Berikut ini adalah cerita kegemaran guru saya,
Tony Wong dari Cina.
Sepasang pengantin baru tengah berjalan bergandengan
tangan di sebuah hutan pada suatu malam musim panas
yang indah, seusai makan malam. Mereka sedang menikmati
kebersamaan yang menakjubkan tatkala mereka
mendengar suara di kejauhan: "Kuek! Kuek!"
"Dengar," kata si istri, "Itu pasti suara ayam."
"Bukan, bukan. Itu suara bebek," kata si suami.
"Nggak, aku yakin itu ayam," si istri bersikeras.
"Mustahil. Suara ayam itu 'kukuruyuuuk!', bebek itu
'kuek! kuek!' Itu bebek, Sayang," kata si suami dgn
disertai gejala-gejala awal kejengkelan.
"Kuek! Kuek!" terdengar lagi.
"Nah, tuh! Itu suara bebek," kata si suami.
"Bukan, Sayang. Itu ayam. Aku yakin betul,"
tandas si istri, sembari menghentakkan kaki.
"Dengar ya! Itu a? da? lah? be? bek, B-E-B-E-K.
Bebek! Mengerti?" si suami berkata dengan gusar.
"Tapi itu ayam", masih saja si istri bersikeras.
"Itu jelas-jelas buebek, kamu tahu?", bantah suami
Terdengar lagi suara, "Kuek! Kuek!" sebelum si suami
mengatakan sesuatu yang sebaiknya tak dikatakannya.
Si istri sudah hampir menangis, "Tapi itu ayam?."
Si suami melihat air mata yang mengambang di pelupuk
mata istrinya, dan akhirnya, ingat kenapa dia menikahinya.
Wajahnya melembut dan katanya dengan mesra,
"Maafkan aku, Sayang. Kurasa kamu benar. Itu memang suara
ayam kok."
"Terima kasih, Sayang," kata si istri sambil menggenggam
Tangan suaminya. "Kuek! Ku ek!" terdengar lagi suara di hutan,
Mengiringi mereka berjalan bersama dalam cinta.
Moral cerita :
-------------
Maksud dari cerita bahwa si suami akhirnya sadar adalah:
siapa sih yang peduli itu ayam atau bebek? Yang lebih
penting adalah keharmonisan mereka, yang membuat mereka
dapat menikmati kebersamaan pada malam yang indah itu.
Berapa banyak pernikahan yang hancur hanya gara-gara
persoalan sepele? Berapa banyak perceraian terjadi karena
hal-hal "ayam atau bebek"? Contoh tsb di atas tentunya
juga berlaku di dunia bisnis.
Ketika kita memahami cerita tersebut, kita akan ingat apa
yang menjadi prioritas kita. Banyak hal jauh lebih penting
ketimbang mencari siapa yang benar tentang apakah itu
ayam atau bebek.
Lagi pula, betapa sering kita merasa yakin, amat sangat
mantap, mutlak bahwa kita benar, namun belakangan ternyata
kita salah? Lho, siapa tahu?
Mungkin saja itu adalah ayam yang direkayasa genetik
sehingga bersuara seperti bebek! Hehhe..
No comments:
Post a Comment