Wednesday, June 18, 2008

Korea, Hiddink Way

Beberapa saat setelah Korsel memastikan lolos
ke babak kedua Piala Dunia 2002, Samsung

Electronics -- satu dari sekian raksasa bisnis
Korsel -- mengadakan penelitian terhadap kepe-
mimpinan dan manajemen Guus Hiddink. Kesim-
pulannya, Hiddink tidak sekadar mengajarkan
bermain sepak bola, tetapi merombak etika
Konfusian yang mengungkung pemain.

Dalam wawancara dengan Joon Ang Ilbo, satu
dari tiga koran berbahasaInggris di Korsel,


Hiddink mengatakan orang Korea memiliki semua

persyaratan fisik sebagai pemain sepak bola
profesional. Namun, katanya, mereka tidak
memiliki kemampuan berkreasi dan memiliki visi
bermain yang jelas.

"Di tingkat
Asia, Korsel adalah top-dog. Tapi di
level internasional, Korsel tidak memiliki apa-apa,"
kata Hiddink. "Saya harus mengubah semua itu.

Mengeluarkan Korsel dari lingkup Asia dan naik
kelas ke tingkat dunia."

Namun, Hiddink menemui kesulitan ketika harus
mengaplikasikan teori sepak bola Barat yang
dimilikinya. Ia mengetahui persoalan utamanya
terletak pada budaya dan etika Konfusianisme –
terutama soal aturan senioritas -- yang meng-
hambat komunikasi antar pemain.

"Ketika saya datang ke ruang makan pemain,
saya melihat ada tiga meja makan," kata Hiddink.

"Setiap meja diperuntukkan bagi kelompok pemain
menurut urutan senioritas. Uniknya, selama makan
tidak ada komunikasi antar satu dan lain kelompok.
" Saat itu juga Hiddink mengetahui persoalan sebe-
narnya sepak bola Korsel. Ia meminta pengurus

Federasi Sepak Bola Korea untuk mengubah meja
makan pemain. Hiddink tidak menginginkan ada
pengelompokan pemain sesuai usia dan lamanya
bermain di tim nasional, dan menginginkan
semuanya berbaur.

Sebagai gantinya, Hiddink menginginkan satu
meja makan panjang untuk semua pemain. Tidak
ada kursi senioritas, atau bagian-bagian tertentu
untuk mereka yang dianggap lebih berpengalaman.

Pemain junior dan senior saling berhadapan pada
saat makan pada jarak sangat dekat. Namun, itu
pun tidak menyelesaikan masalah. Sampai sekian
hari setelah ganti meja, tidak ada komunikasi antara
pemain junior dan senior. Pemain junior lebih suka
bercengkerama dengan sesamanya.Begitu pula
dengan pemain senior.

"Saya mencari cara lain," kata Hiddink. "Saya
panggil para pemain senior, dan saya minta mereka
memberikan laporan tertulis mengenai apa yang
mereka bicarakan dengan pemain junior. Hong
Myung-bo, misalnya,saya beri tugas mencatat
keinginan juniornya."

Hiddink berhasil. Sejak saat itu pemain senior
tidak lagi manusia setengah dewa yang sulit dikritik.

Mereka mendatangi pemain juniordan mengajak-
nya berkomunikasi, di dalam atau di luar tempat
latihan. Hiddink telah membangun komunikasi.
Inilah yang mengubah penampilan Korsel di
lapangan.

"Tidak ada lagi saling diam ketika terjadi kesalahan,
" kata Hiddink. "Pemain senior bukan lagi manusia
kebal kritik, tetapi masing-masing memiliki status
yang sama."
Korean Herald menulis Hiddink pula yang mem-
perkenalkan system persaingan di antara pemain.

Sistem mensyarakatkan pemain memenuhi target
masing-masing, khususnya dalam kondisi fisik.
Jika gagal resikonya adalah dicoret dari daftar
pemain.

Sistem kompetisi berlaku untuk semua. Hiddink
tidak peduli dengan reputasi Hong Myung-bo yang
dikagumi banyak pemain, atau Cha Do-ri yang
putra legendaris
Korea, Cha Bum-keun.
Sistem ini membawa korban banyak pemain senior.
Sejumlah nama terpaksa dicoret Hiddink dari daftar.

Reaksi publik Korsel sungguh luar bisa. Koran-koran
berbahasa
Korea mengkritik habis cara Hiddink
melatih. Ia dianggap memperkenalkan cara lama
Belanda dalam berlatih sepak bola.

Terlebih, sampai sekian bulan setelah kedatangan-
nya ia tidak melakukan pembaruan teknik dan
mengajarkan Ahn Jung-hwan dan kawan-kawannya
bagaimana memainkan strategi baru. Hiddink
dianggap terlalu mementingkan kekuatan fisik,
padahal ia tahu selama ini Korsel dikritik media
asing sebagai running soccer robots.

Hiddink tidak peduli dengan semua kritik itu. Ia
mengatakan, "Setelah semua masalah fisik ter-
selesaikan, pemain akan bisa menguasai semua
teknik bermain manapun." Ia melanjutkan, "Yang
terpenting bagi sebuah tim adalah bagaimana
membangun teamwork. Ini perlu komunikasi yang
lancar antar pemain. "

Hiddink Way, begitu orang Korea menyebutnya,
berjalan sesuai rencana. Namun, sampai beberapa
bulan sebelum piala dunia, Korsel hanya beberapa
kali tampil mengesankan di depan publiknya. Saat
menghadapi Prancis, misalnya, publik Korsel mulai
bisa melihat kemampuan pemain Korsel mencetak
gol ke gawang tim Eropa. Sesuatu yang tidak pernah
terjadi sebelumnya.

Tanpa diketahui banyak media
massa, Hiddink
saat itu telah memberikan sentuhan think and play
kepada pemain-pemainnya. Ia mengajarkan bagai-
mana mengambil keputusan di saat tertekan, dan
mengatasi tekanan lawan. Ia mengubah Korsel
menjadi sebuah tim yang bukan lagi berkarakter

Asia
, tapi fotokopi tim-tim Eropa.

Ia mengajarkan kepada semua pemain bagai-
mana memainkan perubahan karakter bermain di
lapangan, saat menyerang atau ketika diserang.
Inilah yang terlihat di semua pertandingan Korsel.

Sampai usai pertandingan Korsel-Portugal, tidak
ada lagi keraguan
akan Hiddink Way. Yang terjadi
adalah berjangkitnya Hiddink Syndrome di semua
lapisan masyarakat
Korea. Samsung bukan satu-
satunya perusahaan yang merasa perlu mengadopsi
pendekatan Hiddink, tapi sejumlah manajer perusa-
haan multinasional
Korea mulai mengubah pendeka-
tan Konfusianisme yang telah mengakar begitu kuat.


Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

No comments: