Saturday, May 24, 2008

Kisah Shay dan pilihan hidupnya

Pada sebuah jamuan makan malam pengadaan dana
untuk sekolah anak-anak cacat, ayah dari salah satu
anak yang bersekolah disana menghantarkan satu pidato
yang tidak mungkin dilupakan oleh mereka yang menghadiri
acara itu. Setelah mengucapkan salam pembukaan,
ayah tersebut mengangkat satu topik:

'Ketika tidak mengalami gangguan dari sebab-sebab
eksternal, segala proses yang terjadi dalam alam ini berjalan
secara sempurna/alami. Namun tidak demikian halnya dengan
anakku, Shay. Dia tidak dapat mempelajari hal-hal sebagai
mana layaknya anak-anak yang lain. Nah, bagaimanakah
proses alami ini berlangsung dalam diri anakku? '

Para peserta terdiam menghadapi pertanyaan itu.

Ayah tersebut melanjutkan: "Saya percaya bahwa,
untuk seorang anak seperti Shay, yang mana dia
mengalami gangguan mental dan fisik sedari lahir,
satu-satunya kesempatan untuk dia mengenali alam ini
berasal dari bagaimana orang-orang sekitarnya
memperlakukan dia"

Kemudian ayah tersebut menceritakan kisah berikut:
Shay dan aku sedang berjalan-jalan di sebuah taman
ketika beberapa orang anak sedang bermain baseball.
Shay bertanya padaku,"Apakah kau pikir mereka akan
membiarkanku ikut bermain?" Aku tahu bahwa kebanyakan
anak-anak itu tidak akan membiarkan orang-orang seperti
Shay ikut dalam tim mereka, namun aku juga tahu bahwa
bila saja Shay mendapat kesempatan untuk bermain dalam
tim itu, hal itu akan memberinya semacam perasaan dibutuhkan
dan kepercayaan untuk diterima oleh orang-orang lain, di luar
kondisi fisiknya yang cacat.

Aku mendekati salah satu anak laki-laki itu dan bertanya
apakah Shay dapat ikut dalam tim mereka, dengan tidak
berharap banyak. Anak itu melihat sekelilingnya dan berkata,
"kami telah kalah 6 putaran dan sekaran sudah babak kedelapan.
Aku rasa dia dapat ikut dalam tim kami dan kami akan mencoba
untuk memasukkan dia bertanding pada babak kesembilan
nanti'

Shay berjuang untuk mendekat ke dalam tim itu dan mengenakan
seragam tim dengan senyum lebar, dan aku menahan air mata
di mataku dan kehangatan dalam hatiku. Anak-anak tim tersebut
melihat kebahagiaan seorang ayah yang gembira karena
anaknya diterima bermain dalam satu tim.

Pada akhir putaran kedelapan, tim Shay mencetak beberapa
skor, namun masih ketinggalan angka. Pada putaran kesembilan,
Shay mengenakan sarungnya dan bermain di sayap kanan.
Walaupun tidak ada bola yang mengarah padanya, dia sangat
antusias hanya karena turut serta dalam permainan tersebut dan
berada dalam lapangan itu. Seringai lebar terpampang di wajahnya
ketika aku melambai padanya dari kerumunan. Pada akhir putaran
kesembilan, tim Shay mencetak beberapa skor lagi. Dan dengan
dua angka out, kemungkinan untuk mencetak kemenangan ada
di depan mata dan Shay yang terjadwal untuk menjadi pemukul
berikutnya.

Pada kondisi yg spt ini, apakah mungkin mereka akan
mengabaikan kesempatan untuk menang dengan membiarkan
Shay menjadi kunci kemenangan mereka? Yang mengejutkan
adalah mereka memberikan kesempatan itu pada Shay.
Semua yang hadir tahu bahwa satu pukulan adalah mustahil
karena Shay bahkan tidak tahu bagaimana caranya memegang
pemukul dengan benar, apalagi berhubungan dengan bola itu.

Yang terjadi adalah, ketika Shay melangkah maju kedalam arena,
sang pitcher, sadar bagaimana tim Shay telah mengesampingkan
kemungkinan menang mereka untuk satu momen penting dalam
hidup Shay, mengambil beberapa langkah maju ke depan dan
melempar bola itu perlahan sehingga Shay paling tidak bisa
mengadakan kontak dengan bola itu. Lemparan pertama meleset;
Shay mengayun tongkatnya dengan ceroboh dan luput. Pitcher tsb
kembali mengambil beberapa langkah ke depan, dan melempar
bola itu perlahan ke arah Shay. Ketika bola itu datang, Shay
mengayun ke arah bola itu dan mengenai bola itu dengan satu
pukulan perlahan kembali ke arah pitcher. Permainan seharusnya
berakhir saat itu juga, pitcher tsb bisa saja dengan mudah
melempar bola ke baseman pertama, Shay akan keluar, dan
permainan akan berakhir.

Sebaliknya, pitcher tsb melempar bola melewati baseman
pertama, jauh dari jangkauan semua anggota tim. Penonton
bersorak dan kedua tim mulai berteriak, "Shay, lari ke base satu!
Lari ke base satu!". Tidak pernah dalam hidup Shay sebelumnya
ia berlari sejauh itu, tapi dia berhasil melaju ke base pertama.
Shay tertegun dan membelalakkan matanya.

Semua orang berteriak, "Lari ke base dua, lari ke base dua!"

Sambil menahan napasnya, Shay berlari dengan canggung
ke base dua. Ia terlihat bersinar-sinar dan bersemangat dalam
perjuangannya menuju base dua. Pada saat Shay menuju base
dua, seorang pemain sayap kanan memegang bola itu di tangannya.
Pemain itu merupakan anak terkecil dalam timnya, dan dia saat itu
mempunyai kesempatan menjadi pahlawan kemenangan
tim untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia dapat dengan
mudah melempar bola itu ke penjaga base dua. Namun pemain
ini memahami maksud baik dari sang pitcher, sehingga diapun
dengan tujuan yang sama melempar bola itu tinggi ke atas jauh
melewati jangkauan penjaga base ketiga. Shay berlari menuju
base ketiga.

Semua yang hadir berteriak,
"Shay, Shay, Shay, teruskan perjuanganmu Shay"

Shay mencapai base ketiga saat seorang pemain lawan
berlari ke arahnya dan memberitahu Shay arah selanjutnya
yang mesti ditempuh. Pada saat Shay menyelesaikan base
ketiga, para pemain dari kedua tim dan para penonton yang
berdiri mulai berteriak, "Shay, larilah ke home, lari ke home!".
Shay berlari ke home, menginjak balok yg ada, dan dielu-elukan
bak seorang hero yang memenangkan grand slam. Dia telah
memenangkan game untuk timnya.

Hari itu, kenang ayah tersebut dengan air mata yang
berlinangan di wajahnya, para pemain dari kedua tim
telah menghadirkan sebuah cinta yang tulus dan nilai
kemanusiaan ke dalam dunia.

Shay tidak dapat bertahan hingga musim panas berikut dan
meninggal musim dingin itu. Sepanjang sisa hidupnya dia
tidak pernah melupakan momen di mana dia telah menjadi
seorang hero, bagaimana dia telah membuat ayahnya bahagia,
dan bagaimana dia telah membuat ibunya menitikkan air
mata bahagia akan sang pahlawan kecilnya.

Seorang bijak pernah berkata, sebuah masyarakat akan
dinilai dari cara mereka memperlakukan seorang yang
paling tidak beruntung di antara mereka.

Catatan:
Kita sering mengirim ribuan jokes lewat email tanpa pikir
panjang, namun bila kita harus mengirimkan mail tentang
pilihan dalam hidup, kita seringkali ragu. Kejadian-kejadian
vulgar, kasar dan mengerikan acap terjadi dalam hidup ini,
namun pembicaraan tentangnya seolah tertelan waktu,
baik itu di lingkungan pendidikan atau kerja. Jika Anda
berpikir untuk forward email ini, kemungkinannya Anda
akan memilih daftar orang-orang dari email address Anda
yang Anda pikir layak untuk menerima email Anda.
Ingatlah, bahwa orang yang mengirimi Anda email ini
berpikir bahwa kita semua dapat membuat perbedaan.

Kita semua mempunyai banyak pilihan dalam hidup setiap
harinya untuk dapat memahami "kejadian alami dalam hidup".
Begitu banyak hubungan antar 2 manusia yang kelihatan remeh,
sebenarnya telah meninggalkan 2 pertanyaan bagi kita:
Apakah kita telah meninggalkan cinta dan kemanusiaan
atau apakah kita telah melewatkan kesempatan untuk berbagi
kasih dengan mereka yang kurang beruntung, yang
menyebabkan hidup ini menjadi dingin?


"We can do no great things - only small things with great love." Mother
Teresa (1910-1997)

No comments: