Friday, May 23, 2008

Daily Letter for the Inspirational People

Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya
yang alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul
ketika saya bersender di bahunya yang bidang.

Tiga tahun dalam masa kenalan dan bercumbu,
sampai sekarang, dua tahun dalam masa pernikahan,
saya harus mengakui, bahwa saya mulai merasa lelah
dengan semua ini, alasan-2 saya mencintainya pada waktu
dulu, telah berubah menjadi sesuatu yang melelahkan.

Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-2 sensitif
danberperasaan halus, saya merindukan saat-saat romantis
seperti seorang anak kecil yang menginginkan permen.
Dan suami saya bertolak belakang dari saya, rasa sensitifnya
kurang, dan ketidakmampuannya untuk menciptakan suasana
yang romantis di dalam pernikahan kami telah mematahkan
harapan saya tentang cinta.

Suatu hari, akhirnya saya memutuskan untuk mengatakan
keputusan saya kepadanya, yaitu saya menginginkan perceraian.

"Mengapa?", dia bertanya dengan terkejut.
"Saya lelah, terlalu banyak alasan yang ada di dunia ini",
jawabsaya.
Dia terdiam dan termenung sepanjang malam dengan
rokok yang tidak putus-putusnya. Kekecewaan saya semakin
bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat
mengekspresikan perasaannya, apalagi yang saya
bisa harapkan darinya? Dan akhirnya dia bertanya,
" Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?"

Seseorang berkata, mengubah kepribadian orang lain
sangatlah sulit dan itu benar, saya pikir,
saya mulai kehilangan kepercayaan bahwa
saya bisa mengubah pribadinya.

Saya menatap dalam-dalam matanya dan menjawab
dengan pelan, "Saya punya pertanyaan untukmu,
jika kamu dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya,
saya akan merubah pikiran saya. Seandainya katakanlah
saya menyukai setangkai bunga yang ada di tebing gunung
dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu,
kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?"
Dia berkata, " Saya akan memberikan jawabannya besok."

Hati saya langsung gundah mendengar responnya.

Keesokan paginya, dia tidak ada dirumah,
dan saya melihat selembar kertas dengan coret-2an
tangannya di bawah sebuah gelas yang berisi
susu hangat yang bertuliskan....

Istriku Sayang,
'Saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya
untuk menjelaskan alasannya."

Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya.
Saya melanjutkan untuk membacanya kembali.

"Kamu hanya bisa mengetik di komputer dan selalu
mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis
di depan monitor, saya harus memberikan jari-2 saya
supaya saya bisa menolong untuk memperbaiki programnya."

"Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu
keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya
bisa masuk mendobrak rumah, membukakan pintu untukmu."

"Kamu suka jalan-2 ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-2
baru yang kamu kunjungi, saya harus memberikan mata saya
untuk mengarahkanmu."

"Kamu selalu pegal-2 pada waktu "teman baikmu" datang
setiap bulannya, saya harus memberikan tangan saya untuk
memijat kakimu yang pegal."

"Kamu senang diam didalam rumah, dan saya kuatir kamu
akan jadi "aneh".
"Saya harus memberikan mulut saya untuk menceritakan lelucon-2
dan cerita-2 untuk menyembuhkan kebosananmu."

"Kamu selalu menatap komputermu dan itu tidak baik
untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya
sehingga ketika nanti kita tua, saya masih dapat menolong
mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu."

"Saya akan memegang tanganmu, menelusuri pantai,
menikmati sinar matahari dan pasir yang indah.
Menceritakan warna-2 bunga kepadamu
yang bersinar seperti wajah cantikmu?"

"Juga sayangku, saya begitu yakin ada banyak orang yang
mencintaimu lebih dari saya mencintaimu.
"Saya tidak akan mengambil bunga itu lalu mati."

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya
menjadi kabur dan saya membaca kembali...

"Dan sekarang sayangku, kamu telah selesai membaca
jawaban saya, jika kamu puas dengan semua jawaban ini,
tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang
berdiri di sana dengan susu segar dan
roti kesukaanmu?"


Saya segera membuka pintu dan melihat wajahnya yang
penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti.

Oh, saya percaya, tidak ada orang yang pernah mencintai saya
seperti yang dia lakukan dan mengetahui saya harus melupakan
"bunga" itu sendiri?

Itulah hidup, atau boleh dikatakan, cinta, ketika seseorang
dikelilingi dengan cinta, kemudian perasaan itu mulai
berangsur- angsur hilang dan ketika kita mengabaikan cinta sejati
yang berada diantara kedamaian dan kesepian?

Cinta menunjukkan berbagai macam bentuknya,
bahkan dalam bentuk yang sangat kecil dan dangkal,
atau bahkan tidak punya bentuk, bisa juga dalam bentuk yang
tidak ingin kita ketahui?Bunga, saat-saat
yang romantis hanyalah bentuk awal dari hubungan.

Di atas semua ini, pilar cinta sejati berdiri
dan itulah kehidupan kita.

No comments: