Saturday, July 5, 2008

The Healing Stories, karya GW Burns.

Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan
rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa
putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur.
Kondisi finansial keluarganya morat-marit.

Sementara para tetangganya sibuk memenuhi
rumah dengan barang-barang mewah, ia masih
bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan
pokok keluarganya sandang dan pangan.

Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian,
istrinya sering marah-marah karena tak dapat
membeli barang-barang rumah tangga yang layak.

Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini,
dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun
akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan
pekerjaan.

Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi,
tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa
penasaran ia membungkuk dan mengambilnya.

"Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-
penyok," gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia
membawa koin itu ke sebuah bank.

"Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor
uang kuno," kata teller itu memberi saran. Lelaki
itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya
ke kolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai
koin itu senilai 30 dollar.

Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan
apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini.

Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya
beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa mem-
buatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya
pernah berkata mereka tak punya tempat untuk
menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah mem-
beli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu
tersebut dan beranjak pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang
pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih
melihat kayu yang dipanggul lelaki itu.

Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal.
Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia
menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu.

Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin
itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel
yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana
ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu
tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa
lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru.
Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah
barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki
itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah.

Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200
dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita
menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki
itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak
ke pengrajin dan beranjak pulang.

Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin
memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh
sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250
dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari
semak-semak, mengacungkan belati, merampas
uang itu, lalu kabur.

Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati
suaminya seraya berkata, "Apa yang terjadi? Engkau
baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?"

Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, "Oh,
bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang
kutemukan tadi pagi".

Bila Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun,
kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang
berlebihan?

No comments: