Friday, May 30, 2008

Si Tukang Kayu Tua

Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari
pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi real

estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut
pada
pemilik perusahaan. Ia ingin beristirahat dan
menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian
bersama istri dan keluarganya.


Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan
salah
seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon
pada
tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah
rumah
untuk dirinya. Tukang kayu mengangguk
menyetujui
permohonan pribadi pemilik perusahaan
itu. Tapi,
sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin
segera
berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan.

Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu.
Ia cuma
menggunakan bahan-bahan sekedarnya.
Akhirnya
selesailah rumah yang diminta oleh tuannya.
Hasilnya
bukanlah sebuah rumah yang baik. Sungguh
sayang ia
harus mengakhiri kariernya dengan prestasi
yang tidak
begitu mengagumkan. Ketika pemilik
perusahaan itu datang melihat rumah
yang dimintanya,
ia menyerahkan sebuah kunci rumah
pada si tukang kayu.
'Ini adalah rumahmu, ' katanya, 'hadiah dari kami.'

Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan

menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa
ia
sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya
sendiri,
ia tentu akan mengerjakannya dengan cara
yang lain
sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah
rumah
yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.
Teman, itulah yang terjadi pada kehidupan kita.


Kadangkala, banyak dari kita yang membangun
kehidupan
dengan cara yang membingungkan
dan kurang bertanggung
jawab.Lebih memilih
berusaha ala kadarnya ketimbang
mengupayakan
yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian
terpenting
dalam hidup kita tidak memberikan yang
terbaik.

Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa

yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita
hidup
di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan
sendiri.
Seandainya kita menyadarinya sejak semula
kita akan
menjalani hidup ini dengan cara yang jauh
berbeda.


Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu.
Renungkan
'rumah' yang sedang kita bangun.
Setiap hari kita
memukul paku, memasang papan,
mendirikan dinding dan
atap. Mari kita selesaikan
'rumah' kita dengan
sebaik-baiknya seolah-olah
hanya mengerjakannya sekali
saja dalam seumur hidup.

No comments: