Monday, June 30, 2008

Karena Dia Adalah Temanku

Suatu pagi yang sunyi di Korea, di suatu
desa kecil, ada sebuah bangunan kayu
mungil yang atapnya ditutupi oleh seng-
seng. Itu adalah rumah yatim piatu di mana
banyak anak tinggal akibat orang tua mereka
meninggal dalam perang.

Tiba-tiba, kesunyian pagi itu dipecahkan
oleh bunyi mortir yang jatuh di atas rumah
yatim piatu itu. Atapnya hancur oleh ledakan,
dan kepingan-kepingan seng mental ke seluruh
ruangan sehingga membuat banyak anak yatim
piatu terluka. Ada seorang gadis kecil yang
terluka di bagian kaki oleh kepingan seng ter-
sebut, dan kakinya hampir putus. Ia terbaring di
atas puing-puing ketika ditemukan, P3K segera
dilakukan dan seseorang dikirim dengan segera
ke rumah sakit terdekat untuk meminta pertolongan.

Ketika para dokter dan perawat tiba, mereka
mulai memeriksa anak-anak yang terluka.

Ketika dokter melihat gadis kecil itu, ia menyadari
Bahwa pertolongan yang paling dibutuhkan oleh
gadis itu secepatnya adalah darah. Ia segera
melihat arsip yatim piatu untuk mengetahui apakah
ada orang yang memiliki golongan darah yang
sama. Perawat yang bisa berbicara bahasa Korea
mulai memanggil nama-nama anak yang memiliki
golongan darah yang sama dengan gadis kecil itu.

Kemudian beberapa menit kemudian, setelah
terkumpul anak-anak yang memiliki golongan
darah yang sama, dokter berbicara kepada grup
itu dan perawat menerjemahkan, "Apakah ada di
antara kalian yang bersedia memberikan darahnya
utk gadis kecil ini?" Anak-anak tersebut tampak
ketakutan, tetapi tidak ada yang berbicara. Sekali
lagi dokter itu memohon, "Tolong, apakah ada di
antara kalian yang bersedia memberikan darahnya
untuk teman kalian, karena jika tidak, ia akan me-
ninggal!" Akhirnya, ada seorang bocah laki-laki
di belakang mengangkat tangannya dan perawat
membaringkannya di ranjang untuk mempersiapkan
proses transfusi darah.

Ketika perawat mengangkat lengan bocah untuk
membersihkannya, bocah itu mulai gelisah. "Tenang
saja," kata perawat itu, "Tidak akan sakit kok." Lalu
dokter mulai memasukan jarum, ia mulai menangis.

"Apakah sakit?" Tanya dokter itu. Tetapi bocah itu
malah menangis lebih kencang. "Aku telah menyakiti
bocah ini!" kata dokter itu dalam hati dan mencoba
untuk meringankan sakit bocah itu dengan mene-
nangkannya, tetapi tidak ada gunanya.

Setelah beberapa lama, proses transfusi telah
selesai dan dokter itu mintaperawat untuk bertanya
kepada bocah itu. "Apakah sakit?"

Bocah itu menjawab, "Tidak, tidak sakit."

"Lalu kenapa kamu menangis?", tanya dokter itu.

"Karena aku sangat takut untuk meninggal" jawab
bocah itu. Dokter itu tercengang! "Kenapa kamu
berpikir bahwa kamu akan meninggal?" Dengan air
mata di pipinya, bocah itu menjawab, "Karena aku
kira untuk menyelamatkan gadis itu aku harus
menyerahkan seluruh darahku!"

Dokter itu tidak bisa berkata apa-apa, kemudian
ia bertanya, "Tetapi jika kamu berpikir bahwa kamu
akan meninggal, kenapa kamu bersedia untuk
memberikan darahmu?" Sambil menangis ia berkata,

"Karena ia adalah temanku, dan aku mengasihinya!" Readmore »»

Wednesday, June 18, 2008

Penantian Sang Ayah

Tersebutlah seorang ayah yang mempunyai
anak. Ayah ini sangat menyayangi anaknya.

Di suatu weekend, si ayah mengajak anaknya
untuk pergi ke pasar malam. Mereka pulang
sangat larut. Di tengah jalan, si anak melepas
seat beltnya karena merasa tidak nyaman.
Si ayah sudah menyuruhnya memasang
kembali, namun

si anak tidak menurut.

Benar saja, di sebuah tikungan, sebuah mobil
lain melaju kencang tak terkendali. Ternyata
pengemudinya mabuk. Tabrakan tak terhindarkan.
Si ayah selamat, namun si anak terpental keluar.

Kepalanya membentur aspal, dan menderita
gegar otak yang cukup parah. Setelah berapa
lama mendekam di rumah sakit, akhirnya si anak
siuman. Namun ia tidak dapat melihat dan mendengar
apapun. Buta tuli. Si ayah dengan sedih, hanya bisa
memeluk erat anaknya, karena ia tahu hanya
sentuhan dan pelukan yang bisa anaknya rasakan.

Begitulah kehidupan sang ayah dan anaknya
yang buta-tuli ini. Dia senantiasa menjaga anaknya.

Suatu saat si anak kepanasan dan minta es, si ayah
diam saja. Sebab ia melihat anaknya sedang
demam, dan es akan memperparah demam anaknya.

Di suatu musim dingin, si anak memaksa berjalan
ke tempat yang hangat, namun si ayah menarik keras
sampai melukai tangan si anak, karena ternyata
tempat 'hangat' tersebut tidak jauh dari sebuah
gedung yang terbakar hebat.

Suatu kali anaknya kesal karena ayahnya mem-
buang liontin kesukaannya. Si anak sangat marah,
namun sang ayah hanya bisa menghela nafas.

Komunikasinya terbatas. Ingin rasanya ia menjelaskan
bahwa liontin yang tajam itu sudah berkarat., namun
apa daya si anak tidak dapat mendengar, hanya dapat
merasakan. Ia hanya bisa berharap anaknya sepe-
nuhnya percaya kalau papanya hanya melakukan
yang terbaik untuk anaknya.

Saat-saat paling bahagia si ayah adalah saat
dia mendengar anaknya mengutarakan perasaannya,
isi hatinya. Saat anaknya mendiamkan dia, dia merasa
tersiksa, namun ia senantiasa berada disamping
anaknya, setia menjaganya. Dia hanya bisa berdoa
dan berharap, kalau suatu saat Tuhan boleh memberi
mukjizat. Setiap hari jam 4 pagi, dia bangun untuk
mendoakan kesembuhan anaknya. Setiap hari.

Beberapa tahun berlalu. Di suatu pagi yang cerah,
sayup-sayup bunyi kicauan burung membangunkan
si anak. Ternyata pendengarannya pulih! Anak itu
berteriak kegirangan, sampai mengejutkan si ayah
yg tertidur di sampingnya. Kemudian disusul oleh
pengelihatannya. Ternyata Tuhan telah mengabulkan
doa sang ayah. Melihat rambut ayahnya yang telah
memutih dan tangan sang ayah yg telah mengeras
penuh luka, si anak memeluk erat sang ayah, sambil
berkata. "Ayah, terima kasih ya, selama ini engkau
telah setia menjagaku."

Sahabatku, terkadang seperti Anak itulah Tingkah
kita. Terkadang kita Buta dan Tuli, tidak mau sedikit
pun mendengar dan melihat sekeliling kita. Tapi
Tuhan sebagai AYAH YANG BAIK dan SETIA pada
Kita. Dia selalu dengan Sabar Menuntun dan
Menolong Kita.

Readmore »»

Korea, Hiddink Way

Beberapa saat setelah Korsel memastikan lolos
ke babak kedua Piala Dunia 2002, Samsung

Electronics -- satu dari sekian raksasa bisnis
Korsel -- mengadakan penelitian terhadap kepe-
mimpinan dan manajemen Guus Hiddink. Kesim-
pulannya, Hiddink tidak sekadar mengajarkan
bermain sepak bola, tetapi merombak etika
Konfusian yang mengungkung pemain.

Dalam wawancara dengan Joon Ang Ilbo, satu
dari tiga koran berbahasaInggris di Korsel,


Hiddink mengatakan orang Korea memiliki semua

persyaratan fisik sebagai pemain sepak bola
profesional. Namun, katanya, mereka tidak
memiliki kemampuan berkreasi dan memiliki visi
bermain yang jelas.

"Di tingkat
Asia, Korsel adalah top-dog. Tapi di
level internasional, Korsel tidak memiliki apa-apa,"
kata Hiddink. "Saya harus mengubah semua itu.

Mengeluarkan Korsel dari lingkup Asia dan naik
kelas ke tingkat dunia."

Namun, Hiddink menemui kesulitan ketika harus
mengaplikasikan teori sepak bola Barat yang
dimilikinya. Ia mengetahui persoalan utamanya
terletak pada budaya dan etika Konfusianisme –
terutama soal aturan senioritas -- yang meng-
hambat komunikasi antar pemain.

"Ketika saya datang ke ruang makan pemain,
saya melihat ada tiga meja makan," kata Hiddink.

"Setiap meja diperuntukkan bagi kelompok pemain
menurut urutan senioritas. Uniknya, selama makan
tidak ada komunikasi antar satu dan lain kelompok.
" Saat itu juga Hiddink mengetahui persoalan sebe-
narnya sepak bola Korsel. Ia meminta pengurus

Federasi Sepak Bola Korea untuk mengubah meja
makan pemain. Hiddink tidak menginginkan ada
pengelompokan pemain sesuai usia dan lamanya
bermain di tim nasional, dan menginginkan
semuanya berbaur.

Sebagai gantinya, Hiddink menginginkan satu
meja makan panjang untuk semua pemain. Tidak
ada kursi senioritas, atau bagian-bagian tertentu
untuk mereka yang dianggap lebih berpengalaman.

Pemain junior dan senior saling berhadapan pada
saat makan pada jarak sangat dekat. Namun, itu
pun tidak menyelesaikan masalah. Sampai sekian
hari setelah ganti meja, tidak ada komunikasi antara
pemain junior dan senior. Pemain junior lebih suka
bercengkerama dengan sesamanya.Begitu pula
dengan pemain senior.

"Saya mencari cara lain," kata Hiddink. "Saya
panggil para pemain senior, dan saya minta mereka
memberikan laporan tertulis mengenai apa yang
mereka bicarakan dengan pemain junior. Hong
Myung-bo, misalnya,saya beri tugas mencatat
keinginan juniornya."

Hiddink berhasil. Sejak saat itu pemain senior
tidak lagi manusia setengah dewa yang sulit dikritik.

Mereka mendatangi pemain juniordan mengajak-
nya berkomunikasi, di dalam atau di luar tempat
latihan. Hiddink telah membangun komunikasi.
Inilah yang mengubah penampilan Korsel di
lapangan.

"Tidak ada lagi saling diam ketika terjadi kesalahan,
" kata Hiddink. "Pemain senior bukan lagi manusia
kebal kritik, tetapi masing-masing memiliki status
yang sama."
Korean Herald menulis Hiddink pula yang mem-
perkenalkan system persaingan di antara pemain.

Sistem mensyarakatkan pemain memenuhi target
masing-masing, khususnya dalam kondisi fisik.
Jika gagal resikonya adalah dicoret dari daftar
pemain.

Sistem kompetisi berlaku untuk semua. Hiddink
tidak peduli dengan reputasi Hong Myung-bo yang
dikagumi banyak pemain, atau Cha Do-ri yang
putra legendaris
Korea, Cha Bum-keun.
Sistem ini membawa korban banyak pemain senior.
Sejumlah nama terpaksa dicoret Hiddink dari daftar.

Reaksi publik Korsel sungguh luar bisa. Koran-koran
berbahasa
Korea mengkritik habis cara Hiddink
melatih. Ia dianggap memperkenalkan cara lama
Belanda dalam berlatih sepak bola.

Terlebih, sampai sekian bulan setelah kedatangan-
nya ia tidak melakukan pembaruan teknik dan
mengajarkan Ahn Jung-hwan dan kawan-kawannya
bagaimana memainkan strategi baru. Hiddink
dianggap terlalu mementingkan kekuatan fisik,
padahal ia tahu selama ini Korsel dikritik media
asing sebagai running soccer robots.

Hiddink tidak peduli dengan semua kritik itu. Ia
mengatakan, "Setelah semua masalah fisik ter-
selesaikan, pemain akan bisa menguasai semua
teknik bermain manapun." Ia melanjutkan, "Yang
terpenting bagi sebuah tim adalah bagaimana
membangun teamwork. Ini perlu komunikasi yang
lancar antar pemain. "

Hiddink Way, begitu orang Korea menyebutnya,
berjalan sesuai rencana. Namun, sampai beberapa
bulan sebelum piala dunia, Korsel hanya beberapa
kali tampil mengesankan di depan publiknya. Saat
menghadapi Prancis, misalnya, publik Korsel mulai
bisa melihat kemampuan pemain Korsel mencetak
gol ke gawang tim Eropa. Sesuatu yang tidak pernah
terjadi sebelumnya.

Tanpa diketahui banyak media
massa, Hiddink
saat itu telah memberikan sentuhan think and play
kepada pemain-pemainnya. Ia mengajarkan bagai-
mana mengambil keputusan di saat tertekan, dan
mengatasi tekanan lawan. Ia mengubah Korsel
menjadi sebuah tim yang bukan lagi berkarakter

Asia
, tapi fotokopi tim-tim Eropa.

Ia mengajarkan kepada semua pemain bagai-
mana memainkan perubahan karakter bermain di
lapangan, saat menyerang atau ketika diserang.
Inilah yang terlihat di semua pertandingan Korsel.

Sampai usai pertandingan Korsel-Portugal, tidak
ada lagi keraguan
akan Hiddink Way. Yang terjadi
adalah berjangkitnya Hiddink Syndrome di semua
lapisan masyarakat
Korea. Samsung bukan satu-
satunya perusahaan yang merasa perlu mengadopsi
pendekatan Hiddink, tapi sejumlah manajer perusa-
haan multinasional
Korea mulai mengubah pendeka-
tan Konfusianisme yang telah mengakar begitu kuat.


Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

Readmore »»

Saturday, June 14, 2008

Sepasang Sepatu Sport

Menjadi "sama dan serupa" dengan remaja lain
merupakan keinginan dari semua remaja.

Saya ingat benar bagaimana sebagai seorang
remaja dalam tahun 1963 saya merasa harus
memiliki sepasang sepatu sport mutakhir yang
sedang "in".

Persoalannya, bulan lalu saya baru saja membeli
sepasang sepatu kulit.

Tapi, sepatu sport benar benar sedang mode, oleh
sebab itu saya dating kepada ayah minta bantuannya.

"Saya perlu sedikit uang untuk sepatu sport", ujar
saya suatu petang di bengkel di mana ayah saya
bekerja sebagai montir.
"Willie" ayah kelihatannya terkejut.

"Sepatumu baru berumur satu bulan, tapi Mengapa
kini kau perlukan sepatu baru?"
"Setiap orang memakai sepatu sport yah!"

"Sangat boleh jadi nak, Namun hal tersebut tidak
menjadikan ayah mudah membayar sepatu sport "

Gaji ayah kecil dan sering tidak cukup untuk
memenuhi kebutuhan sehari hari.

"Ayah, saya tampak seperti bloon memakai sepatu
jenis ini " kataku sambil menunjuk kepada sepasang
sepatu oxford baru.

Ayah memandang dalam dalam ke mataku.
Kemudian ia menjawab, "Begini saja, Kau pakai

sepatu ini satu hari lagi.Besok, di sekolah, perhatikan
semua sepatu dari kawan-kawanmu. Bila
seusai sekolah kau masih berkeyakinan bahwa
sepatumu paling butut dibandingkan sepatu kawan
kawanmu, ayah akan memotong uang belanja ibumu
dan membelikanmu sepasang sepatu sports"

Dengan gembira saya pergi ke sekolah, keesokan
paginya, penuh keyakinan bahwa hari itu merupakan
hari terakhir bagiku mamakai sepatu oxford yang
ketinggalan jaman ini.

