Monday, June 9, 2008

Dua Pilihan


Pada sebuah jamuan makan malam pengadaan
dana untuk sekolah anak-anak cacat, ayah dari salah
satu anak yang bersekolah disana menghantarkan satu
pidato yang tidak mungkin dilupakan oleh mereka yang
menghadiri acara itu.

Setelah mengucapkan salam pembukaan, ayah
tersebut mengangkat satu topik:
“Ketika tidak mengalami gangguan dari sebab-sebab
eksternal, segala proses yang terjadi dalam alam ini
berjalan secara sempurna/ alami. Namun tidak
demikian halnya dengan anakku, Shay. Dia tidak
dapat mempelajari hal-hal sebagaimana layaknya
anak-anak yang lain. Nah, bagaimanakah proses
alami ini berlangsung dalam diri anakku?“

Para peserta terdiam menghadapi pertanyaan itu.

Ayah tersebut melanjutkan, "Saya percaya bahwa,
untuk seorang anak seperti Shay, yang mana dia
mengalami gangguan mental dan fisik sedari lahir,
satu-satunya kesempatan untuk dia mengenali alam
ini berasal dari bagaimana orang-orang sekitarnya
memperlakukan dia"

Kemudian ayah tersebut menceritakan kisah berikut:
Shay dan aku sedang berjalan-jalan di sebuah taman
ketika beberapa orang anak sedang bermain baseball.

Shay bertanya padaku,"Apakah kau pikir mereka
akan membiarkanku ikut bermain?" Aku tahu bahwa
kebanyakan anak-anak itu tidak akan membiarkan
orang-orang seperti Shay ikut dalam tim mereka,
namun aku juga tahu bahwa bila saja Shay mendapat
kesempatan untuk bermain dalam tim itu, hal itu akan
memberinya semacam perasaan dibutuhkan dan
kepercayaan untuk diterima oleh orang-orang lain,
di luar kondisi fisiknya yang cacat.

Aku mendekati salah satu anak laki-laki itu dan
bertanya apakah Shay dapat ikut dalam tim mereka,
dengan tidak berharap banyak. Anak itu melihat
sekelilingnya dan berkata, "kami telah kalah 6
putaran dan sekaran sudah babak kedelapan. Aku
rasa dia dapat ikut dalam tim kami dan kami akan
mencoba untuk memasukkan dia bertanding pada
babak kesembilan nanti'

Shay berjuang untuk mendekat ke dalam tim itu
dan mengenakan seragam tim dengan senyum
lebar, dan aku menahan air mata di mataku dan
kehangatan dalam hatiku. Anak-anak tim tersebut
melihat kebahagiaan seorang ayah yang gembira
karena anaknya diterima bermain dalam satu tim.

Pada akhir putaran kedelapan, tim Shay mencetak
beberapa skor, namun masih ketinggalan angka.

Pada putaran kesembilan, Shay mengenakan
sarungnya dan bermain di sayap kanan. Walaupun
tidak ada bola yang mengarah padanya, dia sangat
antusias hanya karena turut serta dalam permainan
tersebut dan berada dalam lapangan itu. Seringai
lebar terpampang di wajahnya ketika aku melambai
padanya dari kerumunan.

Pada akhir putaran kesembilan, tim Shay mencetak
beberapa skor lagi. Dan dengan dua angka out,
kemungkinan untuk mencetak kemenangan ada di
depan mata dan Shay yang terjadwal untuk menjadi
pemukul berikutnya.

Pada kondisi yg spt ini, apakah mungkin mereka
akan mengabaikan kesempatan untuk menang
dengan membiarkan Shay menjadi kunci kemenangan
mereka?

Yang mengejutkan adalah mereka memberikan
kesempatan itu pada Shay.

Semua yang hadir tahu bahwa satu pukulan adalah
mustahil karena Shay bahkan tidak tahu bagaimana
caranya memegang pemukul dengan benar, apalagi
berhubungan dengan bola itu.

Yang terjadi adalah, ketika Shay melangkah maju ke
dalam arena, sang pitcher, sadar bagaimana tim Shay
telah mengesampingkan kemungkinan menang
mereka untuk satu momen penting dalam hidup Shay,
mengambil beberapa langkah maju ke depan dan
melempar bola itu perlahan sehingga Shay paling tidak
bisa mengadakan kontak dengan bola itu.

Lemparan pertama meleset; Shay mengayun tongkat-
nya dengan ceroboh dan luput.

Pitcher tsb kembali mengambil beberapa langkah ke
depan, dan melempar bola itu perlahan kearah Shay.

Ketika bola itu datang, Shay mengayun kearah bola itu
dan mengenai bola itu dengan satu pukulan perlahan
kembali kearah pitcher.

Permainan seharusnya berakhir saat itu juga, pitcher
tsb bisa saja dengan mudah melempar bola ke
baseman pertama, Shay akan keluar, dan permainan
akan berakhir.

Sebaliknya, pitcher tsb melempar bola melewati baseman
pertama, jauh dari jangkauan semua anggota tim.
Penonton bersorak dan kedua tim mulai
berteriak, "Shay, lari ke base satu! Lari ke base satu!".

Tidak pernah dalam hidup Shay sebelumnya ia berlari
sejauh itu, tapi dia berhasil melaju ke base pertama.

Shay tertegun dan membelalakkan matanya. Semua
orang berteriak, "Lari ke base dua, lari ke base dua!"
Sambil menahan napasnya, Shay berlari dengan
canggung ke base dua. Ia terlihat bersinar-sinar dan
bersemangat dalam perjuangannya menuju base dua.

Pada saat Shay menuju base dua, seorang pemain
sayap kanan memegang bola itu di tangannya. Pemain
itu merupakan anak terkecil dalam timnya, dan dia saat
itu mempunyai kesempatan menjadi pahlawan
kemenangan tim untuk pertama kali dalam hidupnya.

Dia dapat dengan mudah melempar bola itu ke penjaga
base dua. Namun pemain ini memahami maksud baik
dari sang pitcher, sehingga dia pun dengan tujuan yang
sama melempar bola itu tinggi ke atas jauh melewati
jangkauan penjaga base ketiga.

Shay berlari menuju base ketiga.
> Semua yang hadir berteriak, "Shay, Shay, Shay,
teruskan perjuanganmu Shay!"

Shay mencapai base ketiga saat seorang pemain
lawan berlari ke arahnya dan memberitahu Shay
arah selanjutnya yang mesti ditempuh. Pada saat
Shay menyelesaikan base ketiga, para pemain dari
kedua tim dan para penonton yang berdiri mulai
berteriak, "Shay, larilah ke home, lari ke home!".

Shay berlari ke home, menginjak balok yg ada,
dan dielu-elukan bak seorang hero yang memenangkan
grand slam. Dia telah memenangkan game untuk timnya.

Hari itu, kenang ayah tersebut dengan air mata yang
berlinangan di wajahnya, para pemain dari kedua tim
telah menghadirkan sebuah cinta yang tulus dan nilai
kemanusiaan kedalam dunia.

Shay tidak dapat bertahan hingga musim panas berikut
dan meninggal musim dingin itu. Sepanjang sisa hidupnya
dia tidak pernah melupakan momen dimana dia telah
menjadi seorang hero, bagaimana dia telah membuat
ayahnya bahagia, dan bagaimana dia telah membuat
ibunya menitikkan air mata bahagia akan sang pahlawan
kecilnya.

Seorang bijak pernah berkata, sebuah masyarakat akan
dinilai dari cara mereka memperlakukan seorang yang
paling tidak beruntung diantara mereka.

Catatan kaki:
Kita sering mengirim ribuan jokes lewat email tanpa pikir
panjang, namun bila kita harus mengirimkan mail tentang
pilihan dalam hidup, kita seringkali ragu. Kejadian-
kejadian vulgar, kasar dan mengerikan acap terjadi
dalam hidup ini,namun pembicaraan tentangnya seolah
tertelan waktu, baik itu di lingkungan pendidikan atau
kerja.

Jika Anda berpikir untuk forward artikel ini,
kemungkinannya Anda akan memilih daftar orang-orang
dari email address Anda yang Anda pikir layak untuk
menerima email Anda. Ingatlah, bahwa orang yang
mengirimi Anda email ini berpikir bahwa kita semua
dapat membuat perbedaan.

Kita semua mempunyai banyak pilihan dalam hidup
setiap harinya untuk dapat memahami "kejadian alami
dalam hidup". Begitu banyak hubungan antar 2 manusia
yang kelihatan remeh, sebenarnya telah meninggalkan

2 pilihan bagi kita:
Apakah kita telah meninggalkan cinta dan kemanusiaan
atau,
Apakah kita telah melewatkan kesempatan untuk berbagi
kasih dengan mereka yang kurang beruntung, yang
menyebabkan hidup ini menjadi dingin?

two choices ..

No comments: