rutin setiap sore. Jam 5-6 sore,
setelah pulang dari ladang dan mandi di sungai, rombongan saya
dan kawan-kawan sudah akan berdiri di depan pintu rumah IBU.
Mengetok pintu pelan-pelan dan setelah dibukakan, kami duduk
bersila di tikar. Menonton televisi. Bila sudah jam 7 atau jam 8,
tidak ada ampun, IBU akan berdiri. Mematikan televisi dan
menyuruh kami pulang. "Pulang, kalian harus belajar," begitu
selalu pesan IBU. Dan samasekali tak ada yang berani
membantah.
Mungkin bagi yang tidak tahu riwayatnya, agak aneh
kedengarannya, jika di Sarimatondang yang kebanyakan
orang berbahasa daerah Batak, ibu itu mendapat julukan IBU,
bukan Inang (dalam bahasa Batak Ibu=Inang). Tetapi tidak perlu
heran. Julukan IBU itu melekat kepadanya karena beliau adalah
guru pertama di kampung kami. Sebagian besar orang-orang tua
di kampung kami masih mencicipi didikannya. Dan sebagaimana
kita pernah dengar cerita orang tua dahulu, guru zaman dulu adalah
guru 24 jam. Di rumah dan di sekolah ia tetap menunjukkan
teladannya sebagai guru. Makanya panggilan IBU kepada
sang IBU itu melekat terus, sampai kepada kami, anak-anak, yang
sepantasnya memanggilnya nenek.
IBU adalah sosok yang terkenal dan berwibawa di kampung
kami. Tidak terlalu banyak bicara, tidak suka ngerumpi tetapi
ia dikagumi sekaligus ditakuti. Sebenarnya ia sudah lama
pensiun dan putra-putrinya sudah jadi 'orang' semua. Tetapi
kegiatan rutinnya tak berbeda jauh dengan orang-orang
kebanyakan di kampung kami. Pagi-pagi sekali dia sudah
bangun. Pergi ke kebun belakang rumahnya, menyiangi pohon
cengkeh, menebang tanaman liar yang sering tumbuh tanpa
permisi. Kalau hari Jumat, pagi-pagi sekali dia sudah menarik
kereta dorong berisi beras, yang jadi dagangannya di pasar.
Tidak sekali-dua kali anak-anak muda di kampung kami kena
damprat olehnya. Itu biasanya terjadi jika sedang musim ujian
sekolah, ketika kampung kami mendadak sepi. Anak-anak
sekolah mendekam di rumah, belajar (entah dengan serius
atau tidak). Pada saat-saat semacam itu ada kalanya ada
satu dua orang yang membandel, bermain-main gitar di pinggir
jalan atau di depan warung sambil mencoba-coba menjadi
The Mercys gadungan atau Panbers amatiran. Nah, orang-orang
ini bersiap-siaplah kena damprat sang IBU. IBU akan marah
besar karena melihat anak-anak itu tidak belajar. Ia juga lebih
marah karena dengan bernyanyi-nyanyi begitu, orang yang
belajar akan terganggu.
Kampung kami itu dikelilingi oleh enam Sekolah Dasar dan
satu SMP Negeri. Banyak ibu guru yang tinggal di kampung
kami, tetapi anehnya, hingga ketika IBU berpulang, belum
ada satu pun Ibu Guru yang menggantikan posisi sang IBU
untuk dipanggil IBU. Barangkali masih akan lama kami
menemukan ibu yang sekaliber IBU.
IBU itu memang sudah menjadi ikon tentang bagaimana
seharusnya seorang Ibu Guru. Dan yang membanggakan
kami, ia bukan hanya Ibu Guru bagi orang lain, tetapi juga
bagi dirinya sendiri dan anak-anaknya. Ia buktikan ajarannya
di tengah keluarganya.
Tak mengherankan bila ketika jenazahnya disemayamkan
di Rumah Duka, ratusan bahkan ribuan karangan bunga
dukacita berbaris sepanjang jalan. Bukan hanya dari bekas
murid-muridnya, tetapi terutama dari orang-orang yang
mengucapkan ikut berdukacita kepada putra-putrinya.
Putranya yang tertua adalah Prof. Dr. Bungaran Saragih,
menteri pertanian pada Kabinet Gus Dur dan Megawati.
Tiap kali saya ingat IBU, saya selalu bersyukur bahwa ia
adalah salah seorang dari banyak IBU di Indonesia.
Bangga saya jadi orang Indonesia.
Sumber: Seorang 'IBU' yang tak Pernah Pensiun oleh Eben Ezer
Siadari. Eben Ezer Siadari adalah wartawan, pemimpin redaksi
majalah WartaBisnis dan BisnisKita, tinggal di Jakarta.
Kisah Shay dan pilihan hidupnya
Pada sebuah jamuan makan malam pengadaan danaReadmore »»
untuk sekolah anak-anak cacat, ayah dari salah satu
anak yang bersekolah disana menghantarkan satu pidato
yang tidak mungkin dilupakan oleh mereka yang menghadiri
acara itu. Setelah mengucapkan salam pembukaan,
ayah tersebut mengangkat satu topik:
'Ketika tidak mengalami gangguan dari sebab-sebab
eksternal, segala proses yang terjadi dalam alam ini berjalan
secara sempurna/alami. Namun tidak demikian halnya dengan
anakku, Shay. Dia tidak dapat mempelajari hal-hal sebagai
mana layaknya anak-anak yang lain. Nah, bagaimanakah
proses alami ini berlangsung dalam diri anakku? '
Para peserta terdiam menghadapi pertanyaan itu.
Ayah tersebut melanjutkan: "Saya percaya bahwa,
untuk seorang anak seperti Shay, yang mana dia
mengalami gangguan mental dan fisik sedari lahir,
satu-satunya kesempatan untuk dia mengenali alam ini
berasal dari bagaimana orang-orang sekitarnya
memperlakukan dia"
Kemudian ayah tersebut menceritakan kisah berikut:
Shay dan aku sedang berjalan-jalan di sebuah taman
ketika beberapa orang anak sedang bermain baseball.
Shay bertanya padaku,"Apakah kau pikir mereka akan
membiarkanku ikut bermain?" Aku tahu bahwa kebanyakan
anak-anak itu tidak akan membiarkan orang-orang seperti
Shay ikut dalam tim mereka, namun aku juga tahu bahwa
bila saja Shay mendapat kesempatan untuk bermain dalam
tim itu, hal itu akan memberinya semacam perasaan dibutuhkan
dan kepercayaan untuk diterima oleh orang-orang lain, di luar
kondisi fisiknya yang cacat.
Aku mendekati salah satu anak laki-laki itu dan bertanya
apakah Shay dapat ikut dalam tim mereka, dengan tidak
berharap banyak. Anak itu melihat sekelilingnya dan berkata,
"kami telah kalah 6 putaran dan sekaran sudah babak kedelapan.
Aku rasa dia dapat ikut dalam tim kami dan kami akan mencoba
untuk memasukkan dia bertanding pada babak kesembilan
nanti'
Shay berjuang untuk mendekat ke dalam tim itu dan mengenakan
seragam tim dengan senyum lebar, dan aku menahan air mata
di mataku dan kehangatan dalam hatiku. Anak-anak tim tersebut
melihat kebahagiaan seorang ayah yang gembira karena
anaknya diterima bermain dalam satu tim.
Pada akhir putaran kedelapan, tim Shay mencetak beberapa
skor, namun masih ketinggalan angka. Pada putaran kesembilan,
Shay mengenakan sarungnya dan bermain di sayap kanan.
Walaupun tidak ada bola yang mengarah padanya, dia sangat
antusias hanya karena turut serta dalam permainan tersebut dan
berada dalam lapangan itu. Seringai lebar terpampang di wajahnya
ketika aku melambai padanya dari kerumunan. Pada akhir putaran
kesembilan, tim Shay mencetak beberapa skor lagi. Dan dengan
dua angka out, kemungkinan untuk mencetak kemenangan ada
di depan mata dan Shay yang terjadwal untuk menjadi pemukul
berikutnya.
Pada kondisi yg spt ini, apakah mungkin mereka akan
mengabaikan kesempatan untuk menang dengan membiarkan
Shay menjadi kunci kemenangan mereka? Yang mengejutkan
adalah mereka memberikan kesempatan itu pada Shay.
Semua yang hadir tahu bahwa satu pukulan adalah mustahil
karena Shay bahkan tidak tahu bagaimana caranya memegang
pemukul dengan benar, apalagi berhubungan dengan bola itu.
Yang terjadi adalah, ketika Shay melangkah maju kedalam arena,
sang pitcher, sadar bagaimana tim Shay telah mengesampingkan
kemungkinan menang mereka untuk satu momen penting dalam
hidup Shay, mengambil beberapa langkah maju ke depan dan
melempar bola itu perlahan sehingga Shay paling tidak bisa
mengadakan kontak dengan bola itu. Lemparan pertama meleset;
Shay mengayun tongkatnya dengan ceroboh dan luput. Pitcher tsb
kembali mengambil beberapa langkah ke depan, dan melempar
bola itu perlahan ke arah Shay. Ketika bola itu datang, Shay
mengayun ke arah bola itu dan mengenai bola itu dengan satu
pukulan perlahan kembali ke arah pitcher. Permainan seharusnya
berakhir saat itu juga, pitcher tsb bisa saja dengan mudah
melempar bola ke baseman pertama, Shay akan keluar, dan
permainan akan berakhir.
Sebaliknya, pitcher tsb melempar bola melewati baseman
pertama, jauh dari jangkauan semua anggota tim. Penonton
bersorak dan kedua tim mulai berteriak, "Shay, lari ke base satu!
Lari ke base satu!". Tidak pernah dalam hidup Shay sebelumnya
ia berlari sejauh itu, tapi dia berhasil melaju ke base pertama.
Shay tertegun dan membelalakkan matanya.
Semua orang berteriak, "Lari ke base dua, lari ke base dua!"
Sambil menahan napasnya, Shay berlari dengan canggung
ke base dua. Ia terlihat bersinar-sinar dan bersemangat dalam
perjuangannya menuju base dua. Pada saat Shay menuju base
dua, seorang pemain sayap kanan memegang bola itu di tangannya.
Pemain itu merupakan anak terkecil dalam timnya, dan dia saat itu
mempunyai kesempatan menjadi pahlawan kemenangan
tim untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia dapat dengan
mudah melempar bola itu ke penjaga base dua. Namun pemain
ini memahami maksud baik dari sang pitcher, sehingga diapun
dengan tujuan yang sama melempar bola itu tinggi ke atas jauh
melewati jangkauan penjaga base ketiga. Shay berlari menuju
base ketiga.
Semua yang hadir berteriak,
"Shay, Shay, Shay, teruskan perjuanganmu Shay"
Shay mencapai base ketiga saat seorang pemain lawan
berlari ke arahnya dan memberitahu Shay arah selanjutnya
yang mesti ditempuh. Pada saat Shay menyelesaikan base
ketiga, para pemain dari kedua tim dan para penonton yang
berdiri mulai berteriak, "Shay, larilah ke home, lari ke home!".
Shay berlari ke home, menginjak balok yg ada, dan dielu-elukan
bak seorang hero yang memenangkan grand slam. Dia telah
memenangkan game untuk timnya.
Hari itu, kenang ayah tersebut dengan air mata yang
berlinangan di wajahnya, para pemain dari kedua tim
telah menghadirkan sebuah cinta yang tulus dan nilai
kemanusiaan ke dalam dunia.
Shay tidak dapat bertahan hingga musim panas berikut dan
meninggal musim dingin itu. Sepanjang sisa hidupnya dia
tidak pernah melupakan momen di mana dia telah menjadi
seorang hero, bagaimana dia telah membuat ayahnya bahagia,
dan bagaimana dia telah membuat ibunya menitikkan air
mata bahagia akan sang pahlawan kecilnya.
Seorang bijak pernah berkata, sebuah masyarakat akan
dinilai dari cara mereka memperlakukan seorang yang
paling tidak beruntung di antara mereka.
Catatan:
Kita sering mengirim ribuan jokes lewat email tanpa pikir
panjang, namun bila kita harus mengirimkan mail tentang
pilihan dalam hidup, kita seringkali ragu. Kejadian-kejadian
vulgar, kasar dan mengerikan acap terjadi dalam hidup ini,
namun pembicaraan tentangnya seolah tertelan waktu,
baik itu di lingkungan pendidikan atau kerja. Jika Anda
berpikir untuk forward email ini, kemungkinannya Anda
akan memilih daftar orang-orang dari email address Anda
yang Anda pikir layak untuk menerima email Anda.
Ingatlah, bahwa orang yang mengirimi Anda email ini
berpikir bahwa kita semua dapat membuat perbedaan.
Kita semua mempunyai banyak pilihan dalam hidup setiap
harinya untuk dapat memahami "kejadian alami dalam hidup".
Begitu banyak hubungan antar 2 manusia yang kelihatan remeh,
sebenarnya telah meninggalkan 2 pertanyaan bagi kita:
Apakah kita telah meninggalkan cinta dan kemanusiaan
atau apakah kita telah melewatkan kesempatan untuk berbagi
kasih dengan mereka yang kurang beruntung, yang
menyebabkan hidup ini menjadi dingin?
"We can do no great things - only small things with great love." Mother
Teresa (1910-1997)
Kisah bayi mencari malaikat
Suatu hari seorang bayi siap untuk dilahirkan keReadmore »»
dunia. Dia bertanya kepada Tuhan:
"Para malaikat disini mengatakan bahwa besok Engkau
akan mengirimku ke dunia, tetapi bagaimana cara saya
hidup di sana, saya begitu kecil dan lemah?"
Tuhan menjawab: "Aku telah memilih satu malaikat
untukmu. Ia akan menjaga dan mengasihimu."
"Tapi di sini, di dalam surga, apa yang pernah saya
lakukan hanyalah bernyanyi dan tertawa. Ini sudah
cukup bagi saya untuk bahagia."
"Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu
setiap hari. Dan kamu akan merasakan kehangatan
cintanya dan menjadi lebih bahagia."
"Dan bagaimana saya bisa mengerti saat orang-orang
berbicara kepadaku jika saya tidak mengerti bahasa
mereka?"
"Malaikatmu akan berbicara kepadamu dengan bahasa yang
paling indah yang pernah kamu dengar, dan dengan penuh
kesabaran dan perhatian, dia akan mengajarkan
bagaimana cara berbicara."
"Apa yang akan saya lakukan saat saya ingin berbicara
kepadaMu?"
"Malaikatmu akan mengajarkan bagaimana cara berdoa."
"Saya mendengar di bumi banyak orang jahat. Siapa yang
akan melindungi saya?"
"Malaikatmu akan melindungimu, walaupun hal itu
mungkin akan mengancam jiwanya."
"Tapi, saya pasti akan merasa sedih karena tidak
melihatMu lagi."
"Malaikat akan menceritakan kepadamu tentang-Ku dan
akan mengajarkan bagaimana agar kamu bisa kembali
kepada-Ku, walaupun sesungguhnya Aku akan selalu
berada di sisimu."
Saat itu surga begitu tenangnya sehingga suara dari
bumi dapat terdengar, dan sang bayi bertanya perlahan,
"Tuhan, jika saya harus pergi sekarang, bisakah Engkau
memberitahuku nama malaikat tersebut?"
"Kamu akan memanggil malaikatmu, "IBU"
Kisah Orang Tua Bijak
Pernah ada seorang tua yang hidup di desa kecil.Readmore »»
Meskipun ia miskin, semua orang cemburu kepadanya
karena ia memiliki kuda putih cantik. Bahkan raja
menginginkan hartanya itu. Kuda seperti itu belum
pernah dilihat orang, begitu gagah, anggun dan kuat.
Orang-orang menawarkan harga amat tinggi untuk kuda
jantan itu, tetapi orang tua itu selalu menolak :
"Kuda ini bukan kuda bagi saya", katanya : "Ia adalah
seperti seseorang. Bagaimana kita dapat menjual
seseorang. Ia adalah sahabat bukan milik. Bagaimana
kita dapat menjual seorang sahabat ?" Orang itu miskin
dan godaan besar. Tetapi ia tidak menjual kuda itu.
Suatu pagi ia menemukan bahwa kuda itu tidak ada di
kandangnya. Seluruh desa datang menemuinya. "Orang tua
bodoh", mereka mengejek dia : "Sudah kami katakan
bahwa seseorang akan mencuri kudamu. Kami peringatkan
bahwa kamu akan di rampok. Anda begitu miskin... Mana
mungkin anda dapat melindungi binatang yang begitu
berharga ? Sebaiknya anda menjualnya. Anda boleh
minta harga apa saja. Harga setinggi apapun akan
dibayar juga. Sekarang kuda itu hilang dan anda
dikutuk oleh kemalangan".
Orang tua itu menjawab : "Jangan bicara terlalu cepat.
Katakan saja bahwa kuda itu tidak berada di
kandangnya. Itu saja yang kita tahu; selebihnya adalah
penilaian. Apakah saya di kutuk atau tidak, bagaimana
Anda dapat ketahui itu ? Bagaimana Anda dapat
menghakimi ?". Orang-orang desa itu protes : "Jangan
menggambarkan kami sebagai orang bodoh! Mungkin kami
bukan ahli filsafat, tetapi filsafat hebat tidak di
perlukan. Fakta sederhana bahwa kudamu hilang adalah
kutukan".
Orang tua itu berbicara lagi : "Yang saya tahu
hanyalah bahwa kandang itu kosong dan kuda itu pergi.
Selebihnya saya tidak tahu. Apakah itu kutukan atau
berkat, saya tidak dapat katakan.Yang dapat kita lihat
hanyalah sepotong saja. Siapa tahu apa yang akan
terjadi nanti ?"
Orang-orang desa tertawa. Menurut mereka orang itu
gila. Mereka memang selalu menganggap dia orang tolol;
kalau tidak, ia akan menjual kuda itu dan hidup dari
uang yang diterimanya.