Saya lakukan apa yang ayah perintahkan saya
lakukan, namun tidak, saya ceritakan apa yang saya
lihat secara teliti.
Sepatu coklat, sepatu hitam, sepatu tennis yang
sudah kusam, semua menjadi pusat perhatianku.

Pada petang hari, saya memiliki perbendaharaan
dalam ingatanku betapa banyaknya teman teman
di sekolah yang juga memakai sepatu bukan sport,
bahkan sepatu - sepatu rusak, berlobang, menganga
dan lain lain bentuk yang sudah mendekati kepunahan
sebagai alat pelindung kaki.

Namun banyak juga yang memakai sepatu sport
yang gagah, yang senantiasa berdetak detik penuh

gaya bila si pemiliknya menghentakkannya dengan
gagah perkasa.

Setelah sekolah usai, saya berjalan cepat ke bengkel
di mana ayah bekerja. Saya hampir yakin bahwa
Senin depan saya juga akan masuk kelompok yang
sedang "in"
Setiap saya menghentakkan tumit saya di jalan,

saya membayangkan telah memakai sepatu sport
idaman saya.
Bengkel sepi sekali saat itu. Suara yang terdengar
hanya denting-denting metal dari kolong sebuah
chevy tua buatan tahun 1956.

Udara berbau oli, namun pada hemat penciuman saya,
asyik sekali.

Hanya seorang langganan sedang menunggu
ayah yang sedang bergulat di kolong chevy tua itu.
"Pak Alva" tanya saya kepada langganan yang
sedang menunggu, "masih lamakah?"

"Entah Will. Kau tahu sifat ayahmu. Ia sedang
membongkar persneling, namun bila ia mendapatkan
adanya bagian lain yang tidak beres, ia akan
menyelesaikannya juga."

Saya bersandar pada mobil abu abu itu.

Apa yang bisa saya lihat hanyalah sepasang kaki
ayah yang menjulur keluar dari kolong mobil.
Sambil menjentik jentik lampu belakang chevy, secara
tidak sadar saya menatap kepada kaki ayah.

Celana kerjanya berwarna biru tua, kusam dan lengket
terkena oli, lusuh pula.
Sepatunya, berwarna putih tua.... ah ....bukan hitam
muda......, dan sungguh sungguh butut, sebagaimana
mestinya sepatu seorang montir.

Sepatu kirinya sudah tidak bersol, dan bagian kanan
masih memiliki sepotong kecil kulit tipis, yang dahulu
bernama sol. Di ujungnya, sebaris staples menggigit
kedua belah kulit kencang kencang, mencegah jempol
kakinya mengintip keluar. Tali sepatunya beriap riap,
dan sebuah lubang memperlihatkan sebagian dari jari
kelingkingnya yang terbalut kaus katun.

"Sudah pulang nak? "ayah keluar dari kolong mobil.
"Yes sir" kataku.

"Kau lakukan apa yang kuperintahkan hari ini?"
"Yes sir"

"Nah, apa jawabmu ?" la memandangku, seolah olah
tahu apa yang akan saya ucapkan.
"Saya tetap ingin sepatu sport " Saya berkata tegas,
dan berusaha setengah mati untuk tidak memandang
kepada sepatu ayah.
"Kalau begitu, ayah harus potong uang belanja ibumu.."

"Mengapa tidak pergi dan membelinya sekarang?"
lalu ayah mengeluarkan selembar $ 10. dan memancing
uang receh untuk mencari 30 sen guna membayar 3%
pajak penjualannya.
Saya menerima uang itu dan segera berangkat ke
pusat pertokoan, dua blok dari bengkel di mana ayah
bekerja.

Di depan sebuah etalase, saya berhenti untuk melihat
apakah sepatu sportku masih dipajang disana.
Ternyata masih! $9.95.

Namun uang saya tidak akan cukup bila saya harus
membeli paku paku yang akan dipakukan pada solnya
dan menimbulkan suara klak klik yang gagah.

Saya pikir, untuk lari ke rumah dan minta bantuan
dana dari mama, sebab tidak mungkin kembali kepada
ayah dan minta kekurangannya.
Pada saat saya teringat kepada ayah, sepatu tuanya
tampak membayang melintasi kedua mataku.

Jelas tampak kebututannya, sisinya yang compang
camping, paku paku yang telah mengintip keluar dan
sebaris staples yang umumnya dipakai untuk menjepit
kertas.
Sepatu kulit usang yang dipakainya untuk menghidupi
keluarganya.

Pada waktu musim dingin yang menggigit, sepatu yang
sama dipakainya melintasi jalan jalan yang dingin,
menuju kepada mobil mobil yang mogok.
Namun ayah tidak pernah mengeluh.

Terpikir olehku, betapa banyaknya benda benda
yang seharusnya dibutuhkan ayah, namun tidak
dimilikinya, semata mata agar saya mendapatkan
apa yang saya ingini.

Dan kementerengan sepatu sport yang ada di
balik kaca etelase di hadapanku mulai memudar.
Apa jadinya bila ayah bersikap sepertiku.

Sepatu jenis apa yang saat ini kupakai, bila ayahku
bersikap seperti saya bersikap.

Saya masuk ke dalam toko sepatu itu.
Sebuah rak besar terpampang megah, penuh ber-
isikan sepatu sport yang sungguh keren.

Di sampingnya, terdapat sebuah rak lain, dengan
sebingkai tulisan "obral besar. 50% discount".
Dibawah bingkai itu tergeletak sepatu sepatu
semodel sepatu ayah, beberapa generasi lebih
muda, tentunya.

Otakku bermain ping pong. Mula mula sepatu
ayah yang butut.
Dan sekarang sepatu baru. Pikiran tentang:
menjadi "in" dan seirama dengan remaja lain
di sekolah.

Dan kemudian pikiran tentang ayah, telah
mengalahkannya. Saya mengambil sepatu
ukuran 42 dari rak yang berdiscount.
Dengan segera berjalan ke arah meja kasir,
ditambah pajak, jadilah bilangan $ 6.13.

Saya kembali ke bengkel dan meletakkan sepatu
baru ayah di atas kursi di mobilnya.
Saya mendapatkan ayah dan mengembalikan
uang kembalian yang masih tersisa.

"Saya pikir harganya $ 9.95" kata ayah.
"Obral" kataku pendek.
Saya mengambil sapu, dan mulai membantu
ayah membersihkan bengkel.

Pukul lima sore, ia memberi tanda bahwa bengkel
harus ditutup dan kami harus pulang.
Ayah mengangkat kotak sepatu ketika kami masuk
ke dalam mobilnya.

Ketika ia membuka kotak itu, ia hanya dapat
memandang tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Ia memandang kepada sepatu itu lama-lama,
kemudian kepadaku.

"Saya pikir kau membeli sepatu sport", katanya pelan.
"Sebetulnya ayah, tapi ...Saya tak sanggup
meneruskannya.

Bagaimana saya harus menjelaskannya bahwa saya
sungguh ingin menjadi seperti ayah?

Dan bila saya tumbuh menjadi dewasa, saya
sungguh ingin menjadi seperti orang baik ini, yang
Tuhan berikan kepada saya sebagai ayah saya.

Ayah meletakkan tangannya pada bahu saya, dan
kami saling memandang untuk waktu sesaat.

Tidak ada kata kata yang perlu dikatakan. Ayah
menstarter mobil, dan kami pulang.

Terima kasih Tuhan, karena engkau telah memberiku
seorang ayah yang baik dan bertanggung jawab.

special for Kartika br. Karo.
for all the supports in my life, my sight and my thought.


a pair of sport shoe Readmore »»

Tiap Hari Adalah Istimewa

By Ann Wells ( Los Angeles Times)

Kakak iparku membuka laci lemari pakaian
kakakku yang paling bawah, lalu mengambil
sesuatu terbungkus tissue putih dan meng-
ulurkannya kepadaku sambil berkata,
"Ini pakaian dalam yang sangat spesial."

Kubuka bungkusan itu, dan kutemukan sebuah
pakaian dalam yang sangat menawan, lembut,
terbuat dari sutera, disulam tangan, dengan tali
sangat lembut. Tag harga masih tertempel,
dengan kode-kode penjualannya yang rumit.

"Jane membelinya 8 atau 9 tahun yang lalu,
dan belum pernah memakainya. Katanya ia
ingin memakainya untuk suatu kesempatan
yang sangat istimewa.Yah, rasanya inilah hari
yang istimewa itu," kata kakak iparku lemah.

Ia mengambil pakaian dalam itu dari tanganku,
dan meletakkannya di tas tempat tidur, bersama
dengan pakaian lainnya yang kami persiapkan
untuk dibawa ke rumah duka.

Ia memegang pakaian dalam itu sejenak, dan
dengan tiba-tiba ia menutup laci tersebut keras-
keras sambil berkata keras padaku: "Jangan
pernah menyimpan sesuatu yang istimewa untuk
kesempatan istimewa. Hidupmu tiap hari adalah
istimewa."

Aku terus ingat kata-kata tersebut sepanjang
upacara pemakaman dan hari-hari sesudahnya.
Saya membantu dia dan keponakan-keponakan
saya untuk melewati hari-hari berkabung setelah
kematian kakakku yang mendadak. Aku juga terus
memikirkan mereka sepanjang penerbanganku
kembali ke California dari kota Midwestern di mana
kakakku tinggal. Aku juga memikirkan hal-hal yang
belum sempat didengar, dilihat atau dikerjakan oleh
almarhum kakakku.

Aku juga memikirkan hal-hal yang sudah ia kerja-

kan tanpa menyadari Bahwa hal-hal tersebut sung-
guh sangat spesial. Aku terus memikirkan kata-kata
kakak iparku, dan sepertinya kata-kata yang ia ucap-

kan saat hatinya penuh duka tersebut telah meng-
ubah hidupku. Mendadak sepertinya aku telah mem-
baca sedemikian banyak buku tetang kehidupan.

Aku lalu memandang ke luar jendela dan menikmati
pemandangan udara yang indah, tanpa pusing lagi
memikirkan bagaimana kebun kesayanganku yang
telah kutinggal pergi beberapa hari.

Sesampai di rumahku sendiri,aku lalu menyem-
patkan diri untuk lebih Banyak berkumpul dengan
keluargaku dan teman-temanku, dan langsung
mengurangi kegiatan rapat-rapatku. Apabila di-
perlukan, hidup ini semestinya dipenuhi pola-pola
untuk pengalaman tentang kenikmatan, dan bukan
pertahanan serta beban. Sekarang saya mencoba
untuk memperhitungkan waktu dengan lebih teliti
dan mensyukurinya.

Aku tidak "menyimpan" esuatu. Kami bahkan
menggunakan chinawares (piring-piring buatan
cina) dan koleksi kristal kami setiap hari, tanpa
menunggu ada pesta, ada tamu atau lainnya.
Ketika kami kehilangan uang, ketika kran air bocor,
ketika bunga camelia kami mekar, adalah saat-saat
yang kami istimewakan.

Saya pergi ke pasar memakai pakaian yang
indah, jika memang sedang ingin. Semua kami
lakukan tanpa rasa sayang yang berlebihan ter-
hadap barang-barang tersebut. Teorinya, kalau
saya kelihatan lebih berada daripada orang-orang
di sekitarku, saya juga akan menjadi tidak pelit
terhadap diriku sendiri.
Saya tidak hanya memakai parfum kalau pergi
ke pesta.


Pelayan di toko bangunan, tukang sayur di pasar,
teller di bank, dan teman-temanku di pesta, me-
miliki hidung yang berfungsi sama. Kata-kata
"suatu hari kelak" ataupun "hari-hari ini", mem-
punyai makna yang sama bagi saya. Jika ada hal-
hal yang layak didengar, ditonton, dibaca atau di-
kerjakan, saya akan berusaha mendengar, menonton,
membaca atau mengerjakannya sekarang juga.

Saya tidak tahu apa kira-kira yang akan almarhum
kakakku apabila ia tahu bahwa keesokan harinya
("besok" adalah kata-kata yang tidak pernah kita
bayangkan akan tidak terjadi) ia sudah tidak akan
ada lagi di dunia ini.

Mungkin ia akan menelpon seluruh keluarganya
dan beberapa teman dekatnya, mungkin ia akan
menelpon teman-teman lamanya dan meminta maaf
akan kesalahan-kesalahan yang ia lakukan di masa
lalu. Saya bahkan juga membayangkan bahwa ia
justru akan pergi ke sebuah restoran cina yang sangat
ia sukai.

Tapi semua itu hanya perkiraanku saja.Kita tidak
pernah tahu.

Hal-hal tersebut pasti akan membuat aku marah bila
belum dapat saya lakukan padahal saya tidak me-
miliki waktu lagi. Marah karena selama ini saya selalu
menunda pertemuan-pertemuan dengan teman-
teman baik saya, meskipun Saya sangat ingin
berjumpa dengan mereka.

Marah, karena selama ini saya jarang membalas
surat-surat yang saya terima.Marah dan menyesal
karena selama ini saya jarang sekali mengatakan
pada isteri dan anak-anakku, betapa Saya menya-
yangi mereka. Kini saya selalu mengusahakan
untuk tidak menunda atau menahan hal-hal yang
sekiranya akan menambah keceriaan, kesulitan
atau kesedihan dalam hidup ini membuat saya
tertawa.

Dan setiap pagi, begitu saya membuka mata,
saya katakan pada diri saya sendiri, bahwa hari
itu adalah hari yang spesial. Setiap hari, setiap
menit, setiap nafas, adalah benar-benar anugerah
yang indah dari Tuhan.

Jika anda menerima mail ini, pasti karena ada
orang yang peduli dan Sayang kepada anda. Jika
anda selama ini terlalu sibuk, cobalah berhenti
sejenak.

Sempatkan beberapa menit saja memikirkan
orang-orang yang dekat di hati anda, teman-teman
yang telah memberikan warna pada hidup anda,
guru, pembimbing, siapapun. Kalau perlu, forward
artikel ini kepada mereka, just to show that you care.

"Good friends must always hold hands, but true
friends do not need to hold hands because they
know the other hand will always be there."

Readmore »»

Friday, June 13, 2008

Life is a gift

1. Hari ini sebelum kamu mengatakan kata-kata
yang tidak baik,Pikirkan tentang seseorang yang
tidak dapat berbicara sama sekali

2. Sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari
makananmu, Pikirkan tentang seseorang yang
tidak punya apapun untuk dimakan.

3. Sebelum anda mengeluh tidak punya apa-apa,
Pikirkan tentang seseorang yang meminta-
minta di jalanan.

4. Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk,
Pikirkan tentang seseorang yang berada pada
tingkat yang terburuk didalam hidupnya.

5. Sebelum kamu mengeluh tentang suami atau
istri anda,Pikirkan tentang seseorang yang
memohon kepada Tuhan untuk diberikan teman
hidup

6. Hari ini sebelum kamu mengeluh tentang hidupmu,
Pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu
cepat

7. Sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu yang
kotor karena pembantumu tidak mengerjakan
tugasnya,Pikirkan tentang orang-orang yang
tinggal di jalanan

8. Sebelum kamu mengeluh tentang jauhnya
kamu telah menyetir,Pikirkan tentang seseorang
yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan

9. Dan disaat kamu lelah dan mengeluh tentang
pekerjaanmu, Pikirkan tentang pengangguran,
orang-orang cacat yang berharap mereka
mempunyai pekerjaan seperti anda.

10. Sebelum kamu menunjukkan jari dan menyalahkan

orang lain,Ingatlah bahwa tidak ada seorangpun
yang tidak berdosa.

11. Dan ketika kamu sedang bersedih dan hidupmu

dalam kesusahan,Tersenyum dan berterima kasihlah
kepada Tuhan bahwa kamu masih hidup !


Life is a gift..

ai
Readmore »»

Monday, June 9, 2008

Kisah Alergi Hidup

Seorang pria mendatangi seorang Guru.

Katanya : "Guru, saya sudah bosan hidup.

Benar-benar jenuh. Rumah tangga saya

berantakan. Usaha saya kacau. Apapun

yang saya lakukan selalu gagal. Saya ingin

mati".

Sang Guru tersenyum : "Oh, kamu sakit".

"Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat.

Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya

saya ingin mati".

Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya,

sang Guru meneruskan : "Kamu sakit. Penya-

kitmu itu bernama "Alergi Hidup". Ya, kamu

alergi terhadap kehidupan. Banyak sekali di

antara kita yang alergi terhadap kehidupan.

Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-

hal yang bertentangan dengan norma kehidupan.

Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan ini

Mengalir terus, tetapi kita menginginkan keadaan

status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut

mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita meng-

undang penyakit. Penolakan kita untuk ikut meng-

alir bersama kehidupan membuat kita sakit.

Usaha pasti ada pasang-surutnya. Dalam

berumah-tangga, pertengkaran kecil itu memang

wajar. Persahabatan pun tidak selalu langgeng.

Apa sih yang abadi dalam hidup ini ?

Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin

mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita

gagal, kecewa dan menderita".

"Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu

benar-benar bertekad ingin sembuh dan bersedia

mengikuti petunjukku", kata sang Guru.

"Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh.

Tidak, saya tidak ingin hidup lebih lama lagi",

pria itu menolak tawaran sang Guru.

"Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul

ingin mati ?", tanya Guru.

"Ya, memang saya sudah bosan hidup",

jawab pria itu lagi.

"Baiklah. Kalau begitu besok sore kamu akan

mati. Ambillah botol obat ini... Malam nanti,

minumlah separuh isi botol ini. Sedangkan separuh

sisanya kau minum besok sore jam enam. Maka

esok jam delapan malam kau akan mati dengan

tenang".

Kini, giliran pria itu menjadi bingung. Sebelumnya,

semua Guru yang ia datangi selalu berupaya

untuk memberikan semangat hidup. Namun, Guru

yang satu ini aneh. Alih-alih memberi semangat

hidup, malah menawarkan racun. Tetapi, karena

ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya

dengan senang hati.

Setibanya di rumah, ia langsung menghabiskan

setengah botol racun yang disebut "obat" oleh

sang Guru tadi. Lalu, ia merasakan ketenangan

yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu

rileks, begitu santai ! Tinggal satu malam dan satu

hari ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala

macam masalah.

Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam

bersama keluarga di restoran Jepang. Sesuatu yang

tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun

terakhir. Ini adalah malam terakhirnya. Ia ingin

meninggalkan kenangan manis. Sambil makan,

ia bersenda gurau. Suasananya amat harmonis.

Sebelum tidur, ia mencium istrinya dan berbisik,

"Sayang, aku mencintaimu". Sekali lagi, karena

malam itu adalah malam terakhir, ia ingin mening-

galkan kenangan manis.

Esoknya, sehabis bangun tidur, ia membuka

jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin

pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk

melakukan jalan pagi. Setengah jam kemudian ia

kembali ke rumah, ia menemukan istrinya masih

tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur

dan membuat dua cangkir kopi. Satu untuk dirinya,

satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi

terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!

Sang istripun merasa aneh sekali dan berkata,

"Sayang, apa yang terjadi hari ini ? Selama ini,

mungkin aku salah. Maafkan aku sayang".

Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman

dengan setiap orang. Stafnya pun bingung,

"Hari ini, Bos kita kok aneh ya ?" Dan sikap mereka

pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut.

Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin

meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala

sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah

dan lebih toleran, bahkan menghargai terhadap

pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup

menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.

Pulang ke rumah jam 5 sore, ia menemukan istri

tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini

justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya

sambil berkata : "Sayang, sekali lagi aku minta maaf,

kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu". Anak-

anak pun tidak ingin ketinggalan : "Ayah, maafkan

kami semua. Selama ini, ayah selalu tertekan karena

perilaku kami".

Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali.

Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurung-

kan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana

dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore

sebelumnya ?

Ia mendatangi sang Guru lagi. Melihat wajah pria

itu, rupanya sang Guru langsung mengetahui apa

yang telah terjadi dan berkata : "Buang saja botol

itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh. Apabila

kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan

kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan

saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan.

Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombongan-

mu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah

bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh,

tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah

rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah

jalan menuju ketenangan".

Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami

Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi

pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih

mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian.

Itulahsebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang,

selalu HIDUP !



life allergy story ..

Readmore »»

Dua Pilihan


Pada sebuah jamuan makan malam pengadaan
dana untuk sekolah anak-anak cacat, ayah dari salah
satu anak yang bersekolah disana menghantarkan satu
pidato yang tidak mungkin dilupakan oleh mereka yang
menghadiri acara itu.

Setelah mengucapkan salam pembukaan, ayah
tersebut mengangkat satu topik:
“Ketika tidak mengalami gangguan dari sebab-sebab
eksternal, segala proses yang terjadi dalam alam ini
berjalan secara sempurna/ alami. Namun tidak
demikian halnya dengan anakku, Shay. Dia tidak
dapat mempelajari hal-hal sebagaimana layaknya
anak-anak yang lain. Nah, bagaimanakah proses
alami ini berlangsung dalam diri anakku?“

Para peserta terdiam menghadapi pertanyaan itu.

Ayah tersebut melanjutkan, "Saya percaya bahwa,
untuk seorang anak seperti Shay, yang mana dia
mengalami gangguan mental dan fisik sedari lahir,
satu-satunya kesempatan untuk dia mengenali alam
ini berasal dari bagaimana orang-orang sekitarnya
memperlakukan dia"

Kemudian ayah tersebut menceritakan kisah berikut:
Shay dan aku sedang berjalan-jalan di sebuah taman
ketika beberapa orang anak sedang bermain baseball.

Shay bertanya padaku,"Apakah kau pikir mereka
akan membiarkanku ikut bermain?" Aku tahu bahwa
kebanyakan anak-anak itu tidak akan membiarkan
orang-orang seperti Shay ikut dalam tim mereka,
namun aku juga tahu bahwa bila saja Shay mendapat
kesempatan untuk bermain dalam tim itu, hal itu akan
memberinya semacam perasaan dibutuhkan dan
kepercayaan untuk diterima oleh orang-orang lain,
di luar kondisi fisiknya yang cacat.

Aku mendekati salah satu anak laki-laki itu dan
bertanya apakah Shay dapat ikut dalam tim mereka,
dengan tidak berharap banyak. Anak itu melihat
sekelilingnya dan berkata, "kami telah kalah 6
putaran dan sekaran sudah babak kedelapan. Aku
rasa dia dapat ikut dalam tim kami dan kami akan
mencoba untuk memasukkan dia bertanding pada
babak kesembilan nanti'

Shay berjuang untuk mendekat ke dalam tim itu
dan mengenakan seragam tim dengan senyum
lebar, dan aku menahan air mata di mataku dan
kehangatan dalam hatiku. Anak-anak tim tersebut
melihat kebahagiaan seorang ayah yang gembira
karena anaknya diterima bermain dalam satu tim.

Pada akhir putaran kedelapan, tim Shay mencetak
beberapa skor, namun masih ketinggalan angka.

Pada putaran kesembilan, Shay mengenakan
sarungnya dan bermain di sayap kanan. Walaupun
tidak ada bola yang mengarah padanya, dia sangat
antusias hanya karena turut serta dalam permainan
tersebut dan berada dalam lapangan itu. Seringai
lebar terpampang di wajahnya ketika aku melambai
padanya dari kerumunan.

Pada akhir putaran kesembilan, tim Shay mencetak
beberapa skor lagi. Dan dengan dua angka out,
kemungkinan untuk mencetak kemenangan ada di
depan mata dan Shay yang terjadwal untuk menjadi
pemukul berikutnya.

Pada kondisi yg spt ini, apakah mungkin mereka
akan mengabaikan kesempatan untuk menang
dengan membiarkan Shay menjadi kunci kemenangan
mereka?

Yang mengejutkan adalah mereka memberikan
kesempatan itu pada Shay.

Semua yang hadir tahu bahwa satu pukulan adalah
mustahil karena Shay bahkan tidak tahu bagaimana
caranya memegang pemukul dengan benar, apalagi
berhubungan dengan bola itu.

Yang terjadi adalah, ketika Shay melangkah maju ke
dalam arena, sang pitcher, sadar bagaimana tim Shay
telah mengesampingkan kemungkinan menang
mereka untuk satu momen penting dalam hidup Shay,
mengambil beberapa langkah maju ke depan dan
melempar bola itu perlahan sehingga Shay paling tidak
bisa mengadakan kontak dengan bola itu.

Lemparan pertama meleset; Shay mengayun tongkat-
nya dengan ceroboh dan luput.

Pitcher tsb kembali mengambil beberapa langkah ke
depan, dan melempar bola itu perlahan kearah Shay.

Ketika bola itu datang, Shay mengayun kearah bola itu
dan mengenai bola itu dengan satu pukulan perlahan
kembali kearah pitcher.

Permainan seharusnya berakhir saat itu juga, pitcher
tsb bisa saja dengan mudah melempar bola ke
baseman pertama, Shay akan keluar, dan permainan
akan berakhir.

Sebaliknya, pitcher tsb melempar bola melewati baseman
pertama, jauh dari jangkauan semua anggota tim.
Penonton bersorak dan kedua tim mulai
berteriak, "Shay, lari ke base satu! Lari ke base satu!".

Tidak pernah dalam hidup Shay sebelumnya ia berlari
sejauh itu, tapi dia berhasil melaju ke base pertama.

Shay tertegun dan membelalakkan matanya. Semua
orang berteriak, "Lari ke base dua, lari ke base dua!"
Sambil menahan napasnya, Shay berlari dengan
canggung ke base dua. Ia terlihat bersinar-sinar dan
bersemangat dalam perjuangannya menuju base dua.

Pada saat Shay menuju base dua, seorang pemain
sayap kanan memegang bola itu di tangannya. Pemain
itu merupakan anak terkecil dalam timnya, dan dia saat
itu mempunyai kesempatan menjadi pahlawan
kemenangan tim untuk pertama kali dalam hidupnya.

Dia dapat dengan mudah melempar bola itu ke penjaga
base dua. Namun pemain ini memahami maksud baik
dari sang pitcher, sehingga dia pun dengan tujuan yang
sama melempar bola itu tinggi ke atas jauh melewati
jangkauan penjaga base ketiga.

Shay berlari menuju base ketiga.
> Semua yang hadir berteriak, "Shay, Shay, Shay,
teruskan perjuanganmu Shay!"

Shay mencapai base ketiga saat seorang pemain
lawan berlari ke arahnya dan memberitahu Shay
arah selanjutnya yang mesti ditempuh. Pada saat
Shay menyelesaikan base ketiga, para pemain dari
kedua tim dan para penonton yang berdiri mulai
berteriak, "Shay, larilah ke home, lari ke home!".

Shay berlari ke home, menginjak balok yg ada,
dan dielu-elukan bak seorang hero yang memenangkan
grand slam. Dia telah memenangkan game untuk timnya.

Hari itu, kenang ayah tersebut dengan air mata yang
berlinangan di wajahnya, para pemain dari kedua tim
telah menghadirkan sebuah cinta yang tulus dan nilai
kemanusiaan kedalam dunia.

Shay tidak dapat bertahan hingga musim panas berikut
dan meninggal musim dingin itu. Sepanjang sisa hidupnya
dia tidak pernah melupakan momen dimana dia telah
menjadi seorang hero, bagaimana dia telah membuat
ayahnya bahagia, dan bagaimana dia telah membuat
ibunya menitikkan air mata bahagia akan sang pahlawan
kecilnya.

Seorang bijak pernah berkata, sebuah masyarakat akan
dinilai dari cara mereka memperlakukan seorang yang
paling tidak beruntung diantara mereka.

Catatan kaki:
Kita sering mengirim ribuan jokes lewat email tanpa pikir
panjang, namun bila kita harus mengirimkan mail tentang
pilihan dalam hidup, kita seringkali ragu. Kejadian-
kejadian vulgar, kasar dan mengerikan acap terjadi
dalam hidup ini,namun pembicaraan tentangnya seolah
tertelan waktu, baik itu di lingkungan pendidikan atau
kerja.

Jika Anda berpikir untuk forward artikel ini,
kemungkinannya Anda akan memilih daftar orang-orang
dari email address Anda yang Anda pikir layak untuk
menerima email Anda. Ingatlah, bahwa orang yang
mengirimi Anda email ini berpikir bahwa kita semua
dapat membuat perbedaan.

Kita semua mempunyai banyak pilihan dalam hidup
setiap harinya untuk dapat memahami "kejadian alami
dalam hidup". Begitu banyak hubungan antar 2 manusia
yang kelihatan remeh, sebenarnya telah meninggalkan

2 pilihan bagi kita:
Apakah kita telah meninggalkan cinta dan kemanusiaan
atau,
Apakah kita telah melewatkan kesempatan untuk berbagi
kasih dengan mereka yang kurang beruntung, yang
menyebabkan hidup ini menjadi dingin?

two choices ..

Readmore »»

Diet Rasul SAW

RENUNGAN

JENIS MAKANAN

Rupanya tanpa kita sadari, dalam makanan yang
kita makan sehari-hari, kita tak boleh sembarangan.
Hal inilah penyebab terjadinya berbagai penyakit
antara lain penyakit kencing manis, lumpuh, sakit
jantung, keracunan makanan dan lain2 penyakit.
Apabila anda telah mengetahui ilmu ini, tolonglah
ajarkan kepada yg lainnya.

Ini pun adalah diet Rasullulah SAW kita juga. Ustaz
Abdullah Mahmood mengungkapkan, Rasullulah tak
pernah sakit perut sepanjang hayatnya karena pandai
menjaga makanannya sehari-hari. Insya Allah kalau
anda ikut diet Rasullullah ini, anda takkan menderita
sakit perut ataupun keracunan makanan.

Jangan makan SUSU bersama DAGING
Jangan makan DAGING bersama IKAN
Jangan makan IKAN bersama SUSU
Jangan makan AYAM bersama SUSU
Jangan makan IKAN bersama TELUR
Jangan makan IKAN bersama DAUN SALAD
Jangan makan SUSU bersama CUKA
Jangan makan BUAH bersama SUSU

CARA MAKAN

JANGAN MAKAN BUAH SETELAH MAKAN NASI ,
SEBALIKNYA MAKANLAH BUAH TERLEBIH DAHULU,
BARU MAKAN NASI.
TIDUR 1 JAM SETELAH MAKAN TENGAH HARI.
JANGAN SESEKALI TINGGAL MAKAN MALAM .
BARANG SIAPA YG TINGGAL MAKAN MALAM
DIA AKAN DIMAKAN USIA DAN KOLESTEROL
DALAM BADAN AKAN BERGANDA.

Nampak memang sulit. tapi, kalau tak percaya.
Cobalah.

Pengaruhnya tidak dalam jangka pendek. Akan
berpengaruh bila kita sudah tua nanti.
Dalam kitab juga melarang kita


makan makanan darat bercampur dengan
makanan laut.


Nabi pernah mencegah kita makan ikan bersama
susu. karena akan cepat mendapat penyakit. Ini
terbukti oleh ilmuwan yang menemukan bahwa
dalam daging ayam mengandung ion+ sedangkan
dalam ikan mengandung ion-, jika dalam makanan
kita ayam bercampur dengan ikan maka akan
terjadi reaksi biokimia yang akan dapat merusak
usus kita.

Al-Quran Juga mengajarkan kita menjaga
kesehatan spt membuat amalan antara lain:
Mandi Pagi sebelum subuh.

sekurang kurangnya sejam sebelum matahari
terbit. Air sejuk yang meresap kedalam badan
dapat mengurangi penimbunan lemak. Kita boleh
saksikan orang yang mandi pagi kebanyakan
badan tak gemuk.

Rasulullah mengamalkan minum segelas air sejuk
(bukan air es) setiap pagi. Mujarabnya Insya Allah
jauh dari penyakit (susah mendapat sakit).

Waktu sembahyang subuh disunatkan kita bertafakur
(yaitu sujud sekurang kurangnya semenit setelah
membaca doa).

Kita akan terhindar dari sakit kepala atau migrain.
Ini terbukti oleh para ilmuwan yang membuat kajian
kenapa dalam sehari perlu kita sujud. Ahli-ahli sains
telah menemui beberapa milimeter ruang udara dalam
saluran darah di kepala yg tidak dipenuhi darah.
Dengan bersujud maka darah akan mengalir keruang
tersebut.

Nabi juga mengajar kita makan dengan tangan dan
bila habis hendaklah menjilat jari. Begitu juga ahli sains
telah menemukan bahwa enzyme banyak terkandung di
celah jari jari, yaitu 10 kali ganda terdapat dalam air liur.
(enzyme sejenis alat percerna makanan) Wassalam.
Sama-samalah kita mengamalkannya..
WallahuA'lam

Sabda nabi, Ilmu itu milik Allah, barang siapa
menyebarkan ilmu demi kebaikan insya Allah..
Allah akan menggandakan 10 kali kepadanya.



diet for everyday health ...

Readmore »»

Bicara Dengan Bahasa Hati

ArtiKeL yaNG BaGuS BaGi OrANg yaNG
bawaANnyA marah2 ?

Tak ada musuh yang tak dapat ditaklukkan oleh
cinta.
Tak ada penyakit yang tak dapat disembuhkan
oleh kasih sayang.
Tak ada permusuhan yang tak dapat dimaafkan
oleh ketulusan.
Tak ada kesulitan yang tak dapat dipecahkan oleh
ketekunan.
Tak ada batu keras yang tak dapat dipecahkan oleh
kesabaran.
Semua itu haruslah berasal dari hati anda.

Bicaralah dengan bahasa hati, maka akan sampai
ke hati pula. Kesuksesan bukan semata-mata betapa
keras otot dan betapa tajam otak anda, namun juga
betapa lembut hati anda dalam menjalani segala
sesuatunya.

Anda tak
kan dapat menghentikan tangis seorang
bayi hanya dengan merengkuhnya dalam lengan yang
kuat. Atau, membujuknya dengan berbagai gula-gula
dan kata-kata manis.

Anda harus mendekapnya hingga ia merasakan detak
jantung yang tenang jauh di dalam dada anda.

Mulailah dengan melembutkan hati sebelum
memberikannya pada keberhasilan anda.




speak with heart language ...

Readmore »»

Saturday, June 7, 2008

Anjing Kecil

Seekor anak anjing yang kecil mungil sedang
berjalan-jalan di ladang pemiliknya. Ketika dia
mendekati kandang kuda, dia mendengar
binatang besar itu memanggilnya. Kata kuda itu:
"Kamu pasti masih baru di sini, cepat atau lambat
kamu akan mengetahui kalau pemilik ladang ini
mencintai saya lebih dari binatang lainnya, sebab
saya bisa mengangkut banyak barang untuknya,
saya kira binatang sekecil kamu tidak akan
bernilai sama sekali baginya", ujarnya dengan sinis.

Anjing kecil itu menundukkan kepalanya dan pergi,
lalu dia mendengar seekor sapi di kandang sebelah


small dog, puppie ..
berkata:"Saya adalah binatang yang paling terhormat
di sini sebab nyonya di sini membuat keju dan
mentega dari susu saya. Kamu tentu tidak berguna
bagi keluarga di sini", dengan nada mencemooh.

Teriak seekor domba, "Hai sapi, kedudukanmu tidak
lebih tinggi dari saya, saya memberi mantel bulu
kepada pemilik ladang ini. Saya memberi kehangatan
kepada seluruh keluarga. Tapi omonganmu soal
anjing kecil itu, kayanya kamu memang benar.
Dia sama sekali tidak ada manfaatnya di sini."

Satu demi satu binatang di situ ikut serta dalam
percakapan itu, sambil menceritakan betapa tinggi-
nya kedudukan mereka di ladang itu. Ayam pun
berkata bagaimana dia telah memberikan telur,
kucing bangga bagaimana dia telah mengenyahkan
tikus-tikus pengerat dari ladang itu. Semua binatang
sepakat kalau si anjing kecil itu adalah mahluk tak
berguna dan tidak sanggup memberikan kontribusi
apapun kepada keluarga itu.

Terpukul oleh kecaman binatang-binatang lain, anjing
kecil itu pergi ke tempat sepi dan mulai menangis
menyesali nasibnya, sedih rasanya sudah yatim piatu
dianggap tak berguna, disingkirkan dari pergaulan lagi..

Ada seekor anjing tua di situ mendengar tangisan
tersebut, lalu menyimak keluh kesah si anjing kecil itu.

"Saya tidak dapat memberikan pelayanan kepada
keluarga disini, sayalah hewan yang paling tidak
berguna di sini."

Kata anjing tua itu, "Memang benar bahwa kamu
terlalu kecil untuk menarik pedati, kamu tidak bisa
memberikan telur, susu ataupun bulu, tetapi bodoh
sekali jika kamu menangisi sesuatu yang tidak bisa
kamu lakukan. Kamu harus menggunakan kemampuan
yang diberikan oleh Sang Pencipta untuk membawa
kegembiraan."

Malam itu ketika pemilik ladang baru pulang dan
tampak amat lelah karena perjalanan jauh di panas
terik matahari, anjing kecil itu lari menghampirinya,
menjilat kakinya dan melompat ke pelukannya. Sambil
menjatuhkan diri ke tanah, pemilik ladang dan anjing
kecil itu berguling-guling di rumput disertai tawa ria.

Akhirnya pemilik ladang itu memeluk dia erat-erat dan
mengelus-elus kepalanya, serta berkata, "Meskipun
saya pulang dalam keadaan letih, tapi rasanya semua
jadi sirna, bila kau menyambutku semesra ini, kamu
sungguh yang paling berharga di antara semua
binatang di ladang ini, kecil kecil kamu telah mengerti
artinya kasih.."

Jangan sedih karena kamu tidak dapat melakukan
sesuatu seperti orang lain karena memang tidak memiliki
kemampuan untuk itu, tetapi apa yang kamu dapat
lakukan, lakukanlah itu dengan sebaik-baiknya.

Dan jangan sombong jika kamu merasa banyak
melakukan beberapa hal pada orang lain, karena orang
yang tinggi hati akan direndahkan dan orang yang
rendah hati akan ditinggikan. Readmore »»

Wednesday, June 4, 2008

Renungan..

Mungkin banyak yang tahu wujud kepiting, tapi tidak
banyak yang tahu
sifat kepiting. Semoga Anda tidak
memiliki sifat kepiting yang dengki.


Di Filipina, masyarakat pedesaan gemar sekali
menangkap dan memakan
kepiting sawah.

Kepiting itu ukurannya kecil namun rasanya cukup
lezat.
Kepiting-kepiting itu dengan mudah ditangkap
di malam hari, lalu
dimasukkan ke dalam baskom/wadah,
tanpa diikat.


Keesokkan harinya, kepiting-kepiting ini akan direbus
dan lalu disantap
untuk lauk selama beberapa hari.
Yang paling menarik dari kebiasaan
ini, kepiting-kepiting
itu akan selalu berusaha untuk keluar dari baskom,

sekuat tenaga mereka, dengan menggunakan capit-
capitnya yang kuat.


Namun seorang penangkap kepiting yang handal
selalu tenang meskipun
hasil buruannya selalu
berusaha meloloskan diri.


Resepnya hanya satu, yaitu si pemburu tahu betul
sifat si kepiting.


Bila ada seekor kepiting yang hampir meloloskan
diri keluar dari
baskom, teman-temannya pasti akan
menariknya lagi kembali ke dasar.


Jika ada lagi yang naik dengan cepat ke mulut baskom,
lagi-lagi
temannya akan menariknya turun...
dan begitu seterusnya sampai akhirnya tidak ada yang
berhasil keluar.


Keesokan harinya sang pemburu tinggal merebus
mereka semua dan matilah
sekawanan kepiting yang
dengki itu.


Begitu pula dalam kehidupan ini...
tanpa sadar kita juga terkadang menjadi seperti
kepiting-kepiting itu.


Yang seharusnya bergembira jika teman atau saudara
kita mengalami
kesuksesan kita malahan mencurigai,
jangan-jangan kesuksesan itu diraih
dengan jalan yang
nggak bener.


Apalagi di dalam bisnis atau hal lain yang mengandung
unsur kompetisi,
sifat iri, dengki, atau munafik akan semakin
nyata dan kalau tidak
segera kita sadari tanpa sadar kita
sudah membunuh diri kita sendiri.


Kesuksesan akan datang kalau kita bisa menyadari
bahwa di dalam bisnis
atau persaingan yang penting bukan
siapa yang menang, namun terlebih penting
dari itu
seberapa jauh kita bisa mengembangkan diri kita seutuhnya.


Jika kita berkembang, kita mungkin bisa menang atau
bisa juga kalah
dalam suatu persaingan, namun yang pasti
kita menang dalam kehidupan ini.


Pertanda seseorang adalah 'kepiting':

1. Selalu mengingat kesalahan pihak luar (bisa orang lain
atau situasi)
yang sudah lampau dan menjadikannya
suatu prinsip/pedoman dalam
bertindak

2. Banyak mengkritik tapi tidak ada perubahan

3. Hobi membicarakan kelemahan orang lain tapi tidak
mengetahui
kelemahan dirinya sendiri sehingga ia
hanya sibuk menarik kepiting-kepiting yang
akan keluar
dari baskom dan melupakan usaha pelolosan dirinya
sendiri.


..Seharusnya kepiting-kepiting itu tolong-menolong keluar
dari baskom,
namun yah...
dibutuhkan jiwa yang besar untuk melakukannya...

Coba renungkan berapa waktu yang Anda pakai untuk
memikirkan cara-cara
menjadi pemenang. Dalam
kehidupan sosial, bisnis, sekolah, atau agama.

Dan gantilah waktu itu untuk memikirkan cara-cara
pengembangan diri Anda
menjadi pribadi yang sehat
dan sukses.


Betapa pun banyaknya kucing berkelahi, selalu saja
banyak anak kucing
lahir. (Abraham Lincoln) Readmore »»

Ia Hadir untuk Dicinta



Jika masih tertahan kelopak mata ini untuk tetap
terbuka hingga larut, atau saat terjaga di pertengahan
malam selalu saya sempatkan untuk menyambangi kamar
anak-anak. Saya hampiri dan tatap wajah mereka
bergantian sambil menghalau nyamuk yang hinggap di
tubuh mereka. Wajah indah yang terlelap itu
menyibakkan kejujuran dalam hati, bahwa mereka hadir
sebagai amanah yang harus dijaga sebaik-baiknya.
Mereka ada untuk dicinta.

Terbayanglah kekesalan yang hampir tercipta akibat
perbuatan dan tingkah nakal mau pun pembangkangan
mereka siang tadi. Terlintaslah amarah yang nyaris
meluap saat mereka tak mendengar perintah mau pun
ketika peraturan terlanggar. Beruntung kekesalan itu
hanya sempat mampir di kepala dan tak sampai keluar
makian kasar yang pasti akan melukai telinga mereka.
Bersyukur amarah ini tak sekali pun sempat membuat
mereka melihat saya seperti monster yang menakutkan.
Mereka hanya anak-anak yang sangat pantas dan bisa
sangat dimaafkan ketika berbuat kesalahan. Jiwa mereka
masih sangat rapuh untuk menerima kalimat dan perilaku
kasar orang tua hanya karena kesalahan kecil yang
mereka pun mungkin tak sadar kalau itu benar-benar
sebuah kesalahan.

Bisa jadi letak kesalahan justru terletak pada orang
tua yang terlalu kaku membuat peraturan, mengekang
kebebasan mereka sebagai individu yang meski masih
kecil tetap saja seorang manusia yang berhak dan bebas
memilih untuk melakukan yang terbaik menurut mereka.
Tugas orang tua bukan melarang atau memerintah, tapi
lebih kepada mengarahkan agar mereka tetap berada pada
jalur yang sebenarnya.

Menatap kembali wajah-wajah bersih itu dalam tidur
mereka yang mungkin sedang memimpikan Ayah dan Ibu
yang tengah menimang dan membuai penuh kasih,
tergambar jelas tak sedikit pun ada dosa di diri
mereka. Kalau mau menghitung-hitung, jangan-jangan
justru kita lah yang lebih banyak berbuat kesalahan
terhadap mereka dibanding jumlah kesalahan kecil
mereka.

Saya teringat banyak kejadian di luar. Misalnya ketika
di sebuah angkot seorang ibu memaki anaknya yang
masih
berusia empat tahun -dari posturnya seukuran anak
saya- dengan kalimat yang sangat belum waktunya anak
sekecil itu mendapatkannya. Belum lagi tempelengan
yang sempat mampir di kepalanya. "goblok lu ya, kalau
jatuh mampus luh," hanya karena ia sempat melongok ke
arah pintu angkot. Sebuah kesalahan kecil yang
mestinya bisa disikapi lebih bijak dengan sebuah
nasihat lembut.

Atau ketika isteri saya bercerita
tentang seorang
ibu dari teman sekolah anak kami di
TK. Anaknya
terjatuh saat berlari, "Nyungsep sekalian
biar
bonyok tuh muka. Udah dibilangin jangan lari,"

itu pun masih ditambah satu tamparan di kepala. Yang
pasti itu tak meredakan tangis si anak, bahkan membuat
memar di lututnya semakin perih terasa hingga ke hati.

Mengusap bulir keringat di kening mereka dan membelai
rambutnya saat tidur membuahkan pertanyaan di benak
ini, haruskah bintang-bintang sejernih ini mendapatkan
perlakuan sekasar itu? Lihat saja senyum mereka saat
terlelap, dan dengarkan hati mereka bernyanyi dalam
mimpi.

Anda akan mendengarkan nyanyian riangnya jika

Anda memperlakukannya sepanjang hari seperti halnya
Anda tengah menciptakan sebuah mimpi indah untuknya.
Namun jangan terperanjat ketika tengah malam tidur
Anda terusik saat ia mengigau dan berteriak ketakutan.
Hanya rintihan yang bisa terdengar dari mimpinya
karena sepanjang hari ia hanya mendapatkan kecemasan
dan ketakutan dari kalimat kasar, delikkan mata dan
ayunan keras tangan Anda ke tubuh mereka.

Tak seekor nyamuk pun pernah saya persilahkan untuk
menyentuh setiap inci kulit mereka. Lalu kenapa masih
ada yang tega mencederai anak-anak, padahal dalam
berbagai dongeng mereka selalu mendengar bahwa yang
kasih dan cintanya tak terbanding itulah Ayah dan Ibu.
Coba sentuh dengan lembut wajah halusnya saat tidur,
itu akan membuatnya bermimpi indah seolah tengah
terbaring di pangkuan bidadari.

Anak-anak tak pernah membenci orang tuanya, bahkan
saat mereka mendapatkan perlakukan kasar dari orang
tua pun, tetap saja nama Ayah atau Ibu yang mereka
panggil saat menangis. Anak-anak tak pernah berdosa
terhadap orang tuanya, justru kebanyakan orang tua
yang berdosa kepada mereka dengan makian kasar dan
pukulan menyakitkan. Anak-anak tak pernah benar-benar
membuat orang tua kesal, orang tua lah yang teramat
sering membuat mereka kecewa mendapati Ayah dan
Ibunya
tak seindah syair lagu yang selalu diajarkan guru
di
sekolah.

Ah, kadang orang tua baru menyadari bahwa anak-anak
hadir untuk dicinta saat ia terbaring lemah di salah
satu tempat tidur di bangsal anak-anak. Atau ketika
Tuhan mencabut amanah itu dari kita. Menangiskah kita?



Readmore »»