Tuesday, May 27, 2008

Kisah dari Steve Jobs

Pidato Steve Jobs, CEO Apple Computer
dan
Studio Animasi Pixar, di acara pelepasan
mahasiswa Stanford, 12 Juni 2005.


Hari ini akan saya ceritakan tiga kisah dalam
hidup saya.


Cerita pertama saya.

Kisahnya dimulai sebelum saya lahir.
Ibu kandung saya adalah mahasiswi belia yang
hamil karena "kecelakaan" dan memberikan
saya kepada seseorang untuk diadopsi. Dia
bertekad bahwa saya harus diadopsi oleh
keluarga sarjana, maka saya pun diperjanjikan
untuk dipungut anak semenjak lahir oleh seorang
pengacara dan istrinya. Sialnya, begitu saya lahir,
tiba-tiba mereka berubah pikiran karena ingin
bayi perempuan. Maka orang tua saya sekarang,
yang ada di daftar urut berikutnya, mendapatkan
telepon larut m! alam dari seseorang:
"kami punya bayi laki-laki yang batal dipungut;
apakah Anda berminat?


Mereka

menjawab: "Tentu saja." Ibu kandung saya lalu
mengetahui bahwa ibu angkat saya tidak pernah
lulus kuliah dan ayah angkat saya bahkan tidak
tamat SMA. Dia menolak menandatangani
perjanjian adopsi.


Sikapnya baru melunak beberapa bulan kemudian,
setelah orang tua saya berjanji akan menyekolahkan
saya sampai perguruan tinggi.


Dan, 17 tahun kemudian saya betul-betul kuliah.
Namun, dengan naifnya saya memilih universitas
yang hampir sama mahalnya dengan Stanford,
sehingga seluruh tabungan orang tua saya


– yang hanya pegawai rendahan– habis untuk
biaya kuliah. Setelah enam bulan, saya tidak
melihat manfaatnya. Saya tidak tahu apa yang
harus saya lakukan dalam hidup saya dan bagai-
mana kuliah akan membantu saya menemukannya.
Saya sudah menghabiskan seluruh tabungan yang
dikumpulkan orang tua saya seumur hidup mereka.
Maka, saya pun memutuskan berhenti kuliah, yakin
bahwa itu yang terbaik. Saat itu rasanya menakutkan,
namun sekarang saya menganggapnya sebagai
keputusan terbaik yang pernah saya ambil.


Begitu DO, saya langsung berhenti mengambil
kelas wajib yang tidak saya minati dan mulai
mengikuti perkuliahan yang saya sukai.


Masa-masa itu tidak selalu menyenangkan.
Saya tidak punya kamar kos sehingga
menumpang tidur di lantai kamar teman-teman
saya. Saya mengembalikan botol Coca-Cola
agar dapat pengembalian 5 sen untuk membeli
makanan. Saya berjalan 7 mil melintasi kota
setiap Minggu malam untuk mendapat makanan
enak di biara Hare Krishna. Saya menikmatinya.
Dan banyak yang saya temui saat itu karena
mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi, ternyata
kemudian sangat berharga.

Saya beri Anda satu contoh:


Reed College mungkin waktu itu adalah yang
terbaik di AS dalam hal kaligrafi. Di seluruh penjuru
kampus, setiap poster, label, dan petunjuk ditulis
tangan dengan sangat indahnya. Karena sudah DO,
saya tidak harus mengikuti perkuliahan normal.
Saya memutuskan mengikuti kelas kaligrafi guna
mempelajarinya. Saya belajar jenis-jenis huruf serif
dan san serif, membuat variasi spasi antar kombinasi
kata dan kiat membuat tipografi yang hebat. Semua
itu merupakan kombinasi cita rasa keindahan, sejarah
dan seni yang tidak dapat ditangkap melalui sains.
Sangat menakjubkan.


Saat itu sama sekali tidak terlihat manfaat kaligrafi
bagi kehidupan saya. Namun sepuluh tahun
kemudian, ketika kami mendisain komputer
Macintosh yang pertama, ilmu itu sangat bermanfaat.
Mac adalah komputer pertama yang bertipografi cantik.
Seandainya saya tidak DO dan mengambil kelas
kaligrafi, Mac tidak akan memiliki sedemikian banyak
huruf yang beragam bentuk dan proporsinya. Dan
karena Windows menjiplak Mac, maka tidak ada PC
yang seperti itu. Andaikata saya tidak DO, saya tidak
berkesempatan mengambil kelas kaligrafi, dan PC
tidak memiliki tipografi yang indah. Tentu saja, tidak
mungkin merangkai cerita seperti itu sewaktu saya
masih kuliah. Namun, sepuluh tahun kemudian segala
sesuatunya menjadi gamblang.


Sekali lagi, Anda tidak akan dapat merangkai titik
dengan melihat ke depan; Anda hanya bisa
melakukannya dengan merenung ke belakang.


Jadi,
Anda harus percaya bahwa titik-titik Anda
bagaimana pun akan terangkai di masa mendatang.
Anda harus percaya dengan intuisi, takdir, jalan hidup,
karma Anda, atau apapun istilah lainnya. Pendekatan
ini efektif dan membuat banyak perbedaan dalam
kehidupan saya.


Cerita Kedua Saya: Cinta dan Kehilangan.

Saya beruntung karena tahu apa yang saya
sukai sejak masih muda. Woz dan saya mengawali
Apple di garasi orang tua saya ketika saya berumur
20 tahun. Kami bekerja keras dan dalam 10 tahun
Apple berkembang dari hanya kami berdua menjadi
perusahaan 2 milyar dolar dengan 4000 karyawan.
Kami baru meluncurkan produk terbaik kami


–Macintosh– satu tahun sebelumnya, dan saya baru
menginjak usia 30. Dan saya dipecat.


Bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan
yang Anda dirikan?


Yah,
itulah yang terjadi. Seiring pertumbuhan Apple,
kami merekrut orang yang saya pikir sangat
berkompeten untuk menjalankan perusahaan
bersama saya. Dalam satu tahun pertama,
semua berjalan lancar. Namun, kemudian muncul
perbedaan dalam visi kami mengenai masa
depan dan kami sulit disatukan. Komisaris ternyata
berpihak padanya. Demikianlah, di usia 30 saya
tertendang. Beritanya ada di mana-mana. Apa
yang menjadi fokus sepanjang masa dewasa saya,
tiba-tiba sirna. Sungguh menyakitkan.


Dalam beberapa bulan kemudian, saya tidak tahu
apa yang harus saya lakukan. Saya merasa telah
mengecewakan banyak wirausahawan generasi
sebelumnya.


–saya gagal mengambil kesempatan. Saya bertemu
dengan David Packard dan Bob Noyce dan meminta
maaf atas keterpurukan saya. Saya menjadi tokoh
publik yang gagal, dan bahkan berpikir untuk lari dari
Silicon Valley. Namun, sedikit demi sedikit semangat
timbul kembali– saya masih menyukai pekerjaan saya.
Apa yang terjadi di Apple sedikit pun tidak mengubah
saya. Saya telah ditolak, namun saya tetap cinta.


Maka, saya putuskan untuk mulai lagi dari awal.

Waktu itu saya tidak melihatnya, namun belakangan
baru saya sadari bahwa dipecat dari Apple adalah
kejadian terbaik yang menimpa saya.


Beban berat sebagai orang sukses tergantikan oleh
keleluasaan sebagai pemula, segala sesuatunya
lebih tidak jelas. Hal itu mengantarkan saya pada
periode paling kreatif dalam hidup saya.


Dalam lima tahun berikutnya, saya mendirikan
perusahaan bernama NeXT, lalu Pixar, dan jatuh
cinta dengan wanita istimewa yang kemudian
menjadi istri saya. Pixar bertumbuh menjadi
perusahaan yang menciptakan film animasi
komputer pertama, Toy Story, dan sekarang
merupakan studio animasi paling sukses di dunia.
Melalui rangkaian peristiwa yang menakjubkan,
Apple membeli NeXT, dan saya kembali lagi ke
Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di
NeXT menjadi jantung bagi kebangkitan kembali
Apple. Dan, Laurene dan saya memiliki keluarga
yang luar biasa.


Saya yakin takdir di atas tidak terjadi bila saya
tidak dipecat dari Apple. Obatnya memang pahit,
namun sebagai pasien saya memerlukannya.


Kadangkala kehidupan menimpakan batu ke
kepala Anda. Jangan kehilangan kepercayaan.
Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat
saya terus berusaha adalah karena saya menyukai
apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan
apa yang Anda sukai. Itu berlaku baik untuk pekerjaan
maupun pasangan hidup Anda. Pekerjaan Anda akan
menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan
kepuasan sejati hanya dapat diraih dengan
mengerjakan sesuatu yang hebat. Dan Anda hanya
bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai.
Bila Anda belum menemukannya, teruslah mencari.


Jangan menyerah. Hati Anda akan mengatakan
bila Anda telah menemukannya. Sebagaimana
halnya dengan hubungan hebat lainnya, semakin
lama- semakin mesra Anda dengannya. Jadi,
teruslah mencari sampai ketemu. Jangan berhenti.


Cerita Ketiga Saya: Kematian

Ketika saya berumur 17, saya membaca
ungkapan yang kurang lebih


berbunyi: "Bila kamu menjalani hidup seolah-olah
hari itu adalah hari terakhirmu, maka suatu hari
kamu akan benar." Ungkapan itu membekas dalam
diri saya, dan semenjak saat itu, selama 33 tahun
terakhir, saya selalu melihat ke cermin setiap pagi
dan bertanya kepada diri
sendiri:

"Bila ini adalah hari terakhir saya, apakah saya
tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?
" Bila jawabannya selalu "tidak"


dalam beberapa hari berturut-turut,
saya tahu saya harus berubah.


Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah
kiat penting yang saya temukan untuk membantu
membuat keputusan besar. Karena hampir segala
sesuatu


–semua harapan eksternal, kebanggaan, takut,
malu atau gagal–tidak lagi bermanfaat saat
menghadapi kematian. Hanya yang hakiki yang
tetap ada. Mengingat kematian adalah cara
terbaik yang saya tahu untuk menghindari jebakan
berpikir bahwa Anda akan kehilangan sesuatu.
Anda tidak memiliki apa-apa. Sama sekali tidak
ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda.


Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosis
mengidap kanker. Saya menjalani scan pukul
7:30 pagi dan hasilnya jelas menunjukkan saya
memiliki tumor pankreas. Saya bahkan tidak tahu
apa itu pankreas.


Para dokter mengatakan kepada saya bahwa
hampir pasti jenisnya adalah yang tidak dapat
diobati. Harapan hidup saya tidak lebih dari
3-6 bulan.


Dokter menyarankan saya pulang ke rumah dan
membereskan segala sesuatunya, yang merupakan
sinyal dokter agar saya bersiap mati.


Artinya, Anda harus menyampaikan kepada anak
Anda dalam beberapa menit segala hal yang Anda
rencanakan dalam sepuluh tahun mendatang.


Artinya, memastikan bahwa segalanya diatur agar
mudah bagi keluarga Anda. Artinya, Anda harus
mengucapkan selamat tinggal.


Sepanjang hari itu saya menjalani hidup berdasarkan
diagnosis tersebut. Malam harinya, mereka
memasukkan endoskopi ke tenggorokan, lalu ke
perut dan lambung, memasukkan jarum ke pankreas
saya dan mengambil beberapa sel tumor. Saya
dibius, namun istri saya, yang ada di sana ,
mengatakan bahwa ketika melihat selnya di bawah
mikroskop, para dokter menangis mengetahui
bahwa jenisnya adalah kanker pankreas yang
sangat jarang, namun bisa diatasi dengan operasi.
Saya dioperasi dan sehat sampai sekarang.


Itu adalah rekor terdekat saya dengan kematian
dan berharap terus begitu hingga beberapa dekade
lagi. Setelah melalui pengalaman tersebut, sekarang
saya bisa katakan dengan yakin kepada Anda
bahwa menurut konsep pikiran, kematian adalah
hal yang berguna:


Tidak ada orang yang ingin mati. Bahkan orang
yang ingin masuk surga pun tidak ingin mati dulu
untuk mencapainya. Namun, kematian pasti
menghampiri kita. Tidak ada yang bisa mengelak.
Dan, memang harus demikian, karena kematian
adalah buah terbaik dari kehidupan.


Kematian membuat hidup berputar. Dengannya
maka yang tua menyingkir untuk digantikan yang
muda. Maaf bila terlalu dramatis menyampaikannya,
namun memang begitu.


Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan
dengan menjalani hidup orang lain. Jangan
terperangkap dengan dogma


–yaitu hidup bersandar pada hasil pemikiran
orang lain. Jangan biarkan omongan orang
menulikan Anda sehingga tidak mendengar
kata hati Anda. Dan yang terpenting, miliki
keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi
Anda, maka Anda pun akan sampai pada apa
yang Anda inginkan. Semua hal lainnya hanya
nomor dua.


Ketika saya masih muda, ada satu penerbitan
hebat yang bernama "The Whole Earth Catalog",
yang menjadi salah satu buku pintar generasi saya.
Buku itu diciptakan oleh seorang bernama
Stewart Brand yang tinggal tidak jauh dari sini di
Menlo Park, dan dia membuatnya sedemikian
menarik dengan sentuhan puitisnya. Waktu itu
akhir 1960- an, sebelum era komputer dan desktop
publishing, jadi semuanya dibuat dengan mesin tik,
gunting, dan kamera polaroid. Mungkin seperti
Google dalam bentuk kertas, 35 tahun sebelum
kelahiran Google: isinya padat dengan tips-tips
ideal dan ungkapan-ungkapan hebat.


Stewart dan timnya sempat menerbitkan beberapa
edisi "The Whole Earth Catalog", dan ketika
mencapai titik ajalnya, mereka membuat edisi
terakhir. Saat itu pertengahan 1970-an dan saya
masih seusia Anda. Di sampul belakang edisi
terakhir itu ada satu foto jalan pedesaan di pagi
hari, jenis yang mungkin Anda lalui jika suka
bertualang. Di bawahnya ada kata-kata:
"Stay Hungry. Stay Foolish."
(Tetaplah Lapar.
Selalu Merasa Bodoh).

Itulah pesan perpisahan yang dibubuhi tanda
tangan mereka. Stay Hungry. Stay Foolish.
Saya selalu mengharapkan diri saya begitu.


Thanks to 'jpmrblood'

No comments: