Saturday, May 24, 2008

'Telur Emas' dari Diri dan Keluarga

Sebuah dongeng rakyat yang sampai sekarang masih
cukup terkenal, dan sampai sekarang tetap saya ingat
karena telah memberikan inspirasi yang mendalam
bagi saya. Dikisahkan seorang peternak angsa, memiliki
begitu banyak angsa di peternakannya. Sang peternak
adalah seorang yang rajin memelihara angsa-angsanya,
hanya saja karena pengelolaan peternakannya yang
sederhana dan tidak pernah diupayakan untuk ditingkatkan,
maka hasil telur dari angsa-angsa ini selalu begitu-begitu
saja tidak pernah memberikan peningkatan penghasilan
bagi sang peternak.

Suatu pagi, seperti biasa sang peternak bangun dari tidurnya
dan bergegas menuju kandang-kandang angsanya untuk
segera mengumpulkan telur-telur yang dihasilkan si angsa
hari itu. Betapa terkejutnya sang peternak ketika mendapati
sebuah telur berwarna kuning keemasan dari seekor angsa tua
di kandang paling ujung.

"Siapa yang pagi-pagi telah berusaha mempedayai saya.",
gumamnya dalam hati sambil memungut telur keemasan tadi.
"Mungkinkah ini sebuah telur dari emas", pikirnya kemudian.

Lama dia berpikir me-logika terhadap apa yang terjadi
dengannya pagi itu, sambil terus memandangi telur keemasan
digenggamannya. Merasakan beratnya, mengetuk-ngetukkannya
pada batu, menggores-goreskannya, sampai pada suatu keyakinan
dalam hati pak peternak bahwa dia harus bergegas memastikan
benda apa itu.

Bergegas dia menuju ke tempat ahli logam tak jauh dari rumahnya,
yang kemudian dia meminta sang ahli logam untuk menganalisa
benda apakah yang dia temukan pagi itu. Sang ahli logam
mengambil lup-nya, yang kemudian mencermati telur keemasan
yang diterimanya.

Beberapa saat kemudian dia memandangi si peternak,
sambil menyerahkan telur tersebut dan berkata, "Ini adalah
emas murni 24 karat berbentuk bulat telur dengan berat
hampir satu kilogram..!".

Setengah tak percaya si peternak kemudian meminta
sang ahli logam untuk menukar telur emas tersebut dengan
uang sesuai dengan taksiran harganya.
Segepok uang yang diterimanya kemudian segera
dibelanjakan segala barang yang dia impikan selama
ini untuk dimiliki dari pakaian-pakaian yang bagus
dan mahal, perabot-perabot mahal, dan sebagainya.

Esok harinya, karena masih banyak sisa uang untuk
hidupnya hari itu, dengan langkah malas dia menuju ke
kandang angsanya untuk memunguti telur-telur hasil pada hari itu.
Dia sama sekali tidak menyangka bahwa kejadian
telur emas kemarin hari akan berulang lagi pada hari itu.
Dan benar dia kembali menemukan telur emas pada angsa
yang sama. Bergegas dia berlari menuju kotauntuk kembali
menjual telur tersebut.

Esok paginya setelah bangun pagi, dengan berharap-harap
cemas dia kembali menuju angsa tua petelur emas. Dan benar!
Kembali sang angsa mempersembahkan satu telur emas
kepada sang peternak.

Hal yang sama terjadi esok paginya, esok paginya,
dan seterusnya, sehingga membuat si peternak menjadi
rajin bangun pagi-pagi sekali untuk sekedar
segera mendapat telur emas dari angsa tua itu.

Dalam waktu singkat, kehidupan si peternak pun berubah.
Si angsa tua juga sudah diberi tempat khusus di sebelah
kamar tidur si peternak agar telur emas hasil si angsa tua
tiap pagi tidak dicuri orang dan dengan mudah dapat segera
diambil oleh sang peternak untuk dijual. Rumahnya kini telah
berubah menjadi begitu mewah. Lama kelamaan timbullah
sifat tamak dari si peternak.

"Mengapa saya harus menunggu satu butir telur emas setiap
harinya dari si angsa tua", pikirnya.., ..betapa bodohnya saya.".
"Isi perut angsa tua itu pastilah penuh dengan emas,.kenapa
tidak sekarang saja saya ambil semuanya,
sehingga saya tidak perlu susah-susah menunggu tiap pagi,
serta dalam sekali
waktu saya sudah bisa dapatkan semua.", begitulah pikir
sang peternak.

Diambilnya parang besar miliknya, dan dalam sekejap
dibelahlah dada si angsa tua. Tapi apa yang terjadi? Tak ada
secuil pun telur emas di dalam perut si angsa tua. Dan yang
lebih buruk, si angsa tua saat itu juga mati digenggaman
sang peternak. Telur emas tiap pagi pun tinggal kenangan.

Cerita ini terkenal dengan sebutan Aesop's fable dengan judul
`The goose and the golden eggs'.
Mengapa cerita ini begitu menarik bagi saya?
Seseorang yang telah menginjak dewasa dan mulai harus
menghidupi dirinya tentunya mulai sadar bahwa dia harus
memiliki `sesuatu' yang bisa dijadikan semacam modal agar
dia bisa selalu terus menerus menghasilkan *sesuatu* yang
bisa menghidupi dirinya. Apalagi kalau orang tersebut sudah
memutuskan untuk membangun sebuah rumah tangga.

`Sesuatu' (dengan tanda kutip) yang saya maksud bisa berupa
keahlian, kepandaian, pengetahuan, ketrampilan, ketekunan,
keberanian, dsb. Sedang sesuatu (dengan huruf tebal) di atas
adalah bisa berupa uang, penghargaan, pengakuan, kesempatan,
dsb.

Sesuatu (dengan huruf tebal) tadi adalah sebuah `telur emas'
bagi kita. Ketika kita mulai menekuni sebuah profesi, ketika
kita mulai merintis sebuah usaha, ketika kita mulai meniti karir,
hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, sedikit demi
sedikit akan muncul `telur emas-telur emas' bagi kita.

Lalu dimanakah letak angsanya? Tak lain adalah `Sesuatu'
(dengan tanda kutip) yang saya sebutkan di atas. `Sesuatu'
yang semua itu bermuara kepada diri kita, baik badan kita
secara fisik, pemikiran kita, serta jiwa, emosi dan rohani kita.
Dan bila dikembangkan, keluarga adalah juga merupakan
bagian dari `angsa' kita, baik itu manusianya, suasananya,
semangatnya, kebersamaannya, rasa cita kasihnya, keteduhannya
dan semua hal yang bisa memastikan bahwa kita bisa akan
selalu menghasilkan `telur emas', hari demi hari, sedikit demi sedikit.

Kisah fabel yang saya ceritakan diatas sepertinya bisa terlihat
sebagai kisah yang terlalu ekstrim. Tapi bila kita mau berkaca
pada kehidupan di sekitar kita, kita mungkin akan sadar bahwa
perumpamaan sang peternak membelah dada angsa untuk
segera memperoleh semua telur emas sekaligus dalam sekejap
ternyata banyak terjadi di sekitar kita.

Kita lihat di sekitar kita bagaimana sesorang yang ingin mengejar
karir sampai ke puncak dengan segera, justru mengabaikan kesehatan
dirinya sendiri, pola makannya, jam istirahatnya. Tak lain dia pelan-pelan
membelah dada angsanya sendiri.

Masih banyak diantara kita, dalam menjalankan profesinya,
atau dalam melakukan usahanya, ingin mendapatkan keuntungan
yang berlipat dalam sekejap. Sehingga sampai lupa waktu
mengabaikan saat-saat istri dan anak-anaknya membutuhkan
sebuah kebersamaan dengannya. Tanpa dia sadari, dalam mencoba
dia mendapatkan telur emas, justru dia berusaha `membunuh' si
angsa.

Bisa jadi kita sebagai manusia yang memiliki keahlian, ketrampilan,
pengetahuan, semangat, keberanian adalah manusia-manusia yang
akan selalu menghasilkan telur emas-telur emas setiap harinya.
Dan hari demi hari kita selalu bangga akan telur emas yang kita
hasilkan. Tapi yakinkah kita akan selalu ada telur emas ketika kita
justru mulai tidak begitu menghiraukan angsa-angsa kita. Ketika kita
lupa untuk memperhatikan kesehatan fisik diri kita, ketika kita mulai
mengabaikan kesehatan rohani kita, ketika kita melalaikan sumber
daya manusia di keluarga kita.

Itulah yang saya selalu coba untuk mengingatkan diri saya, bahwa
untuk menjamin selalu adanya telur emas, begitu penting usaha untuk
memberdayakan diri dan keluarga kita.

Simber: 'Telur Emas' dari Diri dan Keluarga oleh Pitoyo Amrih

No comments: