Saturday, July 5, 2008

Mulailah Dari Diri Sendiri

"Berusahalah untuk selalu menjadi pihak pertama
yang menunjukkan cinta dan perhatian Anda kepada
orang lain. Jangan menuntut perhatian dan cinta
mereka untuk diperlihatkan lebih dahulu. Itulah satu-
satunya cara yang saya ketahui untuk ke luar dari
kegelapan hidup," demikian dikatakan Ny.Eunice
Chew (52 tahun), salah satu finalis pemilihan ibu
Teladan se-Singapura tahun ini.

Diadopsi oleh pasangan Teochew yang kaya raya
dan sudah memiliki seorang putra tapi masih ingin
punya anak perempuan, maka masa kanak-kanak
Chew dipenuhi kemewahan. Liburan keluarga sering
dilewatkan di luar negeri.

Pasangan Teochew menyayangi putrinya dengan
cara mereka. Menurut cerita Chew, mereka adalah
produk pendidikan kuno yang tidak mengenal pelukan
kepada anak-anak untuk meyakinkan mereka dari
waktu ke waktu bahwa orang tua menyayangi anak-
anak.

Akibatnya, Chew tumbuh menjadi wanita yang haus
kasih sayang. Ia menikah pada usia 17 tahun dengan
seorang pegawai transportasi yang bangkrut. Dari
pria itu diharapkannya akan datang kasih sayang yang
dicarinya.

Ternyata ia menikah dengan pria yang suka menyiksa
istri. Perkawinan itu bertahan lima tahun, dikaruniai
dua anak. Tak lama setelah bercerai, ayah angkat
Chew wafat karena sakit. Pembagian warisan menim-
bulkan pertikaian di dalam keluarga besar Teochew.

Akhirnya Chew ternyata tidak kebagian apa-apa
selain kewajiban mengurusi ibu angkatnya yang sudah
buta dan lumpuh.

Chew menjual susu coklat Milo untuk menyambung
hidupnya.

"Ini pengalaman pertama saya harus bekerja
mencari uang. Setiap malam saya menangis karena
tidak mengerti berbisnis. Apa yang harus dikatakan
dan bagaimana mengatakannya?," kata Chew dalam
wawancara kepada harian Singapura The Straits
Times.
Ia bertahan dua tahun di pekerjaan itu.

"Bagaimanapun susahnya saya mendapatkan
uang, saya selalu memastikan bahwa ibu mendapat
ayam goreng dan ikan setiap hari. Dia memang
buta dan lumpuh, tetapi dia membantu sayameng-
urus anak-anak sehingga saya bisa bekerja mencari
uang," katanya.

Ia kemudian ganti pekerjaan, menjadi koki sebuah
toko makanan. Sekitar dua tahun kemudian ganti
lagi menjadi penjual pakaian. Setiap hari ia membo-
pong empat kantong penuh berisi baju untuk dijual.
Tentu saja dengan menumpang kendaraan umum.

Pada waktu bersamaan, ia menambah pekerjaan-
nya dengan dua hal lain, yaitu menjadi makelar
rumah dan mobil bekas, serta memanfaatkan bakat-
nya di bidang seni. Setiap malam Chew mendesain
beberapa pola kain untuk sebuah perusahaan garmen
di Jepang. Lumayan pendapatannya. Tapi akhir
1970-an, pasar retail tekstil melemah, Chew beralih
menjadi pelayan restoran.

Beberapa lama kemudian meningkat jadi pimpinan
pelayan dan kemudian menjadi manajer untuk bidang
seni.

"Ketika itu saya mulai sering terbang ke luar negeri
untuk bernegosiasi dengan artis-artis terkenal agar
mereka tampil di restoran saya. Sementara itu, saya
tetap meneruskan pekerjaan sambilan yang dulu,
yaitu menjual rumah dan mobil, baik yang baru mau-
pun bekas pakai."

Chew kemudian berhasil mengumpulkan uang cukup
banyak untuk mendirikan bisnis sendiri di bidang per-
lengkapan mode, tetapi dua asistennya kemudian
membawa pergi semua tabungannya.
"Ketika itu saya sedang sangat membutuhkan uang
karena ibu berkali-kali masuk-ke luar rumah sakit.

Hidup saya yang tadinya sudah enak, harus mulai
dibangun lagi dari nol. Betapa bodohnya saya mem-
percayai mereka dengan uang sedemikian banyak,"
kata Chew.

Sempat terlintas pikiran untuk bunuh diri, tetapi
bagaimana nasib anak-anak kelak? "Saya bersyukur
memiliki teman-teman yang memberi dukungan moral
dan bahkan meminjamkan uang. Atas bantuan mereka,
saya berhasil melewati kesulitan."

Chew sekarang memiliki penghasilan besar dari
merawat orang-orang Indonesia yang berduit, yang
sedang dirawat di Singapura karena baru melahirkan
atau sedang terbaring di rumah sakit.

Ia juga menjalankan bisnis yang amat menguntungkan
juga, yaitu membuat dan menjual tonik tradisional
Tiongkok.

Chew menambah kegiatannya dengan menjadi
konsultan tanpa bayaran bagi kaum istri yang menderita
karena suaminya tidak setia, dan bagi orang-orang
yang lama menderita sakit, atau berpenyakit tak
tersembuhkan.

"Hidup telah mengajarkan saya bahwa selalu ada
jalan ke luar dari setiap kesulitan. Pasti ada solusi
yang masuk akal," kata Chew.
"Yang Anda butuhkan adalah waktu untuk mene-
nangkan diri, mengatasi gejolak emosi, dan melangkah
setapak demi setapak."

Ia menyarankan kepada mereka yang menghadapi
kesulitan, agar menulis daftar kesulitan itu pada sehelai
kertas. Kemudian bacalah apa yang ditulis itu, dan
tanyakan pada diri sendiri, 'Apa hal terkecil yang dapat
saya lakukan hari ini untuk mengatasi kesulitan itu?'

"Gelindingkan batu-batu karang yang kecil dari hidup
Anda, sampai akhirnya Anda punya kekuatan untuk
mendorong batu karang yang besar.

Saya melihat orang-orang yang sakit berusaha
keras untuk bisa hidup. Dunia ini berubah terus
sepanjang waktu. Anda tidak tahu apa yang akan
terjadi besok. Maka jangan sakiti hati siapapun.
Selalu pertimbangkan perasaan orang lain terlebih
dahulu, bukan perasaan Anda sendiri.

Kita memang cenderung untuk melihat sisi buruk
orang lain, walaupun karakter mereka mungkin
99 persennya baik, hanya satu persen yang buruk.

Mengapa tidak bersabar dengan memberikan
mereka waktu untuk menunjukkan yang 99persen
itu?

Di pagi hari, Anda dapat membuatkan minuman
panas untuk keluarga Anda, dan duduk menemani
mereka beberapa menit, kemudian memeluk dan
menciumi mereka sebelum semuanya pergi ke
tempat kerja atau ke sekolah. Sekitar 10 menit
sebelum tidur malam setiap hari, berkumpullah
bersama keluarga untuk berbagi cerita mengenai

peristiwa sepanjang hari tadi," demikian Ny.Chew.


Readmore »»

The Healing Stories, karya GW Burns.

Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan
rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa
putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur.
Kondisi finansial keluarganya morat-marit.

Sementara para tetangganya sibuk memenuhi
rumah dengan barang-barang mewah, ia masih
bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan
pokok keluarganya sandang dan pangan.

Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian,
istrinya sering marah-marah karena tak dapat
membeli barang-barang rumah tangga yang layak.

Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini,
dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun
akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan
pekerjaan.

Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi,
tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa
penasaran ia membungkuk dan mengambilnya.

"Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-
penyok," gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia
membawa koin itu ke sebuah bank.

"Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor
uang kuno," kata teller itu memberi saran. Lelaki
itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya
ke kolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai
koin itu senilai 30 dollar.

Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan
apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini.

Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya
beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa mem-
buatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya
pernah berkata mereka tak punya tempat untuk
menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah mem-
beli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu
tersebut dan beranjak pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang
pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih
melihat kayu yang dipanggul lelaki itu.

Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal.
Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia
menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu.

Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin
itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel
yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana
ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu
tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa
lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru.
Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah
barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki
itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah.

Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200
dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita
menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki
itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak
ke pengrajin dan beranjak pulang.

Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin
memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh
sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250
dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari
semak-semak, mengacungkan belati, merampas
uang itu, lalu kabur.

Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati
suaminya seraya berkata, "Apa yang terjadi? Engkau
baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?"

Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, "Oh,
bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang
kutemukan tadi pagi".

Bila Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun,
kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang
berlebihan?

Readmore »»

Kesabaran Belajar

Seorang anak muda mengunjungi seorang ahli
permata dan menyatakan maksudnya untuk berguru.

Ahli permata itu menolak pada mulanya, karena dia
kuatir anak muda itu tidak memiliki kesabaran yang
cukup untuk belajar. Anak muda itu memohon dan
memohon sehingga akhirnya ahli permata itu menye-
tujui permintaannya. "Datanglah ke sini besok pagi."
katanya.

Keesokan harinya, ahli permata itu meletakkan
sebuah batu berlian di atas tangan si anak muda dan
memerintahkan untuk menggenggamnya. Ahli permata
itu meneruskan pekerjaannya dan meninggalkan anak
muda itu sendirian sampai sore.

Hari berikutnya, ahli permata itu kembali menyuruh
anak muda itu menggenggam batu yang sama dan
tidak mengatakan apa pun yang lain sampai sore
harinya. Demikian juga pada hari ketiga, keempat,
dan kelima.

Pada hari keenam, anak muda itu tidak tahan lagi dan
bertanya, "Guru, kapan saya akan diajarkan sesuatu?"
Gurunya berhenti sejenak dan menjawab, "Akan tiba
saatnya nanti," dan kembali meneruskan pekerjaannya.

Beberapa hari kemudian, anak muda itu mulai merasa
frustrasi. Ahli permata itu memanggilnya dan meletakkan
sebuah batu ke tangan pemuda itu. Anak muda frustrasi
itu sebenarnya sudah hendak menumpahkan semua
kekesalannya, tetapi ketika batu itu diletakkan di atas
tangannya, anak muda itu langsung berkata, "Ini bukan

batu yang sama!"

"Lihatlah, kamu sudah belajar," kata gurunya.
Readmore »»

Ketika Aku Sudah Tua

Ketika aku sudah tua, bukan lagi aku yang semula.
Mengertilah,bersabarlah sedikit terhadap aku.
Ketika pakaianku terciprat sup, ketika aku lupa
bagaimana mengikat sepatu, ingatlah bagaimana
dahulu aku mengajarmu.

Ketika aku berulang-ulang berkata-kata tentang
sesuatu yang telah bosan kau dengar, bersabarlah
mendengarkan, jangan memutus pembicaraanku.

Ketika kau kecil, aku selalu harus mengulang cerita
yang telah beribu-ribu kali kuceritakan agar kau tidur.
Ketika aku memerlukanmu untuk memandikanku,
jangan marah padaku.

Ingatkah sewaktu kecil aku harus memakai segala
cara untuk membujukmu mandi?
Ketika aku tak paham sedikitpun tentang tehnologi
dan hal-hal baru, jangan mengejekku.

Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabar men-
jawab setiap "mengapa" darimu.
Ketika aku tak dapat berjalan, ulurkan tanganmu
yang masih kuat untuk memapahku.

Seperti aku memapahmu saat kau belajar berjalan
waktu masih kecil.
Ketika aku seketika melupakan pembicaraan kita,
berilah aku waktu untuk mengingat.

Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah
penting, asalkan kau disamping mendengarkan, aku
sudah sangat puas.

Ketika kau memandang aku yang mulai menua,
janganlah berduka.
Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku mengha-
dapimu ketika kamu mulai belajar menjalani kehidupan.

Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana men-
jalani kehidupan ini, sekarang temani aku menjalan-

kan sisa hidupku.

Beri aku cintamu dan kesabaran, aku akan memberi-

kan senyum penuh rasa syukur, dalam senyum ini
terdapat cintaku yang tak terhingga untukmu.


Readmore »»

Tersenyum (lagi)

Saya adalah ibu tiga orang anak (umur 14, 12,
dan 3 tahun) dan baru saja menyelesaikan kuliah
saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah
Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif dengan
kualitas yang saya harapkan setiap orang mmilikinya.
Tugas terakhir yang diberikannya diberi nama
"Tersenyum"

Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan ter-
senyum kepada tiga orang dan mendokumentasikan
reaksi mereka. Saya adalah seorang yang mudah
bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang
dan mengatakan "hello", jadi, saya pikir, tugas ini
sangatlah mudah.

Segera setelah kami menerima tugas tersebut,
suami saya, anak bungsu saya, dan saya pergi ke
restoran McDonald's pada suatu pagi di bulan Maret
yang sangat dingin dan kering. Ini adalah salah satu
cara kami membagi waktu bermain yang khusus
dengan anak kami. Kami berdiri dalam antrian,
menunggu untuk dilayani, ketika mendadak setiap
orang di sekitar kami mulai menyingkir, dan bahkan
kemudian suami saya ikut menyingkir.

Saya tidak bergerak sama sekali .... suatu perasaan
panik menguasai diri saya ketika saya berbalik untuk
melihat mengapa mereka semua menyingkir.

Ketika saya berbalik itulah saya membaui suatu
"bau badan kotor" yang sangat menyengat, dan
berdiri di belakang saya dua orang lelaki tunawisma.

Ketika saya menunduk melihat laki-laki yang lebih
pendek, yang dekat dengan saya, ia sedang
"tersenyum".

Matanya yang biru langit indah penuh dengan
cahaya Tuhan ketika ia minta untuk dapat diterima.

Ia berkata "Good day" sambil menghitung beberapa
koin yang telah ia kumpulkan. Lelaki yang kedua
memainkan tangannya dengan gerakan aneh sambil
berdiri di belakang temannya.

Saya menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita
defisiensi mental dan lelaki dengan mata biru itu
adalah penolongnya. Saya menahan haru ketika berdiri
di sana bersama mereka.
Wanita muda di counter menanyai lelaki itu apa yang
mereka inginkan.

Ia berkata, "Kopi saja, Nona" karena hanya itulah
yang mampu mereka beli. (jika mereka ingin duduk di
dalam restoran dan menghangatkan tubuh mereka,
mereka harus membeli sesuatu. Ia hanya ingin meng-
hangatkan badan).

Kemudian saya benar-benar merasakannya - desakan
itu sedemikian kuat sehingga saya hampir saja mereng-
kuh dan memeluk lelaki kecil bermata biru itu. Hal itu
terjadi bersamaan dengan ketika saya menyadari bahwa
semua mata di restoran menatap saya, menilai semua
tindakan saya.

Saya tersenyum dan berkata pada wanita di belakang
counter untuk memberikan pada saya dua paket
makan pagi lagi dalam nampan terpisah. Kemudian saya
berjalan melingkari sudut ke arah meja yang telah dipilih
kedua lelaki itu sebagai tempat istirahatnya.

Saya meletakkan nampan itu ke atas meja dan meletak-
kan tangan saya di atas tangan dingin lelaki bemata biru
itu. Ia melihat ke arah saya, dengan air mata berlinang,
dan berkata "Terima kasih."

Saya meluruskan badan dan mulai menepuk tangannya
dan berkata, "Saya tidak melakukannya untukmu.
Tuhan berada di sini bekerja melalui diriku untuk mem-
berimu harapan."

Saya mulai menangis ketika saya berjalan meninggal-
kannya dan bergabung dengan suami dan anak saya.

Ketika saya duduk suami saya tersenyum kepada
saya dan berkata, "Itulah sebabnya mengapa Tuhan
memberikan kamu kepadaku, Sayang. Untuk memberiku
harapan."

Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan
pada saat itu kami tahu bahwa hanya karena Rahmat
Tuhan kami diberikan apa yang dapat kami berikan
untuk orang lain.

Kami bukanlah orang-orang yang rajin ke gereja,
tetapi kami adalah orang-orang yang percaya kepada
Tuhan. Hari itu menunjukkan kepadaku cahaya kasih
Tuhan yang murni dan indah.

Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah,
dengan cerita ini di tangan saya. Saya menyerahkan
"proyek" saya dan dosen saya membacanya.

Kemudian ia melihat kepada saya dan berkata, "Boleh-

kan saya membagikan ceritamu kepada yang lain?"

Saya mengangguk pelahan dan ia kemudian meminta
perhatian dari kelas. Ia mulai membaca dan saat itu
saya tahu bahwa kami, sebagai manusia dan bagian
dari Tuhan, membagikan pengalaman ini untuk
menyembuhkan dan untuk disembuhkan.

Dengan caraku sendiri saya telah menyentuh orang-
orang yang ada di McDonald's, suamiku, anakku,
guruku, dan setiap jiwa yang menghadiri ruang kelas
di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus
dengan satu pelajaran terbesar yang pernah saya
pelajari: MENERIMA TANPA BERSYARAT.

Readmore »»

Raja Dan Laba-Laba

Dahulu kala di negeri Skonlandia, ada seorang
raja bernama Bruce.

Dia sudah enam kali memimpin pasukannya
menuju medan perang melawan sang agresor
dari England , namun selama enam kali pertem-
puran itu, pasukannya selalu babak belur dihajar
oleh musuh, hingga terpaksa mengalami kekalahan
dan melarikan diri ke hutan.

Akhirnya, dia sendiri juga bersembunyi di sebuah
gubuk kosong di dalam hutan belantara.

Suatu hari, hujan turun dengan derasnya, air
hujan menerobos dari atap rumah yang bocor
mengenai muka Bruce, sehingga dia terbangun
dari tidurnya. Sesaat dia merenungi nasibnya
yang malang karena tidak dapat mengalahkan
musuh, walaupun dia telah mengerahkan segala
daya upaya.

Semakin dia memikirkan hal ini, hatinya semakin
pedih dan hampir putus asa.

Pada saat itu, mata Bruce menatap ke atas balok
kayu yang melintang diatas kepalanya, disana
ada seekor laba-laba sedang merajut sarangnya.

Dia dengan seksama memperhatikan gerak gerik
laba-laba tersebut, dihitungnya usaha si laba-laba
yang telah enam kali berturut-turut berusaha
sekuat tenaga mencoba mengaitkan salah satu
ujung benang ke balok kayu yang berada di sebe-
rangnya, namun akhirnya gagal juga.
"Sungguh kasihan makhluk kecil ini."
kata Bruce, "Seharusnya kau menyerah saja!"

Namun, sungguh diluar dugaan Bruce, walaupun
telah enam kali si laba-laba gagal mengaitkan ujung
benangnya, dia tidak lantas putus asa dan berhenti
berusaha, dia coba lagi untuk yang ke tujuh kalinya,
dan kali ini dia berhasil. Melihat ini semua, Bruce
sungguh merasa kagum dan lupa pada nasib yang
menimpa dirinya.

Bruce akhirnya berdiri dan menghela napas panjang,
lalu dengan lantang dia berteriak: "Aku juga akan
bertempur lagi untuk yang ketujuh kalinya!"

Bruce akhirnya benar-benar mendapatkan sema-
ngatnya kembali, ia segera mengumpulkan dan
melatih lagi sisa-sisa pasukannya, lalu mengatur
strategi dan menggempur lagi pertahanan musuh,
dengan susah payah dan perjuangan yang tak kenal
menyerah, akhirnya Bruce berhasil mengusir pasukan
musuh dan merebut kembali tanah airnya.

Readmore »»

Tiga Cara Untuk Memanfaatkan Masa Sekarang Hari Ini

BERADA PADA MASA SEKARANG

Jika Anda ingin lebih bahagia dan lebih sukses
Fokuslah pada apa yang ada pada Masa Sekarang
Responlah pada hal yang penting sekarang

BELAJAR DARI MASA LALU

Jika Anda ingin menjadikan Masa Sekarang

lebih baik daripada Masa Lalu
Lihatlah apa yang telah terjadi pada Masa Lalu
Belajarlah sesuatu yang berharga dari hal tersebut
Lakukan hal yang berbeda pada Masa Sekarang

RENCANAKAN MASA DEPAN

Jika Anda ingin Masa Depan yang lebih baik

daripada Masa Sekarang
Lihatlah masa depan seperti apa yang anda inginkan
Buatlah rencana untuk mewujudkannya
Tindak lanjuti rencana itu pada Masa Sekarang


Ciwi

(dikutip dari Spencer “The Present” Johnson)

Readmore »»

Pencuri Kue

Seorang wanita sedang menunggu di bandara
suatu malam. Masih ada beberapa jam sebelum
jadwal terbangnya tiba.Untuk membuang waktu,
ia membeli buku dan sekantong kue di toko
bandara lalu menemukan tempat untuk duduk.

Sambil duduk wanita tersebut membaca buku
yang barun saja dibelinya. Dalam keasyikannya
tersebut ia melihat lelaki disebelahnya dengan
begitu berani mengambil satu atau dua dari kue
yang berada diantara mereka.

Wanita tersebut mencoba mengabaikan agar
tidak terjadi keributan.Ia membaca, mengunyah
kue dan melihat jam. Sementara si Pencuri Kue
yang pemberani menghabiskan persediaannya.
Ia semakin kesal sementara menit-menit berlalu.

Wanita itupun sempat berpikir Kalau aku bukan
Orang baik, sudah ku tonjok dia! Setiap ia meng-
ambil satu kue, Si lelaki juga mengambil satu.

Ketika hanya satu kue tersisa, ia bertanya-tanya
apa yang akan dilakukan lelaki itu. Dengan senyum
tawa di wajahnya dan tawa gugup, Si lelaki meng-
ambil kue terakhir dan membaginya dua. Si lelaki
menawarkan separo miliknya, sementara ia makan
yang separonya lagi.

Si wanita pun merebut kue itu dan berpikir 'Ya
ampun orang ini berani sekali, dan ia juga kasar,
malah ia tidak kelihatan berterima kasih'.

Belum pernah rasanya ia begitu kesal. Ia menghela
napas lega saat penerbangannya diumumkan. Ia
mengumpulkan barang miliknya dan menujupintu
gerbang
. Menolak untuk menoleh pada si
"Pencuri tak tahu terima kasih!".

Ia naik pesawat dan duduk di kursinya, lalu mencari
bukunya, yang hampir selesai dibacanya. Saat ia
merogoh tasnya, ia menahan napas dengan kaget.

Di situ ada kantong kuenya, di depan matanya.

Koq milikku ada di sini erangnya dengan patah ]

hati, Jadi kue tadi adalah miliknya dan ia mencoba
berbagi. Terlambat untuk minta maaf, ia tersandar
sedih. Bahwa sesungguhnya dialah yang kasar, tak
tahu terima kasih dan dialah pencuri kue itu.

Dalam hidup ini kisah pencuri kue seperti tadi sering
terjadi. Kita sering berprasangka dan melihat orang
lain dengan kacamata kita sendiri/subjektif serta tak
jarang kita berprasangka buruk terhadapnya.

Orang lainlah yang selalu salah,
orang lainlah yang patut disingkirkan,
orang lainlah yang tak tahu diri,
orang lainlah yang berdosa,
orang lainlah yang selalu bikin masalah,
orang lainlah yang pantas diberi pelajaran.

Padahal.....???
kita sendiri yang mencuri kue tadi, padahal kita
sendiri yang tidak tahu malu.
Kita sering mempengaruhi, mengomentari,
mencemooh pendapat, penilaian atau gagasan
orang lain sementara sebetulnya kita tidak tahu betul
permasalahannya.

Readmore »»

Tersenyum

kehidupan adalah seni....
seni saat kita memberikan senyum,
dengan senyum yang tulus..kita bisa
terlihat cantik dan membasahi kerumitan

seni kehidupan yang pahit dengan senyum
yg tulus..artinya kita tersenyum pada alam
dan bersyukur atas nikmat yang diberikan-
Nya maka tersenyumlah dengan sangat
manis tatkala kita menghadapi satu kerumitan
hidup karena kepahitan itu adalah berkah
yang didapat untuk hari ini saja...bukan esok...
lusa...atau kapan...

senyum yang tulus adalah kehangatan....
rasa cinta yg tulus...
rasa sayang ....
rasa kasih.....

maka tersenyumlah saat terjaga pagi hari....
karena bulan akan pergi dari malam dengan

tersenyum....
karena bintang akan berkelip saat itu dengan
riangnya sambil tersenyum..
dan matahari menyambut kehidupan dengan

senyum .....
maka rasa cinta, rasa sayang dan kasih akan
memelukmu erat-erat...
sepanjang hari sampai kamu enggan tersenyum
lagi pada mereka .....

sangat erat ( seperti kasih seorang ibu )
senyum yang tulus adalah berkah .....
tersenyumlah dengan tulus karena senyum
yang tulus akan membalut semua luka

senyum yang tulus itu indah....
seperti seorang monalisa yang tersenyum ..
tersenyumlah....sangat manis....
seperti sepasang cherry merah yang tergelincir ...

sangat indah...indah ....
obati kepahitan hidup dan bersyukur atas
kebahagiaan hari ini dengan senyum ...
yang tulus ... jangan lupa ...dengan tulus ....

Readmore »»