Wednesday, June 18, 2008

Penantian Sang Ayah

Tersebutlah seorang ayah yang mempunyai
anak. Ayah ini sangat menyayangi anaknya.

Di suatu weekend, si ayah mengajak anaknya
untuk pergi ke pasar malam. Mereka pulang
sangat larut. Di tengah jalan, si anak melepas
seat beltnya karena merasa tidak nyaman.
Si ayah sudah menyuruhnya memasang
kembali, namun

si anak tidak menurut.

Benar saja, di sebuah tikungan, sebuah mobil
lain melaju kencang tak terkendali. Ternyata
pengemudinya mabuk. Tabrakan tak terhindarkan.
Si ayah selamat, namun si anak terpental keluar.

Kepalanya membentur aspal, dan menderita
gegar otak yang cukup parah. Setelah berapa
lama mendekam di rumah sakit, akhirnya si anak
siuman. Namun ia tidak dapat melihat dan mendengar
apapun. Buta tuli. Si ayah dengan sedih, hanya bisa
memeluk erat anaknya, karena ia tahu hanya
sentuhan dan pelukan yang bisa anaknya rasakan.

Begitulah kehidupan sang ayah dan anaknya
yang buta-tuli ini. Dia senantiasa menjaga anaknya.

Suatu saat si anak kepanasan dan minta es, si ayah
diam saja. Sebab ia melihat anaknya sedang
demam, dan es akan memperparah demam anaknya.

Di suatu musim dingin, si anak memaksa berjalan
ke tempat yang hangat, namun si ayah menarik keras
sampai melukai tangan si anak, karena ternyata
tempat 'hangat' tersebut tidak jauh dari sebuah
gedung yang terbakar hebat.

Suatu kali anaknya kesal karena ayahnya mem-
buang liontin kesukaannya. Si anak sangat marah,
namun sang ayah hanya bisa menghela nafas.

Komunikasinya terbatas. Ingin rasanya ia menjelaskan
bahwa liontin yang tajam itu sudah berkarat., namun
apa daya si anak tidak dapat mendengar, hanya dapat
merasakan. Ia hanya bisa berharap anaknya sepe-
nuhnya percaya kalau papanya hanya melakukan
yang terbaik untuk anaknya.

Saat-saat paling bahagia si ayah adalah saat
dia mendengar anaknya mengutarakan perasaannya,
isi hatinya. Saat anaknya mendiamkan dia, dia merasa
tersiksa, namun ia senantiasa berada disamping
anaknya, setia menjaganya. Dia hanya bisa berdoa
dan berharap, kalau suatu saat Tuhan boleh memberi
mukjizat. Setiap hari jam 4 pagi, dia bangun untuk
mendoakan kesembuhan anaknya. Setiap hari.

Beberapa tahun berlalu. Di suatu pagi yang cerah,
sayup-sayup bunyi kicauan burung membangunkan
si anak. Ternyata pendengarannya pulih! Anak itu
berteriak kegirangan, sampai mengejutkan si ayah
yg tertidur di sampingnya. Kemudian disusul oleh
pengelihatannya. Ternyata Tuhan telah mengabulkan
doa sang ayah. Melihat rambut ayahnya yang telah
memutih dan tangan sang ayah yg telah mengeras
penuh luka, si anak memeluk erat sang ayah, sambil
berkata. "Ayah, terima kasih ya, selama ini engkau
telah setia menjagaku."

Sahabatku, terkadang seperti Anak itulah Tingkah
kita. Terkadang kita Buta dan Tuli, tidak mau sedikit
pun mendengar dan melihat sekeliling kita. Tapi
Tuhan sebagai AYAH YANG BAIK dan SETIA pada
Kita. Dia selalu dengan Sabar Menuntun dan
Menolong Kita.

1 comment:

Anonymous said...

papa miss u more than u do
papa cares bout u more than you can see
papa proud of u coz u're the picture of him
papa keep watching u
papa loves u always