Sebaliknya, ia seorang tukang potong kayu miskin,
orang tua yang memotong kayu bakar
dan menariknya keluar hutan lalu menjualnya. Uang yang
ia terima hanya cukup untuk membeli makanan, tidak
lebih. Hidupnya sengsara sekali. Sekarang ia sudah
membuktikan bahwa ia betul-betul tolol.
Sesudah lima belas hari, kuda itu kembali. Ia tidak di
curi, ia lari ke dalam hutan. Ia tidak hanya kembali,
ia juga membawa sekitar selusin kuda liar bersamanya.
Sekali lagi penduduk desa berkumpul sekeliling tukang
potong kayu itu dan mengatakan : "Orang tua, kamu
benar dan kami salah. Yang kami anggap kutukan
sebenarnya berkat. Maafkan kami".
Jawab orang itu : "Sekali lagi kalian bertindak
gegabah. Katakan saja bahwa kuda itu sudah balik.
Katakan saja bahwa selusin kuda balik bersama dia,
tetapi jangan menilai. Bagaimana kalian tahu bahwa ini
adalah berkat ? Anda hanya melihat sepotong saja.
Kecuali kalau kalian sudah mengetahui seluruh cerita,
bagaimana anda dapat menilai ? Kalian hanya membaca
satu halaman dari sebuah buku. Dapatkah kalian menilai
seluruh buku ? Kalian hanya membaca satu kata dari
sebuah ungkapan. Apakah kalian dapat mengerti seluruh
ungkapan ? Hidup ini begitu luas, namun Anda menilai
seluruh hidup berdasar! kan satu halaman atau satu
kata.Yang anda tahu hanyalah sepotong! Jangan katakan
itu adalah berkat. Tidak ada yang tahu. Saya sudah
puas dengan apa yang saya tahu. Saya tidak terganggu
karena apa yang saya tidak tahu".
"Barangkali orang tua itu benar," mereka berkata satu
kepada yang lain. Jadi mereka tidak banyak
berkata-kata. Tetapi di dalam hati mereka tahu ia
salah. Mereka tahu itu adalah berkat. Dua belas kuda
liar pulang bersama satu kuda. Dengan kerja sedikit,
binatang itu dapat dijinakkan dan dilatih, kemudian
dijual untuk banyak uang.
Orang tua itu mempunyai seorang anak laki-laki. Anak
muda itu mulai menjinakkan kuda-kuda liar itu. Setelah
beberapa hari, ia terjatuh dari salah satu kuda dan
kedua kakinya patah. Sekali lagi orang desa berkumpul
sekitar orang tua itu dan menilai. "Kamu benar", kata
mereka : "Kamu sudah buktikan bahwa kamu benar.
Selusin kuda itu bukan berkat. Mereka adalah kutukan.
Satu-satunya puteramu patah kedua kakinya dan sekarang
dalam usia tuamu kamu tidak ada siapa-siapa untuk
membantumu... Sekarang kamu lebih miskin lagi. Orang
tua itu berbicara lagi : "Ya, kalian kesetanan dengan
pikiran untuk menilai, menghakimi. Jangan keterlaluan.
Katakan saja bahwa anak saya patah kaki. Siapa tahu
itu berkat atau kutukan ? Tidak ada yang tahu. Kita
hanya mempunyai sepotong cerita. Hidup ini datang
sepotong-sepotong".Maka terjadilah dua minggu kemudian
negeri itu berperang dengan negeri tetangga. Semua
anak muda di desa diminta untuk menjadi tentara. Hanya
anak si orang tua tidak diminta karena ia
terluka. Sekali lagi orang berkumpul sekitar orang tua
itu sambil menangis dan berteriak karena anak-anak
mereka sudah dipanggil untuk bertempur. Sedikit sekali
kemungkinan mereka akan kembali. Musuh sangat kuat dan
perang itu akan dimenangkan musuh. Mereka tidak akan
melihat anak-anak mereka kembali. "Kamu benar, orang
tua", mereka menangis : "Tuhan tahu, kamu benar. Ini
buktinya. Kecelakaan anakmu
merupakan berkat. Kakinya patah, tetapi paling tidak
ia ada bersamamu. Anak-anak kami pergi untuk
selama-lamanya".
Orang tua itu berbicara lagi : "Tidak mungkin untuk
berbicara dengan kalian. Kalian selalu menarik
kesimpulan. Tidak ada yang tahu. Katakan hanya ini :
anak-anak kalian harus pergi berperang, dan anak saya
tidak. Tidak ada yang tahu apakah itu berkat atau
kutukan. Tidak ada yang cukup bijaksana untuk
mengetahui. Hanya Allah yang tahu".
Moral cerita :
Orang tua itu benar. Kita hanya tahu sepotong dari
seluruh kejadian. Kecelakaan-kecelakaan dan kengerian
hidup ini hanya merupakan satu halaman dari buku
besar. Kita jangan terlalu cepat menarik kesimpulan.
Kita harus simpan dulu penilaian kita dari badai-badai
kehidupan sampai kita ketahui seluruh cerita.
Ayo, Terus Bergerak!
Air, jika dibiarkan terus menggenang, tanpa aliran,Readmore »»
lama-lama akan menjadi sarang penyakit. Demikian
juga udara, jika dibiarkan berhenti, tak berhembus,
akan menimbulkan kepengapan dan akhirnya merusak
pernapasan. Semua harus bergerak.
Tidak boleh ada yang diam.
Adalah kenyataan bahwa segala ciptaan Allah selalu
bergerak. Bumi, matahari, bulan, bintang, dan semua
tata surya berotasi tiada henti. Sekali terhenti akan
terjadi kerusakan dan bencana yang luar biasa. Bahkan
makhluk-makhluk mikro seperti bakteri dan virus pun bergerak.
Hukum Tuhan yang terjadi pada alam raya itu sesungguhnya
terjadi juga pada diri manusia. Secara fisik, jika manusia
berhenti, diam, dan tidak melakukan aktifitas, maka dalam
kurun waktu tertentu kesehatannya pasti terganggu.
Selain mudah lelah, berbagai penyakit akan mulai berdatangan.
Demikian pula halnya dengan pikiran.
Seseorang yang membiarkan otaknya berhenti berpikir,
maka dalam jangka waktu tertentu pikirannya akan terganggu.
Sulit berpikir logis dan sistematis.
Berpikirnya meloncat-loncat, sulit mengingat, dan mudah lupa.
Menurut penelitian ilmiah, orang yang kurang terbiasa
menggunakan pikirannya, pada usia tuanya akan menjadi pikun.
Jika rumus pergerakan itu terjadi pada alam dan individu
manusia, maka hal yang sama juga pasti berlaku pada sebuah
masyarakat dan organisasi.
Jangan sekali-kali berhenti, diam, atau stagnan.
Karena diam itu berarti mati. Diam itu bisa membawa penyakit.
Diam itu tidak sehat. Jangan takut perubahan, perbaikan, dan
pembaruan. Sebab semua ciptaan-Nya ditakdirkan selalu
bergerak dalam sebuah rotasi yang telah ditentukan.
Bahagia, ada pada Jiwa yang Bisa Bersyukur
Pernah membayangkan, bagaimana seseorang menulis buku,Readmore »»
bukan dengan tangan atau anggota tubuh lainnya, tetapi
dengan kedipan kelopak mata kirinya? Jika Anda mengatakan
itu hal yang mustahil untuk dilakukan, tentu saja Anda belum
mengenal orang yang bernama Jean-Dominique Bauby.
Dia pemimpin redaksi majalah Elle, majalah kebanggaan
Prancis yang digandrungi wanita seluruh dunia.
Betapa mengagumkan tekad dan semangat hidup maupun
kemauannya untuk tetap menulis dan membagikan kisah
hidupnya yang begitu luar biasa. Ia meninggal tiga hari setelah
bukunya diterbitkan. Setelah tahu apa yang dialami si Jean
dalam menempuh hidup ini, pasti Anda akan berpikir,
"Berapa pun problem dan stres dan beban hidup kita semua,
hampir tidak ada artinya dibandingkan dengan si Jean!"
Tahun 1995, ia terkena stroke yang menyebabkan seluruh
tubuhnya lumpuh. Ia mengalami apa yang disebut locked-in
syndrome, kelumpuhan total yang disebutnya "Seperti pikiran
di dalam botol". Memang ia masih dapat berpikir jernih tetapi
sama sekali tidak bisa berbicara maupun bergerak.
Satu-satunya otot yang masih dapat diperintahnya adalah
kelopak mata kirinya. Jadi itulah cara dia berkomunikasi
dengan para perawat, dokter rumah sakit, keluarga dan temannya.
Begini cara Jean menulis buku. Mereka (keluarga, perawat,
teman-temannya) menunjukkan huruf demi huruf dan si Jean
akan berkedip apabila huruf yang ditunjukkan adalah yang
dipilihnya. "Bukan main," kata Anda.
Ya, itu juga reaksi semua yang membaca kisahnya. Buat kita,
kegiatan menulis mungkin sepele dan menjadi hal yang biasa.
Namun, kalau kita disuruh "menulis" dengan cara si Jean, barang
kali kita harus menangis dulu berhari-hari dan bukan buku yang jadi,
tapi mungkin meminta ampun untuk tidak disuruh melakukan apa
yang dilakukan Jean dalam pembuatan bukunya.
Tahun 1996 ia meninggal dalam usia 45 tahun setelah
menyelesaikan memoarnya yang ditulisnya secara sangat
istimewa. Judulnya, "Le Scaphandre" et le Papillon
(The Bubble and the Butterfly).
Jean adalah contoh orang yang tidak menyerah pada nasib
yang digariskan untuknya. Dia tetap hidup dalam kelumpuhan
dan tetap berpikir jernih untuk bisa menjadi seseorang yang
berguna, walaupun untuk menelan ludah pun, dia tidak mampu,
karena seluruh otot dan saraf di tubuhnya lumpuh. Tetapi yang
patut kita teladani adalah bagaimana dia menyikapi situasi hidup
yang dialaminya dengan baik dan tetap menjadi seorang manusia
(bahasa Sansekerta yang berarti pikiran yang terkendali), bahkan
bersedia berperan langsung dalam film yang mengisahkan dirinya.
Jean, tetap hidup dengan bahagia dan optimistis, dengan
kondisinya yang seperti sosok mayat bernapas. Sedangkan
kita yang hidup tanpa punya problem seberat Jean, sering
menjadi manusia yang selalu mengeluh..! Coba ingat-ingat
apa yang kita lakukan. Ketika mendapat cuaca hujan,
biasanya menggerutu. Sebaliknya, mendapat cuaca panas
juga menggerutu. Punya anak banyak mengeluh, tidak punya
anak juga mengeluh. Carl Jung, pernah menulis demikian:
"Bagian yang paling menakutkan dan sekaligus menyulitkan
adalah menerima diri sendiri secara utuh, dan hal yang paling
sulit dibuka adalah pikiran yang tertutup!"
Maka, betapapun kacaunya keadaan kita saat ini, bagi yang
sedang stres berat, yang sedang berkelahi baik dengan diri
sendiri maupun melawan orang lain, atau anggota keluarga
yang sedang tidak bahagia karena kebutuhan hidupnya tidak
terpenuhi, yang baru mendapat musibah kecelakaan atau
bencana, bagi yang sedang di-PHK, ingatlah kita masih bisa
menelan ludah, masih bisa makan dan menggerakkan anggota
tubuh lainnya. Maka bersyukurlah, dan berbahagialah...!
Jangan menjadi pengeluh, penggerutu, penuntut abadi,
tapi bijaksanalah untuk bisa selalu think and thank
(berpikir, kemudian berterima kasih/ bersyukurl).
Dalam artikel yang berjudul Kegagalan & Kesuksesan Hasil
Konsekuensi Pikiran (SPM 26 Februari 2005) dituliskan,
seseorang yang sadar sepenuhnya, dia datang ke dunia ini
hanya dibekali sebuah nyawa (jiwa). Nah, nyawa itu harus
dirawat dengan menjalani kehidupan secara bertanggung jawab.
Dengan nyawa ini pulalah, seseorang harus hidup bahagia,
di manapun dia berada, dan dalam kondisi apapun, dia harus
bisa bahagia. Kunci kebahagiaan adalah bersyukur!
Mensyukuri apa yang kita dapat itu penting, termasuk sebuah
nyawa agar kita bisa hidup di alam ini. Dan kebahagiaan bisa
dibuat, dengan tidak meminta (menuntut) apapun pada orang lain,
tetapi memberikan apa yang bisa diberikan kepada orang lain
agar mereka bahagia. Jadilah seseorang yang merasa
ada gunanya untuk kehidupan ini.
Untuk itu, Anda bisa mendengarkan intuisi sendiri sehingga
bertindak sesuai nurani dan menghasilkan apa yang Anda
inginkan dalam hidup. Hadapi hidup dengan tabah karena
orang-orang beruntung bukan tidak pernah gagal.
Bukan tidak pernah ditolak, juga bukan tidak pernah kecewa.
Justru banyak orang yang sukses itu sebetulnya orang yang
telah banyak mengalami kegagalan.
Berpikirlah positif, Anda akan menjadi orang yang beruntung.
Banyak cerita tentang keberuntungan berasal dari kejadian-
kejadian yang tidak menguntungkan. Misalnya, kehilangan
pekerjaan memunculkan ide besar untuk mulai bisnis sendiri
dan menjadi majikan. Ditolak pun bisa mendatangkan kesuksesan.
Tetapi, untuk mendapatkan keberuntungan diperlukan usaha.
Dan mulailah sekarang juga untuk berusaha!
Sumber: Bahagia, ada pada Jiwa yang Bisa Bersyukur oleh Lianny
Hendranata
Segala Sesuatu Yang Berputar Selalu Berputar
Bryan hampir saja tidak melihat wanita tua yang berdiriReadmore »»
di pinggir jalan itu, tetapi dalam cahaya berkabut ia dapat
melihat bahwa wanita tua itu membutuhkan pertolongan.
Lalu ia menghentikan mobil Pontiacnya di depan mobil
Mecedes wanita tua itu, lalu ia keluar dan menghampirinya.
Walaupun dengan wajah tersenyum wanita itu tetap
merasa khawatir, karena setelah menunggu beberapa jam
tidak ada seorang pun yang menolongnya.
Apakah lelaki itu bermaksud menyakitinya?
Lelaki tersebut penampilanya tidak terlalu baik,
ia kelihatan begitu memprihatinkan. Wanita itu dapat
merasakan kalau dirinya begitu ketakutan, berdiri
sendirian dalam cuaca yang begitu dingin, sepertinya
lelaki tersebut tau apa yang ia pikirkan. Lelaki itu berkata
" saya kemari untuk membantu anda bu, kenapa anda
tidak menunggu didalam mobil bukankah disana lebih
hangat? oh ya nama saya Bryan.
Bryan masuk kedalam kolong mobil wanita itu untuk
memperbaiki yang rusak.
Akhirnya ia selesai, tetapi dia kelihatan begitu kotor
dan lelah, wanita itu membuka kaca jendela mobilnya
dan berbicara kepadanya, ia berkata bahwa ia dari
st louis dan kebetulan lewat jalan ini. Dia merasa
tidak cukup kalau hanya mengucapkan terima kasih
atas bantuan yang telah diberikan.
Wanita itu berkata berapa yang harus ia bayar,
berapapun jumlahnya yang ia minta tidak menjadi masalah,
karena ia membayangkan apa yang akan terjadi jika lelaki
tersebut tidak menolongnya. Bryan hanya tersenyum.
Bryan tidak mengatakan berapa jumlah yang harus dibayar,
karena baginya menolong orang bukanlah suatu pekerjaan.
Ia yakin apabila menolong seseorang yang membutuhkan
pertolongan tanpa suatu imbalan suatu hari
nanti Tuhan pasti akan membalas amal perbuatanya.
Ia berkata kepada wanita itu " Bila ia benar-benar ingin
membalas jasanya, maka apabila suatu saat nanti apabila
ia melihat seseorang yang membutuhkan pertolongan maka
tolonglah orang tersebut "...dan ingatlah pada saya".
Bryan menunggu sampai wanita itu menstater mobilnya dan
menghilang dari pandangan.
Setelah berjalan beberapa mil wanita itu melihat kafe kecil,
lalu ia mampir kesana untuk makan dan beristirahat sebentar.
Pelayan datang dan memberikan handuk bersih untuk
mengeringkan rambutnya yang basah.
Wanita itu memperhatikan sang pelayan yang sedang hamil,
dan masih begitu muda. Lalu ia teringat kepada Bryan.
Setelah wanita itu selesai makan dan, sang pelayan sedang
mengambil kembalian untuknya, wanita itu pergi keluar
secara diam-diam.
Setelah kepergiannya sang pelayan kembali, pelayan itu bingung
kemana wanita itu pergi, lalu ia menemukan secarik kertas di atas
meja dan uang $1000. Ia begitu terharu setelah membaca apa
yang ditulis oleh wanita itu:
"Kamu tidak berhutang apapun pada saya karena seseorang telah
menolong saya, oleh karena itulah saya menolong kamu, maka
inilah yang harus kamu lakukan:
"Jangan pernah berhenti untuk memberikan cinta dan kasih sayang".
Malam ketika ia pulang dan pergi tidur, ia berfikir mengenai uang
dan apa yang di tulis oleh wanita itu.
Bagaimana wanita itu bisa tahu kalau ia dan suaminya sangat
membutuhkan uang untuk menanti kelahiran bayinya?
Ia tau bagaimana suaminya sangat risau mengenai hal ini, lalu ia
memeluk suaminya yang terbaring disebelahnya dan memberikan
ciuman yang lembut sambil berbisik :"semuanya akan baik-baik saja,
I Love You Bryan"
"Segala sesuatu yang berputar akan selalu berputar", therefore, don't
ever to stop to do good things in your life..
Subscribe to:
Posts (Atom)